Tuesday, August 19, 2008

Enjoy jakarta??

Sebelumnya, saya akan menegaskan bahwa apa yang saya tulis adalah hasil pengalaman sendiri. Tidak tertutup kemungkinan, ketidakakuratan yang terjadi adalah kesalahan dan kekurangpengetahuan saya sendiri. Tapi, semua ini sebenarnya bisa tidak terjadi jika... (nah ‘jika’ ini yang akan dibahas disini.. hehe)

Oke..

Setelah camp itu, sudah lima kali teman-teman kami dari beberapa negara berkunjung ke Indonesia. Empat diantaranya benar-benar bertemu kembali dengan kami, dan meninggalkan kenangan reunian yang manis.

Kunjungan mereka itu seringkali menimbulkan sensasi ‘mati gaya’ lantaran bingung harus membawa mereka jalan-jalan kemana. Tidak perlu terlalu jauh menawarkan tempat wisata seperti di Bali, Jogja, dll.. Karena justru karena mereka hanya tinggal di Jakarta saja yang membuat kami buntu ide.

“Apa ada tempat di Jakarta yang patut saya kunjungi?” Begitu pertanyaan Yohan dari Korea ketika saya sedang mengkonfirmasikan kedatangannya lewat instant messanger.

O’ow...

Saya tak lantas menjawabnya.

“Hm... Jakarta itu kota besar. Seperti Seoul, kota metropolitan.” Jawaban saya cukup memberikan waktu tambahan bagi saya untuk berpikir akan dibawa kemana dia kalau tinggal di Jakarta?!

“Banyak shopping mall, tapi ada beberapa tempat yang bisa kamu kunjungi. Tergantung, kamu tertarik pada apa? Seni? Sejarah? Wisata belanja tradisional? Outdoor activity? Atau hiburan?”

“Apa saja. Aku tinggal mengikuti kalian saja,” jawabnya.

Jawaban yang suliiiiit.... hehehehe...

Kenapa kebuntuan ini selalu terjadi pada momen seperti ini? Kalau sedang tidak dipikirkan, sedang tidak menyambut seseorang, saya pernah menemukan beberapa tempat yang menurut saya cukup menarik sebagai tempat wisata. Tetapi kebuntuan ini berulang-ulang terjadi dikala waktu berpikir dan waktu untuk survey begitu sempit.

Coba disebut saja: monas? Museum gajah? Segala museum akan tetap membosankan bagi sebagian orang yang tidak benar-benar tertarik dengan sejarah.

Ketidaktahuan saya ini sebenarnya memicu diri sendiri untuk lebih menjelajah Indonesia, minimal Jakarta. Selama ini saya memang tidak jauh-jauh dari mal dan tempat hiburan ala kota metropolitan. Tempat wisata yang saya harap bisa sangat representatif justru jauh dari ingatan saya.

Satu tempat yang selalu saya rekomendasikan (meski saya sendiri belum pernah mengunjunginya) adalah Kampung Betawi Setu Babakan. Dengar-dengar, disana kita benar-benar bisa melihat bagaimana orang-orang betawi hidup dalam perkampungan. Katanya lagi, sering ada pertunjukkan tarian daerah, dan upacara perkawinan adat Betawi. Begitukah? Saya juga jadi penasaran dan ingin segera membuktikannya. Kalau memang ternyata begitu adanya, maka maksud saya adalah... Jakarta ini semakin butuh tempat-tempat macam itu. Kenapa kita sepertinya semakin jauh dari akar budaya sendiri, dan malah berlari terengah-engah mengejar modernitas yang monoton?

Tetapi, kembali ke masalah utama, kemana kita harus membawa tamu asing jika mereka berkunjung ke Jakarta?

Kalau mereka berkunjung diantara bulan Juni sampai dengan Agustus, saya masih bisa memasukkan beberapa festival yang dapat menjadi alternatif tempat kunjungan. Jakarta Fair, Festival Kemang, Festival Jalan Jaksa, dan sampai-sampai festival yang diadakan produsen kecap pun saya masukkan dalam agenda. Tapi, bagaimana kalau diluar bulan-bulan tersebut?

Sampai sekarang pun saya masih belum punya daftar tempat wisata yang (menurut saya) dapat memenuhi kriteria, hehe. Kriteria? Hehehe.. iya, saya membuat kriteria sendiri untuk tempat wisata. Pokoknya harus representatif (alias Indonesiaaaaaa banget!), positif (jadi jangan biarkan dia cuma inget macet, polusi, dan anak jalanannya Jakarta aja), dan sesuai dengan karakter tiap tamu yang berkunjung (misalnya, adventurous, atau artistic, dll).

