Sebelumnya, saya akan menegaskan bahwa apa yang saya tulis adalah hasil pengalaman sendiri. Tidak tertutup kemungkinan, ketidakakuratan yang terjadi adalah kesalahan dan kekurangpengetahuan saya sendiri. Tapi, semua ini sebenarnya bisa tidak terjadi jika... (nah ‘jika’ ini yang akan dibahas disini.. hehe)
Oke..
Setelah camp itu, sudah lima kali teman-teman kami dari beberapa negara berkunjung ke Indonesia. Empat diantaranya benar-benar bertemu kembali dengan kami, dan meninggalkan kenangan reunian yang manis.
Kunjungan mereka itu seringkali menimbulkan sensasi ‘mati gaya’ lantaran bingung harus membawa mereka jalan-jalan kemana. Tidak perlu terlalu jauh menawarkan tempat wisata seperti di Bali, Jogja, dll.. Karena justru karena mereka hanya tinggal di Jakarta saja yang membuat kami buntu ide.
“Apa ada tempat di Jakarta yang patut saya kunjungi?” Begitu pertanyaan Yohan dari Korea ketika saya sedang mengkonfirmasikan kedatangannya lewat instant messanger.
O’ow...
Saya tak lantas menjawabnya.
“Hm... Jakarta itu kota besar. Seperti Seoul, kota metropolitan.” Jawaban saya cukup memberikan waktu tambahan bagi saya untuk berpikir akan dibawa kemana dia kalau tinggal di Jakarta?!
“Banyak shopping mall, tapi ada beberapa tempat yang bisa kamu kunjungi. Tergantung, kamu tertarik pada apa? Seni? Sejarah? Wisata belanja tradisional? Outdoor activity? Atau hiburan?”
“Apa saja. Aku tinggal mengikuti kalian saja,” jawabnya.
Jawaban yang suliiiiit.... hehehehe...
Kenapa kebuntuan ini selalu terjadi pada momen seperti ini? Kalau sedang tidak dipikirkan, sedang tidak menyambut seseorang, saya pernah menemukan beberapa tempat yang menurut saya cukup menarik sebagai tempat wisata. Tetapi kebuntuan ini berulang-ulang terjadi dikala waktu berpikir dan waktu untuk survey begitu sempit.
Coba disebut saja: monas? Museum gajah? Segala museum akan tetap membosankan bagi sebagian orang yang tidak benar-benar tertarik dengan sejarah.
Ketidaktahuan saya ini sebenarnya memicu diri sendiri untuk lebih menjelajah Indonesia, minimal Jakarta. Selama ini saya memang tidak jauh-jauh dari mal dan tempat hiburan ala kota metropolitan. Tempat wisata yang saya harap bisa sangat representatif justru jauh dari ingatan saya.
Satu tempat yang selalu saya rekomendasikan (meski saya sendiri belum pernah mengunjunginya) adalah Kampung Betawi Setu Babakan. Dengar-dengar, disana kita benar-benar bisa melihat bagaimana orang-orang betawi hidup dalam perkampungan. Katanya lagi, sering ada pertunjukkan tarian daerah, dan upacara perkawinan adat Betawi. Begitukah? Saya juga jadi penasaran dan ingin segera membuktikannya. Kalau memang ternyata begitu adanya, maka maksud saya adalah... Jakarta ini semakin butuh tempat-tempat macam itu. Kenapa kita sepertinya semakin jauh dari akar budaya sendiri, dan malah berlari terengah-engah mengejar modernitas yang monoton?
Tetapi, kembali ke masalah utama, kemana kita harus membawa tamu asing jika mereka berkunjung ke Jakarta?
Kalau mereka berkunjung diantara bulan Juni sampai dengan Agustus, saya masih bisa memasukkan beberapa festival yang dapat menjadi alternatif tempat kunjungan. Jakarta Fair, Festival Kemang, Festival Jalan Jaksa, dan sampai-sampai festival yang diadakan produsen kecap pun saya masukkan dalam agenda. Tapi, bagaimana kalau diluar bulan-bulan tersebut?
Sampai sekarang pun saya masih belum punya daftar tempat wisata yang (menurut saya) dapat memenuhi kriteria, hehe. Kriteria? Hehehe.. iya, saya membuat kriteria sendiri untuk tempat wisata. Pokoknya harus representatif (alias Indonesiaaaaaa banget!), positif (jadi jangan biarkan dia cuma inget macet, polusi, dan anak jalanannya Jakarta aja), dan sesuai dengan karakter tiap tamu yang berkunjung (misalnya, adventurous, atau artistic, dll).
Jadi? Saya lantas bertanya-tanya... kampanye “Enjoy Jakarta” itu sebenarnya ingin mengkomunikasikan apa? Bagian mananya Jakarta yang bisa dinikmati? Kok bisa masih banyak orang Jakarta (seperti saya) yang ‘mati gaya’ jika ditanya-tanya tentang tempat wisata di Jakarta?
Salahkan saya. Salahkan kami semua. Yeah, kita bersalah.
Tapi, yang jadi komunikatornya kan kalian... kalau pesannya tidak sampai, masih mau meneruskan? Lebih baik dirapikan semuanya dulu aja kali, yaaa... hihi..
Mari... silakan dinikmati Jakartanya...