Selama hidup gue, baru kali ini gue interview untuk sebuah pekerjaan dengan cara formal. Sebelumnya gue pernah mengalami interview ‘informal’ dengan Mr. Ham waktu dia mau meng-hire gue untuk jadi guru bahasa indonesianya, dan dengan Mas Teguh, seorang MD dari sebuah advertising agency (atau creative boutique, ya?) waktu mau magang kemarin.
Tawaran interview ini seperti jawaban langsung dari Tuhan, ketika gue berharap bisa menemukan pekerjaan untuk membunuh waktu di siang hari (sebelum kuliah sore harinya). Selama beberapa hari kemarin, kalau baca koran, bagian Job Vacancy adalah bagian ‘favorit’ gue. Meskipun bikin sakit mata (karena tulisannya kecil2 dan singkat2), tapi setiap baca job vacancy, ada sensasi sendiri… pengen banget bisa menemukan kerjaan yang cocok.
Seharian itu gue udah bertekad mau ngerapiin CV untuk dikirimkan ke beberapa perusahaan inceran gue (yang sebenernya ga ada di dalam job vacancy di koran itu). Gue bahkan sempet telpon Meiph, temen gue yang udah kerja, untuk minta cariin kerjaan buat gue.
Tiba-tiba…
Ada telpon masuk di hp gue. Jam 17.44…
Seseorang dari sebuah perusahaan perdagangan internasional, yang mengaku dapet data gue dari kampus, meminta gue untuk datang esok hari jam 10 pagi untuk interview. Huahahahaha….
Gue langsung curig… jangan2 si Heidy di telpon juga nih…
Eh bener! Hohoho…
Setelah mendapat restu dari orang tua kami masing2.. maka jalanlah gue dan Heidy menuju kantor itu untuk di wawancara.
Nothing to lose. Iseng2 berhadiah. Lumayan, buat ngisi liburan.
Itulah kenapa kami memutuskan untuk mencoba interview.
Okay.. setelah ngisi formulir, maka kami menunggu dipanggil. Heidy dipanggil duluan, dan kurang dari lima menit dia sudah kembali.
“Cepet banget dy?!” gue jadi tambah curig. Ini niat nge-hire gak ya? Hohoho…
Lalu gue pun dipanggil.
Begitu dipersilakan duduk, si interviewer bertanya… “Ok. Ada pertanyaan?”
Heh? Oohohohohoho… baiklah kalau kau perlu pertanyaan! “Ng… perusahaan ini sebenernya bergerak di bidang apa ya, Pak?”
Kemudian dia mulai menjelaskan panjang lebar mengenai bursa efek, saham, dan teman2nya…
“Tau kan soal bursa, saham?” tanyanya.
HELLOOOOO…. That’s why I chose communication sciences, Sir! (umpat gue dalam hati)
Gue menggeleng sambil menjawab “enggak”. Lebih baik jujur daripada sok tau.
Lalu dia membuka2 CV dan segala fotokopian pendukungnya.
“Ooh.. umurnya masih 21 ya? Kelihatannya sudah 25” gumamnya
SIALAAAAAAN!!!
Rasanya gue pengen bilang.. “BO!! Ini kan judulnya job interview.. jadi kalo gue keliatan 25 itu pasti efek baju kantor yang super uncomfortable ini!” tapi sayangnya gue urung mengungkapkannya. Trus gue pun rasanya pengen bilang, “Yeah-he! Bapak keliatannya udah 40-an!” tapi lagi2 gue urung.
Lalu dia nanya2 tempat tinggal. Gue bilang di Lebak Bulus. Trus dia nanya lagi… “Lebak Bulus sama Pondok Indah duluan mana ya?”
Gue tertegun. “Yah.. tergantung dari arah mana, Pak!”
“Blok M” katanya.
“Lebak Bulus, kalo lewat fatmawati.”
Iih.. ga penting ya???
Lalu gue ga tau pembicaraan kemana2..pokoknya sampai pada ketika dia berusaha membuat gue memberikan keputusan saat itu juga.
“Mbak udah 50% kami terima. Nanti hari Senin, Selasa, Rabu mba harus ikut training.”
“Jadi keputusan iya-enggaknya harus sekarang, Pak?” tanya gue memastikan.
“Iya,” jawabnya sambil senyum2.
Gue berpikir keras. Sumpah! Gue saat itu menyesal. Gue saat itu merasa kalau gue ambil kesempatan ini, gue akan menjadi ‘orang tua’. Gue akan segera dewasa… bekerja dengan cara yang tidak dinamis, bekerja di dunia yang tidak gue pahami, dan tidak gue senangi… oh NO!! Meminjam kata2nya John Mayer, “So scared of getting older.. I’m only good at being young…”
“Hm.. kayaknya nggak jadi deh, Pak. Saya khawatir kuliah saya terganggu. Prioritas saya sekarang ini masih kuliah” jawab gue, berusaha menolak dengan cara diplomatis.
Tapi dia teteeep… Dengan bujuk rayu maut… mengumbar senyum… bicara lewat mata… (wah, agak berlebihan nih gue..hoho)..
Membuat gue harus bilang “enggak, Pak. Maaf” berkali2.
Sampai akhirnya dia menyerah… tapi tetep sih, masih bilang “Yah, silakan dipikir2 dulu deh, mba…”
Tapi buat gue, once I made decision, I got to stick to it! Apalagi kalo urusan tadi.. apalagi kalo bener2 ‘nothing to lose’ dari awal.
Lega deh… lega untuk tidak mudah terpancing… lega karena (insya Allah) gue telah membuat keputusan yang baik.
Supaya fair, mari dilihat bagaimana komentar2 orang2 lain (yang lebih tau dan yang sudah terjebak di perusahaan ini...)
Liat sendiri di: http://ryosaeba.wordpress.com/2007/11/03/graha-finesa-dibekukan/
seruu banget... sampe merinding... hahaha....
Eits… gue masih butuh kerjaan nih… masih!
Tapi cuma gue yang tau dimana tempat kerja yang gue pengen. Dan, yang penting… gue sekarang ini cuma butuh kerjaan yang bersifat part-time, yang ringan dan lucu, sehingga nggak mengganggu kuliah tapi juga tetap menghasilkan uang, hehe..
To sum up, I just need a little bit of luck… so, wish me luck!