Jadi? Saya lantas bertanya-tanya... kampanye “Enjoy Jakarta” itu sebenarnya ingin mengkomunikasikan apa? Bagian mananya Jakarta yang bisa dinikmati? Kok bisa masih banyak orang Jakarta (seperti saya) yang ‘mati gaya’ jika ditanya-tanya tentang tempat wisata di Jakarta?

Salahkan saya. Salahkan kami semua. Yeah, kita bersalah.

Tapi, yang jadi komunikatornya kan kalian... kalau pesannya tidak sampai, masih mau meneruskan? Lebih baik dirapikan semuanya dulu aja kali, yaaa... hihi..

Mari... silakan dinikmati Jakartanya...

Yohan's diary: day 3

Sebelumnya udah diatur bahwa hari ini akan berangkat lebih pagi supaya punya waktu banyak buat belanja, lalu ke UI. Tapi ternyata ada masalah dengan tiket Yohan dari Manila ke Iloilo Island. Jadinya, gue, Sandra, dan Ogi yang menjemput Yohan dan Rio di rumah Rio.

Berangkat dari rumah Rio jam 1, makan dulu di restonya Sandra: Illena Fried Chicken (Yohan terkesan berat sama resto-nya Sandra. Katanya lebih enak dari KFC!! Dan dia juga terkesan sama jus alpukat hehe) Lalu berangkatlah kami ke Blok M.

Di Blok M kami menemaninya belanja. Mungkin dia ga nyaman diikutin gitu, hehehe.. jadi dia minta ditinggal aja sendiri, dan kami menunggunya di tempat masuk, di KFC. Dengan bekal hp esia gue, berangkatlah dia berbelanja sendirian. Jujur deh, gue agak degdegan melepas Yohan belanja sendirian. Mengingat dia parno sama kriminalitas di Jakarta (sejak kenalan di Korea aja dia udah bahas copet-copet Jakarta hahaha).

Meskipun udah dikasih 1 jam, ternyata dia kembali dengan hanya menenteng t shirt. Dia bilang dia butuh 30 menit lagi, yaitu sampe jam 5. Gue makin deg2an, mengingat gue perlu ke kampus untuk isi KRS dan konsultasi PA. Jam 5 dia balik dengan membawa celana. Dan dia belum beli topi, jadi perlu 15 menit lagi.. NOOOO!!

Dari Blok M ke Depok, jam 6 macet berat!! Takut ga sempet, gue memutuskan untuk ga ke UI dengan penuh harap supaya besok masih boleh PA. Jadilah kami menuju Taman Menteng, untuk solat magrib dan foto-foto. Sebelumnya Yohan minta ditelponin anak-anak lain yang ga bisa dateng. Mulai dari situ mungkin suasana hatinya mulai berubah melodramatis meski dia berusaha sekuatnya untuk bisa menahan.

Selagi Ogi dan Rio solat, Yohan duduk bersama gue dan Sandra di pinggir kolam. Gue meminta Yohan ngomong sesuatu buat gue dalam bahasa Korea dan gue rekam di kamera. Setelah direkam, ada keheningnan yang janggal diantara kami. Sementara Sandra sibuk dengan hpnya, Yohan terlihat canggung. Meski pencahayaan tidak terang, tapi gue bisa melihat matanya berkaca-kaca. Terasa, betapa dia sulit menahan perasaannya. Begitu juga gue. Sok mengalihkan perhatian ke kamera, tapi sebenernya tenggorokan ini tercekat. Mata juga makin perih. Kemudian terdengar Yohan bergumam, menyanyi pelan dengan kepala menunduk. “it’s ok… don’t worry, be happy…” . *coba tanya Sandra deh kalo ga percaya!hehehe*

Oh OPPA!!!!! :””/

Tak lama Ogi dan Rio kembali. Gantian, saatnya gue dan Sandra yang solat. Di kamar mandi, gue ga tahan… nangis deeeh.. hihihi.. *mustinya di airport aja nih nangisnya! Hoho*

Agak mengejutkan juga sih melihat reaksi Yohan. Karena dulu, ketika kami berpisah 2 tahun yang lalu, gue termasuk paling sedih berpisah dengannya. Tapi waktu itu dia dengan tenangnya bilang gini, “No, don’t be sad. We’ll meet eachother again, someday. Don’t say goodbye. I’ll see you soon..”

