Monday, September 21, 2009

Kakek dan Nenek

Bukan karena baru saja melewati lebaran bersama kakek dan nenek lantas langsung terinspirasi untuk menulis tentang mereka. Sudah lama aku ingin menulis tentang peran kakek nenek, terutama kakek-nenekku, di blog ini. Tapi, momen yang tepat memang baru datang saat ini.

Di hidupku, aku beruntung memiliki bukan hanya dua pasang kakek dan nenek, tetapi tiga pasang kakek nenek yang, tentu saja, sangat kusayangi. Pasangan kakek-nenekku yang pertama adalah orang tua dari ibu. Mereka kupanggil Ompung hanya karena mereka berdarah batak, hehe. Aku memang paling dekat dengan kedua Ompung yang alhamdulillah masih ada dua-duanya. Ompung lak-laki kami panggil Ompung Raja. Beliau adalah sosok besar bagiku. Seingatku, saat kecil dulu, aku justru jarang berinteraksi dengannya. Justru setelah aku beranjak dewasa dan ketika beliau sembuh dari sakitnya, kami justru banyak berinteraksi.

Ompung Raja, melalui cerita-cerita yang sering dikisahkan oleh ibu, telah banyak memberikanku banyak inspirasi, motivasi, dan kekuatan dalam menjalani kehidupan. Beliau adalah panutanku. Beberapa minggu yang lalu, lewat ibu, beliau mengucapkan kata-kata yang sangat mengharukan bagiku ketika ibu mengabarkan kabar kami, para cucu-cucunya.

"Cacha? Oh, iya.. saya kenal dia. Dia teman saya." Begitu katanya :' )

Ompung perempuan kami panggil Ompung Mama. Beberapa adik-adik sepupu saya memanggilnya Ompung Mami, biar lebih manis katanya :) Ompung Mama adalah sosok ibu yang kuat dan pejuang bagi keluarganya. Beliau selalu bisa menemukan kebahagiaan dalam hidupnya. Bukan artinya beliau tidak pernah mendapat musibah, bukan. Justru beliau menunjukkan kekuatannya dalam menghadapi cobaan dalam hidup dengan cara tetap bahagia. Aku belajar untuk selalu berbahagia darinya.

Pasangan kakek nenek yang kedua adalah orang tua ayahku. Kakek yang kami panggil Opa sudah lama meninggalkan kami. Beliau punya caranya sendiri dalam mengekspresikan rasa sayang pada cucu-cucunya. Beliau sangat jail dan suka membuat cucu-cucunya menangis karena ledekannya. Aku ingat betul bagaimana beliau suka menggangguku. Aku tidak marah, meski menangis sejadi-jadinya. Aku sayang Opa, dan aku ingat pelajaran terakhir yang sempat beliau bagi tepat beberapa jam sebelum beliau pergi untuk selamanya. Opa bilang, "tidak ada pelajaran di dunia ini yang tidak ada gunanya." Sederhana, tetapi benar adanya. Sehingga, setiap kali aku merasa putus asa dalam mempelajari sesuatu, ketika aku rasanya ingin sekali berhenti belajar, aku ingat kata-katanya.

Nenek dari ayah kami panggil dengan sebutan Oma. Oma sangat pintar masak. Rendang limpanya nomor satu, dan akan selalu kurindukan tiap lebaran datang. Oma pendiam, dan anggun. Terampil dan rapi dalam melakukan banyak hal, terutama yang berkaitan dengan urusan masak-memasak. Menurut ayah, Oma itu galak. Menurutku, Oma itu sangat anggun.

Pasangan kakek nenek yang ketiga adalah pasangan om dan tante dari pihak ayah. Kami sangat dekat karena saya dan abang saya menghabiskan masa kecil disekitar mereka. Rumah kami dulu berdekatan. Kami berdua sering dititipkan di sana. Kakek dan nenek kami ini kami panggil Opa dan Oma Tante Titin, karena anak mereka salah satunya bernama Titin. Kami memanggilnya Tante Titin :P Aku dan abang benar-benar menghabiskan masa kecil di sana, di rumah mereka yang selalu kami rindukan. Oma dan Opa ikut mengurus kami layaknya cucu sendiri. Bagi anak-anak mereka, Tante Titin dan Tante Ade, kami seperti mainan mereka. Jika saatnya kami pulang, kami pasti sudah rapi. Sudah makan dan mandi. Aku sudah didandani lengkap dengan jepit-jepit lucu hasil karya para Tante muda.

Beberapa tahun yang lalu, Oma Tante Titin meninggal dunia. Kami, terutama aku dan abang sedih luar biasa. Tapi hal tersebut tidak menjadikan kami berhenti mengunjungi mereka setiap idul fitri. Rumah mereka adalah salah satu destinasi wajib kunjung, dan semuanya masih terasa sama. Aroma rumahnya, hembusan kipas angin di ruang makan, dan suara burung kakak tua dari halaman belakang. Itu adalah rumah persinggahan, rumah tempat menghabiskan sebagian masa kecilku.

