Saturday, January 5, 2008

My Very First (formal) Job Interview

Selama hidup gue, baru kali ini gue interview untuk sebuah pekerjaan dengan cara formal. Sebelumnya gue pernah mengalami interview ‘informal’ dengan Mr. Ham waktu dia mau meng-hire gue untuk jadi guru bahasa indonesianya, dan dengan Mas Teguh, seorang MD dari sebuah advertising agency (atau creative boutique, ya?) waktu mau magang kemarin.

Tawaran interview ini seperti jawaban langsung dari Tuhan, ketika gue berharap bisa menemukan pekerjaan untuk membunuh waktu di siang hari (sebelum kuliah sore harinya). Selama beberapa hari kemarin, kalau baca koran, bagian Job Vacancy adalah bagian ‘favorit’ gue. Meskipun bikin sakit mata (karena tulisannya kecil2 dan singkat2), tapi setiap baca job vacancy, ada sensasi sendiri… pengen banget bisa menemukan kerjaan yang cocok.

Seharian itu gue udah bertekad mau ngerapiin CV untuk dikirimkan ke beberapa perusahaan inceran gue (yang sebenernya ga ada di dalam job vacancy di koran itu). Gue bahkan sempet telpon Meiph, temen gue yang udah kerja, untuk minta cariin kerjaan buat gue.

Tiba-tiba…

Ada telpon masuk di hp gue. Jam 17.44…

Seseorang dari sebuah perusahaan perdagangan internasional, yang mengaku dapet data gue dari kampus, meminta gue untuk datang esok hari jam 10 pagi untuk interview. Huahahahaha….

Gue langsung curig… jangan2 si Heidy di telpon juga nih…

Eh bener! Hohoho…

Setelah mendapat restu dari orang tua kami masing2.. maka jalanlah gue dan Heidy menuju kantor itu untuk di wawancara.

Nothing to lose. Iseng2 berhadiah. Lumayan, buat ngisi liburan.

Itulah kenapa kami memutuskan untuk mencoba interview.

Okay.. setelah ngisi formulir, maka kami menunggu dipanggil. Heidy dipanggil duluan, dan kurang dari lima menit dia sudah kembali.

“Cepet banget dy?!” gue jadi tambah curig. Ini niat nge-hire gak ya? Hohoho…

Lalu gue pun dipanggil.

Begitu dipersilakan duduk, si interviewer bertanya… “Ok. Ada pertanyaan?”

Heh? Oohohohohoho… baiklah kalau kau perlu pertanyaan! “Ng… perusahaan ini sebenernya bergerak di bidang apa ya, Pak?”

Kemudian dia mulai menjelaskan panjang lebar mengenai bursa efek, saham, dan teman2nya…

“Tau kan soal bursa, saham?” tanyanya.

HELLOOOOO…. That’s why I chose communication sciences, Sir! (umpat gue dalam hati)

Gue menggeleng sambil menjawab “enggak”. Lebih baik jujur daripada sok tau.

Lalu dia membuka2 CV dan segala fotokopian pendukungnya.

“Ooh.. umurnya masih 21 ya? Kelihatannya sudah 25” gumamnya

SIALAAAAAAN!!!

Rasanya gue pengen bilang.. “BO!! Ini kan judulnya job interview.. jadi kalo gue keliatan 25 itu pasti efek baju kantor yang super uncomfortable ini!” tapi sayangnya gue urung mengungkapkannya. Trus gue pun rasanya pengen bilang, “Yeah-he! Bapak keliatannya udah 40-an!” tapi lagi2 gue urung.

Lalu dia nanya2 tempat tinggal. Gue bilang di Lebak Bulus. Trus dia nanya lagi… “Lebak Bulus sama Pondok Indah duluan mana ya?”

Gue tertegun. “Yah.. tergantung dari arah mana, Pak!”

“Blok M” katanya.

“Lebak Bulus, kalo lewat fatmawati.”

Iih.. ga penting ya???

Lalu gue ga tau pembicaraan kemana2..pokoknya sampai pada ketika dia berusaha membuat gue memberikan keputusan saat itu juga.

“Mbak udah 50% kami terima. Nanti hari Senin, Selasa, Rabu mba harus ikut training.”

“Jadi keputusan iya-enggaknya harus sekarang, Pak?” tanya gue memastikan.

“Iya,” jawabnya sambil senyum2.