Waktu dia bilang gitu, gue sempet dongkol juga. Bisa jadi Yohan sangat positif, bisa juga skeptis, atau bahkan dia ga punya ‘rasa’ apa2 dengan hubungan persahabatan kami selama di camp itu.

Dari taman menteng, Ogi membawa kami ke Tebet untuk makan di Bebek Ginyo. Kali ini Yohan bersikeras mentraktir kami karena selama ini dia selalu ditraktir. Semuanya 125.000 sementara dia mengeluarkan 100.000, jadi tetep gue sodorin 50.000 ke mba kasir. Tapi Yohan ga ngeh. Dia menepis tangan gue, katanya “No,no… “ Lalu mbaknya bilang, “not enough” baru deh dia ngerti. Tapi dia malah ngasih sisa ribuannya ke buat gue, hehe.. Mungkin dia pikir, dalam beberapa jam lagi uang rupiahnya ga berguna lagi buat dia, hehe.

Dari Ginyo, jalan sedikit ke DLoops. Dia antusias banget waktu dikasih tau kalau ini tempat yang hip bagi anak muda untuk cari baju. Sayang, kemeja putih incerannya udah diambil orang. Alhasil, sampai toko mau tutup, dia ga jadi beli apa2.

Langsung menuju bandara. Selama perjalanan Yohan tidur. Liat Yohan tidur duduk bagi gue serasa nostalgia di bus nomor 7 dua tahun yang lalu. Selalu, kalo nengok ke kanan, dia pasti lagi tidur duduk yang super rapi itu, hehehe.

 Begitu sampe, lagi-lagi momen canggung. Setelah foto-foto, ngobrol sebentar, lalu kami memutuskan untuk memberi kenang-kenangan yang kami beli di PIM.  Matanya berbinar-binar, terharu. Sebelum berajak dari kursi tunggu, dia sempat memberi nasehat. Dia bilang, “kalian harus baik-baik dengan pacar kalian masing-masing.” Gitu… uhuhuhuhu… Ga tau nih kenapa si Mas Yohan bgitu perhatian dengan hubungan percintaan kami  semua! Hahahaa.

Menanggapi nasehatnya, kami tertawa-tawa. Kemudian dia bilang, “yeah, because each one of you has boyfriend and girlfriend…” Meski kalimatnya gantung, tapi kayaknya gue bisa deh ngelanjutin kata-katanya… “sementara gue sama sekali blum pernah punya pacar!!” hehehehe… ngasal aja sih..

Rio juga bales bilang, “Yo, don’t be too shy!” hehehe.. Dan dia hanya mengangguk-angguk tersenyum aja mendengar nasehat dari Rio. *Soalnya nih, menurut pengakuannya Yohan sendiri, dia belum pernah punya pacar, karena dia ga bisa gampang deketin cewe, hihi*

Sebelum pisah, Ogi bilang, “I’ll see you in the future.” Trus Yohan bilang, “future? Hmm.. I think I’ll be married in the future, hhehehehe”. Hyah!

Kami lalu bangkit dari kursi. Yohan menyalami kami semua dan mengucap terimakasih dengan terbata-bata. Perjalanan dari kursi menuju pintu sungguh berat. Yohan berjalan disamping gue dan Sandra. Gue lalu bilang, “it’s hard, you know. For me.. to see you go.. to say goodbye…” Yohan cuma menatap sambil senyum tipis. Sial.. bisa nangis nih sebentar lagi.

Lalu dia masuk. Kami tetap berdiri di luar, terpisahkan dengan tembok kaca. Dari dalam Yohan mengambil foto kami sekali lagi, ketika sedang melambaikan tangan padanya.

안녕히가세요…” ucapku.

Ugh.. mata perih, padahal masih ingin melihat dia berjalan..

Perih..

Tenggorokan, mata, hati..

 

요한 오빠

만나서 정말 x100 반가웠어요..

너무  보고싶을꺼야.

정밀 잘해주고 싶었는데 막상 못한 같아서, 미안해요

 

Super Special Thanks To Ogi, Rio, dan Sandra… atas kerelaanya membantu kami mengurus Yohan. Ogi, yang sudah membawa kami kemana-mana, Rio yang sudah menerima Yohan tinggal selama 2malam dirumahnya, Sandra yang menemaniku dan yang membawa Rio dan Ogi ikutserta dalam urusan ini.