Aku mencintai para kakek dan nenek ini. Mereka, dengan caranya masing-masing, telah mendidik dan membentukku menjadi seperti ini. Mereka mencintai para cucu tanpa syarat sehingga kami mendapatkan kasih sayang yang utuh dan hangat. Sedikit berbeda dari apa yang kami dapat dari orang tua. Setiap ingat mereka, baik yang masih bersama kami di sini maupun yang sudah tiada, hati terasa hangat. Bagaimanapun aku selalu ingin mengingat dan menyayangi mereka. Semoga Allah selalu menjaga mereka.

:)

Monday, September 14, 2009

Satu Setan Luput dari Belenggu

Perhatian: blog entry ini mengandung amarah dan sangat segmented. Setannya harus dikeluarin dari hati, supaya ga makin rusak.




Kampreeeeeetttttttt!!!

Bocah ingusaaaaan!!!

Lo laki bukaaaan?!?!?!

Nyelaaaaa mulu!!!

Lo tau ga?

Makin dicela, gue makin tertantang?!?!?!

Liat nanti lo bakal makin sirik sama gue!!!

Nyahahahahahahaha....

Ja, you know nothing about me, so shut up! *I hate you. I mean it.*

Wednesday, September 9, 2009

Mr. Bourdain

Ever since I saw him on television, I knew I was already a big fan. I would be very happy to spend a whole day sitting on a couch and just listening to his words.

Anthony Bourdain is not a man of few words. He talks A LOT! His honest way of talking might be a little bit offensive sometimes, but in a strange way, pleases my ears. :P

I looooove the way he arranges words... I think he could be a great copywriter, seriously! He will let you know why you should try to eat a simple meal like Babi Guling (No Reservations: in Bali) not by saying "It's delicious".. He has his own way.

"I need this stuff now. I'm not happy without it. Well... a part of me would like to stay here eat pig until I lose consciousness, but there's a lot more to do and see."


One of my personal favorite episodes of No Reservations is when he sent back to his kitchen because an unknown guy sent him an email questioning his cooking ability. Then  he went  back to his French style restaurant in New York City where he last worked as an executive chef for nearly a decade, Brasserie Les Halles. He seemed like he's too old to do stuff like reading a small piece of ticket. He moaned every time he got to kneel down to grab ingredients out of a dark low fridge. But he admitted it by saying: "I'm a cook with special needs tonight".

Despite the kitchen managerial complexity which felt different then when he was younger,  It's proven that he's not just a randomly selected host, traveling the world, eating and drinking and giving away any possible opinions. He knows his stuff very well. He is a chef.

Whatever he is... a traveler, a writer, a chef... I'm a big fan. Enough said.



Image source: timeoutsydney.com

Tuesday, September 8, 2009

Parcel, KPK, dan Tuhan

Coba baca ini

Kalimat salah seorang pedagang membuat saya malu, sedih, dan gemessssss...

"Saya ingin pertanggungjawaban dari KPK. Apa solusinya, kita kan untungnya jadi tipis. Di sini ada larangan, pengusaha sendiri yang merasa kesulitan."

Yang satu ini juga membuat saya menghela nafas panjang...

"Kalau parsel mereka hanya perlu mengeluarkan uang Rp500 ribuan. Jadi karena enggak boleh parsel, mereka kasihnya amplop yang jumlahnya lebih besar dari beli parsel,"

Meski masih sangat amatir, saya juga pedagang. Saya juga sedang berusaha meraih untung di hari raya dengan cara menjual kue untuk hantaran. Tapi saya anti korupsi. Lebih baik omzet saya turun dibandingkan mengetahui bahwa barang dagangan saya dibeli sebagai sogokan.

Saya punya prinsip, orang berdagang itu harus untung. Kalau tidak ada untung, bagaimana perekonomian bisa maju? Tetapi cara-cara meraih keuntungan itu kan ada aturannya.

Lagipula, apa mereka tidak sadar.. bahwa praktek korupsi itu sesungguhnya menggerogoti kesejahteraan kita semua... termasuk pedagang yang mengeluh itu.

Kalau sekarang penjualan parcel menurun karena mereka takut KPK, saya sedih. Wong parcel-nya diganti jadi amplop! Sama saja!! Semoga di tahun-tahun yang akan datang, mereka takutnya pada Tuhan. Dan biar bagaimanapun, KPK harus tetap jadi 'pengawas' yang galak, jujur, dan berwibawa.

Sumber berita diambil dari http://news.id.msn.com/local/okezone/article.aspx?cp-documentid=3572703

Sunday, September 6, 2009

Emangnya salah???

Jakarta, 7 September 2009 Pk. 01:06

Ga bisa tidur tiba-tiba ditangkep copywriter kelimpungan..

astranights: lo doyan coklat nniss?
nnisa: he-eh
astranights: kalo ada hujan coklat what would you do?
nnisa: mangap
nnisa: :))
astranights: dodol
astranights: Megasuperdodol
nnisa: lagian!
astranights: extrasizedodol
nnisa: emang kalo lo mau ngapain??
astranights: nonton elu mangap aja
nnisa: nice
nnisa: =D>

Eh.. emang salah ya??

Coba.. kalo kalian..
Kalo bener2 ada ujan coklat di luar sana.. apa yang akan kalian lakukan?