Gue berpikir keras. Sumpah! Gue saat itu menyesal. Gue saat itu merasa kalau gue ambil kesempatan ini, gue akan menjadi ‘orang tua’. Gue akan segera dewasa… bekerja dengan cara yang tidak dinamis, bekerja di dunia yang tidak gue pahami, dan tidak gue senangi…  oh NO!! Meminjam kata2nya John Mayer, “So scared of getting older.. I’m only good at being young…”

“Hm.. kayaknya nggak jadi deh, Pak. Saya khawatir kuliah saya terganggu. Prioritas saya sekarang ini masih kuliah” jawab gue, berusaha menolak dengan cara diplomatis.

Tapi dia teteeep… Dengan bujuk rayu maut… mengumbar senyum… bicara lewat mata… (wah, agak berlebihan nih gue..hoho)..

Membuat gue harus bilang “enggak, Pak. Maaf” berkali2.

Sampai akhirnya dia menyerah… tapi tetep sih, masih bilang “Yah, silakan dipikir2 dulu deh, mba…”

Tapi buat gue, once I made decision, I got to stick to it! Apalagi kalo urusan tadi.. apalagi kalo bener2 ‘nothing to lose’ dari awal.

Lega deh… lega untuk tidak mudah terpancing… lega karena (insya Allah) gue telah membuat keputusan yang baik.

Supaya fair, mari dilihat bagaimana komentar2 orang2 lain (yang lebih tau dan yang sudah terjebak di perusahaan ini...)

Liat sendiri di: http://ryosaeba.wordpress.com/2007/11/03/graha-finesa-dibekukan/

seruu banget... sampe merinding... hahaha....


Eits… gue masih butuh kerjaan nih… masih!

Tapi cuma gue yang tau dimana tempat kerja yang gue pengen. Dan, yang penting… gue sekarang ini cuma butuh kerjaan yang bersifat part-time, yang ringan dan lucu, sehingga nggak mengganggu kuliah tapi juga tetap menghasilkan uang, hehe..

To sum up, I just need a little bit of luck… so, wish me luck!

Libur Apa Ini???

Ah… selalu deh bgini! Tiap liburan pasti ujung2nya dirumah aja, ga jelas juntrungannya.

Bangun-sarapan-nonton-nonton-nonton-makan siang-maen komputer-nonton-mandi sore-nonton-nonton-makan malem-nonton-nonton-dengerin mp3-bengong-bengong-bengong-tidur

Tidak produktif…

Cuma menimbun lemak saja..

Bikin badan yang emang males jadi tambah males…

dan otak jadi tambah bodoh… hohohohohoho…

Payah!

Johnny and The Sprites

Rating:★★★★
Category:Other
You can call me childish by adoring TV shows or movies that obviously made for children, but… whatever…

I loooove…. Them! You name it: Sesame Street, Pocoyo, Finding Nemo, Toys Story, Bear in the Big Blue House, Rollie Ollie Pollie, Doraemon, Hamtaro, Happy Feet, etc..etc…

Then, along came Johnny and The Sprites, which I found so amusing! Hahahahaha…

Ok Ok… let’s talk in my own language, hahaha

Ada beberapa hal yang memancing saya untuk menonton lalu menyukai serial ini…
1. sudah pasti… keberadaan John Tartaglia sebagai Johnny. Siapa yang bisa ‘menolak’ keberadaan cowok ganteng, bisa nyanyi, bisa acting, bisa dance, a warm story-teller, dan baik hati pada anak2...

2. The Sprites are so magical yet so cute! Imajinasi dibawa kemana-mana bersama para peri yang digambarkan seru, pintar, dan tidak berkesan feminin (seperti yang biasa digambarkan dalam dongeng2)

3. setting-nya ‘hijau’ banget… bener2 seperti lagi di taman rindang yang penuh keajaiban, sementara rumahnya Johnny terasa homy banget!

4. lagu2 yang mereka bawakan cukup menyenangkan, nggak norak, dengan lirik yang sederhana dan real.


Basic ceritanya adalah begini… Johnny ini adalah seorang musisi yang tinggal sendiri di rumahnya yang nyamaaaan…banget… (karena itu tadi, dikelilingi taman asri).
Suatu hari dia akhirnya tau bahwa ada sebuah ‘hutan’ di belakang rumahnya. Hutan yang bernama hutan Grotto itu adalah tempat tinggal para sprites (peri), fuzzies (ga jelas nih apaan…kayak buntelan bulu gitu, gemes!), dan makhluk2 ajaib lainnya.
Ga ada manusia lain yang tau (bahkan Gwen, tetangga Johnny) kalau Johnny dan para makhluk2 ajaib dari hutan itu bersahabat.