Ogi dan Rio pasti langsung masuk dalam daftar Yohan’s favorite friends from Indonesia!! Hhehehehe…

Buat temen2 Binal Family, terimakasih juga yaa.. tapi alangkah lebih baiknya kalau lain kali bisa jauuuuh… lebih pengertian dan peduli ketika ada teman kita yang datang berkunjung.

*curhat mode: ON!!*

Yohan's diary: day 2

Hari itu rencananya mau ajak Yohan jalan-jalan ke Kota. Tapi, karena dia bangun kesiangan, jadilah kita ke Monas aja.

Yohan terlihat cukup antusias. Di monas ketemu si kembar Nakula dan Sadewa, artis cilik. Begitu tau kalo mereka artis, Yohan penasaran. Dia kepengen foto bareng! Hahahaha…

Yohan bingung, kenapa disini fans ga seheboh fans di sana kalo liat ada artis di dekat mereka. Yohan cerita, di Korea bisa heboh kalo ada artis di tempat umum. Beda banget dengan disini yang cenderung jaim, atau cuma menoleh sekilas, sekadar tau, hehehe..

Makin lama di monas, makin bosen juga. Hoh.. mana panas banget, dan sinar matahari terik bukan main. Oia, di mobil Yohan mencicipi pisang goreng yang dibawain mama. Dia suka, enak katanya. Sekali makan langsung dua.. hehe

Sebenernya Yohan pengen belanja, dia dari kemaren udah pengen beli celana sarung seperti yang dipakai teman kami dari Thai. Sebelum ke Jakarta, Yohan terlebih dulu ke China dan Singapura. Di dua tempat itu dia udah liat ada sarung macam itu tapi urung dibeli karena berharap di Jakarta ada dan lebih murah.

Tapi dasar ga ngerti maunya tamu, hehehe… *abis dia cenderung pendiam sih, hehe* kami malah membawanya ke PIM. Disana ketemu Jaja, dan kami makan siang disana. Yohan masih kenyang, jadi dia minum susu kacang kedelai dan es apaaaaa gitu di food court. Tapi gue dan Sandra membelikan sate padang untuknya, supaya dia bisa mencicipi makanan tradisional. Jaja juga beliin lumpia. Meski mengaku kenyang, dia berusaha menghabiskan makanannya, karena dia ga suka makanan yang dibuang-buang.

Setelah makan, kami melihat stand pameran barang-barang tradisional yang ada di skywalk. Berharap ada sarung yang dimaksud itu, ternyata tak ada. Gue dan Sandra sempat membelikannya oleh-oleh (gantungan kunci dengan ukiran Monas dan pembatas buku dengan ukiran wayang) tanpa sepengetahuan dia. Rencananya akan diberikan besok sebelum dia pulang.

Di PIM juga kami janjian bertemu dengan Bhier. Capek jalan-jalan kami langsung pergi dari PIM. Di mobil, Yohan makan pisang goreng lagi. Kali ini makan 3. Sampe kotaknya kosong, hehehe.. total dia makan 5 pisang goreng dari mama, hehe.

Di jalan kembali bingung mau kemana. Tadinya mau ke festival Jalan Jaksa, tapi ternyata udah selesai. Bhier lalu mengajak kami ke kampusnya (IKJ) karena salah satu temannya akan ujian koreografi dengan menampilkan tarian/drama/entahlah yang kontemporer. Yohan seneng banget diajak liat pertunjukkan. Setelah itu Bhier mengajak kami berkeliling kampusnya. Meski terkesan Bronx, dan gelap pula (udah maleeemm) tapi seru. Foto2 dengan latar belakang tembok mural art, menyenangkan.

Jam 9 malem diputuskan untuk nongkrong di kemang. Yohan dikenalkan dengan shisha, dan dia senang. Hhehehe… malam itu, dengan sebotol Heineken dan shisha ngepul, dia terlihat baik-baik aja meski mata sipitnya yang unik itu makin kecil aja. Sementara itu Sandra sudah lelah, dan gue pusing mengatur jadwal besok dan menghitung uang buat patungan bensin. Jaja dan Bhier? Mereka berkoar-koar seperti tak kehabisan energi, hehehhe.

Dari Kemang, Jaja dan Bhier didrop di Blok M, dan gue dianter sampe rumah oleh Sandra, Ogi, Rio, dan Yohan.

Rekor, pulang jam setengah 1 pagi!!

Yohan's diary: day 1

Yohan memang cukup mendadak mengabari kalau dia mau berkunjung ke Jakarta. Tanggal 7 Agustus kirim message lewat FS, tanggal 8 Agustus gue baru bales message-nya, tanggal 10 nungguin telponnya seharian, dan baru malamnya ada kabar bahwa dia akan sampai Jakarta pada tanggal 11. Bukan cuma mendadak, tapi sampai ketika gue baru akhirnya ketemu dia, gue baru tau kepastian dia akan tinggal berapa lama disini.

Tadinya cuma gue aja yang bisa jemput dia di bandara. Untungnya Diba sangat baik hati dan tidak sombong, hehehehe.. dia mau menemaniku di tengah kesibukkannya menyelesaikan skripsi dan kondisi badannya yang kurang sehat.

Butuh waktu agak lama juga menunggunya keluar dari imigrasi. Karena ada 2 pintu keluar, gue dan Diba memutuskan untuk berpencar. Akhirnya Diba-lah yang menemukannya pertama kali. Mereka lalu menghampiri gue. Walaaaah… ga berubah mas yang satu ini! Gayanya masih sangat santai dan cenderung berantakan, hehehe…

Sebenernya agak bingung juga mau bawa dia kemana. Temen-temen lain baru bisa ketemu setelah jam kantor. Akhirnya kami memutuskan untuk pulang naik Damri ke lebak bulus menuju rumah gue (sebagai stopover), dengan harapan dia bisa makan dulu, mungkin tidur dulu sebentar, dan bisa mandi dulu.

Selama perjalanan di Damri, Yohan banyak tanya ini itu. Kalimat tanyanya selalu dimulai dengan kata… “I wonder why…” atau “I was wondering why…” hehehe… Wah! Untung ada Diba yang selalu ceria dan ketawa terus sepanjang perjalanan. Jadi meski harus berdiri selama satu jam lebih (ga dapet kursi!) tapi tetep menyenangkan!

Dari terminal lebak bulus, kami jalan sedikit untuk bisa naik angkot yang menuju rumah gue. Yohan naik angkot, dan dia asik-asik aja. Mungkin di kepalanya langsung muncul berbagai pertanyaan dan pernyataan. Kenapa begini, kok begini, dll..

Sampe rumah gue, Yohan ga terlihat kaku. Dia menyapa Fina dan Ari dengan baik hati. Dia malah gampang aja.. begitu liat gitar nganggur langsung dimainin. Piano juga dijajal.

Ga lama gue langsung ngajak dia makan, karena dia belum makan siang dari tadi. Dia bilang dia selalu ingin mencoba masakan rumah kalo ada di negara orang lain. Jadi gue pun ga malu-malu menyuguhkan apa yang ada di meja makan. Dia makan lahap banget. Nasi, pake telor dadar isi bawang, sama tumis toge tahu. Makannya banyak dan nambah! Hehehehe… seneng juga liat dia makan. Apalagi waktu dia bilang “Haotse!” (bener ga nih spell-nya) yang artinya “enak” dalam bahasa China. Heheh… orang Korea ngomong bahasa China.. (ga heran sih, bahasa China-nya canggih karena sempet 1 tahun di Hongkong & Taiwan)

Setelah itu dia minta izin untuk buka internet. Karena komputernya ada di kamar gue jadi masuklah dia kekamar gue hahahahaha. Dia nunjukkin gimana caranya mengetik hangul dengan komputer. Hebaaaat!!! Selama ini gue selalu penasaran gimana caranya… heheeh… seneng banget! *jadi langsung pengen ngetik ini itu, hahaha*

Abis internetan, lalu dia bertanya “So, Annisa… can I sleep?”

Hihihi… Gue emang sebelumnya udah nyuruh dia tidur sebentar sebelum pergi menemui teman-teman lain. Dia terlihat lelah dan ngantuk karena semalam baru tidur jam 3 pagi. Yasudah, tidurlah dia di sofa depan TV. Ga pake sungkan meski di sofa sebelah si Fina lagi nonton .

Jam 18.10 Nova telpon. Dia bilang dia udah sampai di Citos. Berarti saatnya bangunin Yohan dan berangkat. Tapi Yohan ga gampang dibanguninnya. 2 menit tak berkutik walaupun Diba udah nepuk-nepuk tangan sambil manggil namanya.

Muka Yohan waktu baru bangun tidur lucu sekali! Hahahaha… antara sadar tak sadar, dia jalan ke kamar mandi untuk cuci muka. Udah cuci muka aja masih kelihatan lelah dan ngantuk. Tapi gimana dong, temen-temen akan menunggu kami disana.. jadi, berangkaaaat!!