Tokoh utama disini memang si Johnny, tapi empat peri lucu ini juga jadi andalan… (judulnya aja Johnny and The Sprites! Hehe). Empat peri itu memiliki karakter kepribadian masing2. Ada Lily yang ceritanya ‘keturunan’ Spanyol, ada Basil, ada Ginger, dan ada si kecil Root yang dengan imutnya (karena masih cadel) manggil Johnny dengan sebutan ‘Nonny’, dan Basil dengan ‘Bebe’ hoho.

Seperti serial edukasi bagi anak2 lainnya, Johnny and The Sprites juga sarat akan edukasi mengenai banyak hal. Persahabatan, sosial, kepribadian, ilmu alam, dll.

Gue salut sama John Tartaglia, karena keliatan banget kalau dia berperan dan bekerja keras. Di serial ini dia bukan cuma sebagai actor aja, tapi juga ikut berpartisipasi sebagai co-executive producer dan co-writer. Sebagai seorang singer/dancer/actor/puppeteer/dubber yang cukup pengalaman (pernah jadi Ernie dan Grover di Sesame Street lho!), dia mampu bermain-main dengan jiwa kanak2 yang pas dan menyenangkan… Gue selalu salut dengan para puppeteer!!

Note: Girls, I know… he’s damn so charming, but… sorry… he’s openly gay… (ah… aku kecewa… hoho)

Wednesday, January 2, 2008

My First Home-made Ice Cream

Setiap ada sisa krim kental yang cukup banyak, gue pasti kepikiran terus. Setelah memindahkannya dari kemasannya ke dalam botol kering yang tertutup rapat, krim kental masih bisa bertahan sampe empat hari di dalam kulkas. Kalo udah lewat empat hari, krim kental akan segera basi. Makanya, kalo ada sisa krim kental, gue pasti berusaha cari ide untuk segera memanfaatkannya menjadi makanan lain.

Biasanya ujung2nya bikin fettuccine.. Tapi berhubung pasta fettuccine-nya lagi abis, nggak punya bawang Bombay pula, jadi urunglah niat itu..

Baru2 ini gue dapet dua resep desert yang serupa tapi tak sama..

Ada resep semifreddo, ada resep ice cream sundae…

Karena bahan untuk semifreddo-nya belum ada, dan karena resep ice cream ‘terlihat’ lebih simple, maka dimulailah eksperimen itu…

Ga nyangka… tiba2 gue bisa bikin es krim sendiri… dirumah… bwahahahaha…

Besok2 jadi nggak bingung lagi deh kalo punya sisa krim kental.. hehehe

 

Sundae Coffee Ice Cream

Source: Majalah Sedap Edisi 9/VIII/2007

 

Bahan:

Kuning telur 2 butir

Gula halus 50 gram (kalo resep aslinya sih pake gula pasir… tapi ternyata ga ngaruh juga sih, hehe)

Garam ¼ sdt

Susu cair 100ml (gue saranin jangan pake susu full cream, karena aroma-nya bikin eneg, hehe)

Krim kental 250ml

Gelatin bubuk  1 ½ sdt (dilarutkan dengan air 50ml)

 

Flavor:

Untuk kali ini gue pake rasa kopi, dari 2 sendok the kopi instant (gue pake-nya cappuccino instan)

Bisa juga bikin flavor yang lain, kayak coklat (dari coklat bubuk), strawberry (dari strawberry jam), atau vanilla (dari vanilla essence).. terserah.. sesuka hati aja..

 

Cara:

1. Kocok krim kental sampai mengembang, terus dinginkan.. (biar cepet dingin, taro di freezer aja)

2. Rebus susu cair dan kopi instan (atau pilihan campuran untuk flavor lainnya) sampai larut

3.  Tambahkan gelatin yang udah larut, aduk rata.

4. Kocok kuning telur+gula+garam diatas air panas sampe kental.. (proses ini kayak proses nge-tim..)

5. Angkat campuran telur+gula+garam, masukkan kedalam campuran susu. Kocok rata, biarkan hangat

6. Tuang adonan diatas ka dalam krim kental sedikit2 sambil diaduk perlahan (pake spatula aja)

7. Bekukan adonan di dalam freezer selama ± 2jam.

8. Siap disajikan, dengan topping sesuai selera.

Sayang sekali, kali ini Ari nggak bisa nyicipin es krim ini karena lagi sakit.. jadi besokkannya jatah Ari gue sulap menjadi Cappuccino Float with Extra Choco Chips…

Whuaaah! Nampol tenan!