Di A&W Citos Nova sudah menunggu. Bukan cuma Yohan yang seneng ketemu Nova, gue sama Diba juga seneng ketemu Nova setelah 2 tahun lamanya sejak camp berakhir. Nova adalah partisipan dari Jakarta yang paliiiing susah dihubungi. Ga pernah juga bisa ketemuan. Baru kali ini, hehe..

Tak lama, datanglah Jaja, lalu disusul Bhier, lalu Angga, dan terakhir Sandra beserta Ogi, pacarnya.

Sambil ngobrol melepas kangen, gue mengatur tempat tinggal Yohan. Ga ada yang rumahnya bisa ditumpangi. Padahal gue berharap cowo-cowo bisa menampungnya, tapi hmmmph! Angga beralasan rumahnya lagi rame banget. Jaja berdalih rumahnya lagi berantakan. Sementara Dedi lagi di Semarang. Ga lama mama telpon, katanya gapapa deh dirumah kita aja. Gue lega banget! Sebelumnya Yohan bilang gini (waktu baru sampai rumah gue) “waah.. your house is so big! I can even sleep here!” (sambil pura2 tidur di lantai ruang makan.. hahahaha…

Jadilah, gue bilang sama dia bahwa dia bisa tinggal dirumah gue. Tapi tak lama setelah itu mama telpon lagi. Katanya rencana berubah. Abang ga setuju kalo Yohan tinggal di rumah kita. Katanya nggak kenal, siapa tau dia bukan orang baik, blah…blah..blah! menyebalkan! Kenapa dia bisa belagu kayak gitu?! Kenal aja nggak! Sok tau! Sok parno!! Sebel!

Jadilah gue dibuat pusing. Mama udah nawarin nginep di Hotel Prapanca. Malam pertama dibayarin mama, yang kedua dia yang bayar. Tapi sebelum itu terjadi, bahkan sebelum gue menawarkannya pada Yohan, Sandra muncul dengan ide brilian!! Seorang temannya bernama Rio (yang pernah ikutan pertukaran pelajar, dan biasa rumahnya dijadiin tempat home stay) bersedia menampungnya! Gilaaaa!!! Leganyaaa! *walaupun sebenernya ga enak banget sama Yohan… gue udah minta maaf aja tetep ga enak! Heheheh*

Hari sudah larut dan kami pulang kerumah masing-masing. Sandra dan Ogi membawa Yohan kerumah Rio.

Gue? Pulang dengan muka siap berantem sama abang! Sebel!!!

..to be continued.

Yohan's diary: preambule

Sebelum baca *kalo ada yang niat baca*, biar ga kaget, tulisan ini sebenernya diary biasa yang gue tulis supaya bisa jadi pengingat kalo gue baca lagi suatu hari di masa depan. Isinya sungguh panjang, karena menyangkut perjalanan liburan seorang Korea bernama Min Yohan selama 3 hari 2 malam di Jakarta. Selain itu, tulisan ini juga dibuat supaya temen-temen dari BinalFamily (hehehe… maaf yaa kami memang nakal, jadi namanya Binal Family deh, hahaha) yang ga bisa ikutan jalan2 bareng Yohan, bisa tau apa aja yang terjadi. Kalo penasaran tapi males baca, mending langsung liat foto2nya aja di album. Tapi kalo mau baca, silakan… Tulisan ini dibikin seenak gue, seperti gue sedang bercerita pada kalian, hehe.

Oia, satu lagi… kalau nanti ada yang sampe punya kecurigaan yang aneh2 tentang gue dan Yohan, ehehehe… mendingan ga usah. Karena Yohan Oppa ini (Oppa: abang/mas) adalah salah satu sahabat dari Youth Camp Korea yang cukup dekat dengan gue. Kami satu bus, sering main bareng, makan siang bareng, dan dia pernah juga jadi chaperone gue selama jalan-jalan di World Cup Stadium. Orangnya pendiem, ga banyak omong, meskipun bahasa inggrisnya cukup ok. Dibalik gayanya yang santai, sporty, cuek, dan sedikit berantakan, tapi dia adalah seorang teman yang helpful, peduli, a true gentle man, dan dewasa.

Bisa dikatakan, Yohan oppa adalah abang gue disana. Sementara Min Jung onni adalah kakak perempuan gue disana. Jadi, ini adalah luapan perasaan yang sangat wajar. Kalo ada yang ga ngerti, atau menganggap gue berlebihan, yah.. gapapa… semoga suatu saat kalian bisa menemukan Yohan versi kalian masing-masing, hehehe..