Sunday, December 31, 2006

My Nana...

Aih, senangnya ketemu lagi sama Nana. Biarpun jarak dari rumah ke bandara cukup jauh, biarpun ongkos naek damri cukup mahal, dan biarpun kami hanya menghabiskan waktu satu jam aja buat melepas kangen, tapi semuanya ‘terbayarkan”!


 


Di Damri, seperti bernostalgila. Kami (gue, diba, jaja) memilih deretan kursi paling belakang supaya bisa duduk bareng dan ngobrol lebih enak. Obrolan kami (meski ini udah kedua kalinya ketemu sejak camp berakhir) masih tetap seputar camp menakjubkan itu. Dan, duduk ngobrol bersama Jaja itu sangat mengundang perhatian orang2 sekitar karena suaranya yang keras cukup bikin beberapa orang di Damri menoleh kebelakang, ke arah kami, hehehe.


 


Sampai di Soekarno Hatta, kami mencari terminal keberangkatan pesawat Korean Air. Agak kebingungan juga mencari seorang Nana di bandara yang rame itu. Sampe telpon temennya Nana di semarang dan koordinator kegiatannya selama di semarang bernama Pak Ketut untuk mastiin keberadaan Nana. Menurut mereka, Nana itu emang udah merencanakan ketemu dengan kami di terminal 2, jadi kami akhirnya memutuskan untuk duduk menunggu di terminal 2 tepat di depan pintu check-in.


 


Lagi ngobrol ga karuan, tiba2 ada seorang cewe lari2 ke arah kami sambil senyum. Kontan dia langsung memeluk kami semua. Nana, oh, Nana… berkali2 dia bilang, “I can’t believe I met you, guys!” hahaha…


 


Kami ngobrol2 seputar kegiatannya disini. Dia suka makan soto, dan dia bilang pisang indonesia enak, jadi dia makan pisang terus sampe temen2nya manggil dia NanaBanana, hehe. Terus dia juga bilang candi prambanan dan Borobudur kita keren banget. Menurutnya lebih keren daripada Bulguksa Temple yang ada di Korea. (Ya iyalaaaah… ahahaha..)


Tiba2 dia nanya apa kami laper. Trus kami menggeleng. Trus dia kabur ke konter Dunkin yang letaknya ga jauh dari tempat duduk kami. Abis itu dia balik lagi sambil menggandeng tangan kami untuk mengikutinya. Dia bilang “let’s drink, then..”


 


Di depan konter dunkin, dia langsung mengeluarkan uang sepuluh ribu rupiahnya sambil melihat ke daftar minuman. “what’s markisa?” tanyanya. Gue jelasin kalo markisa itu buah indonesia, yang rasanya asem dan manis. Dia tertarik untuk mencoba. “4 Markisa, please,” ujarnya pada mba2 yang melayani. Gue, Jaja, Diba, dan mba2 Dunkin liat2an. Satu cup kecil markisa harganya sepuluh ribu, sedangkan dia hanya mengeluarkan sepuluh ribu. Terharu tapi miris juga. Kasian nih bocah Korea, dia mungkin punya uang, tapi dia masih kebingungan dengan nilai kursnya. Mungkin dia pikir 10.000nya bernilai won, hehe. Aku bilang sama Nana, “Nana, let us buy you the markisa.” Tapi dia bersikeras sambil terus ngobok2 tas kecilnya mencari sisa2 rupiah (yang dia keluarin adalah lembaran seribuan yang udah kucel!) Akhirnya gue mengeluarkan kata2 korea yang menunjukkan nilai mata uang yang dia keluarin. Dan saat itu dia baru ‘ngeh sambil tertawa geli. Dia bener2 masih bingung meng-kurs-kan rupiah dan won. Lalu dia bilang “Oh, I have. I have” sambil mengeluarkan selembar sepuluh ribuannya. Mba2 dunkin menghitung uang yang dikeluarkan Nana. Masih belum cukup juga. Sampe akhirnya Jaja berinisiatif mengeluarkan sepuluh ribunya untuk nambahin tanpa sepengetahuan Nana. Akhirnya terkumpul sejumlah uang cukup untuk 4 cup kecil markisa. Nana senang, kami senang. Ehehehe..


 


Kembali ke kursi tadi, kami foto2 seru sambil cerita segala macem hal. Dia sedih ga bisa ketemu Arum, Hesty, dan Nia roommatenya slama camp. Gue merasa ini kesempatan bagi Nana sebelum dia balik ke Korea untuk, paling ngga, ngobrol sama mereka. Dengan hp gue sendiri, gue telp Hesty dan Nia supaya Nana bisa ngobrol sama mereka. Nana senang, semua senang. Ga lama Dedi (National Leader kami selama camp) datang menyusul. Nana tambah seneng. Kami? Ehehehe.. hanya bergumam, ”nyampe juga lo, Ded!”


 


Jam setengah sembilan, Nana dipanggil. Sudah waktunya dia boarding. Dia memeluk kami satu persatu lalu menambahkan satu kecup di pipi, manis banget bocah ini. Kami mengantar sampai di depan pintu check-in. dia bilang “when you go to Korea, you have to stay at my house, okay?” kami mengangguk. Tapi dia meraih kelingking kami satu persatu (aku tahu, ini cara mereka berjanji) “Yaksok,” kataku (artinya: janji) Dengan wajah sedih, dia masuk sambil terus melambai2 ke arah kami.


 


Reunian ini manis banget. Semanis markisa yang kami minum bersama.

LOTTERIA

Rating:★★★★
Category:Restaurants
Cuisine: American
Location:Seoul - South Korea
Ketika lo berada ribuan mil jauhnya dari rumah, salah satu kendala terbesar adalah urusan makanan, ya bukan? Terima kasih banyak kepada globalisasi yang telah membuka jalan besar bagi fast food untuk jadi ‘makanan rumah’ dimanapun kita berada.

Fast food resto sejenis McDonald’s, KFC, Pizza Hut, Burger King, apa deh, you name it.. akan menjadi penyelamat lo dikala ga tau mau makan apa di negri antah berantah. Tapi bagi gue, penyelamat itu bernama Lotteria.

Lotteria adalah fast food resto waralaba yang tersebar di segala penjuru daratan Korea. Kaget juga, jumlahnya jauh lebih banyak daripada McDonald’s yang raksasa itu!

Pertama kali makan, gue mencoba Bulgogi Burger. Kenapa? Karena, meskipun judulnya burger, tapi gue masih pengen merasakan sensasi bulgogi korea. Ternyata...enaaak...banget! dagingnya tebel, dengan saus bulgogi yang manis gurih plus mayones yang tercampur passs banget! Sayurannya sesimpel kol yang diiris tipis aja.. Penampilan bulgogi burger ini (dan juga burger2 lain di Lotteria) jadi unik karena sesame atau wijen yang di pake di atas roti burgernya adalah wijen hitam.. lucu dan ’kontroversial’, hahahaha...

Lotteria bener2 penyelamat gue dan temen2 lainnya.. bayangin.. gue bahkan bisa makan sebanyak 7 kali di 7 restoran Lotteria yang berbeda selama 21 hari di Korea tanpa sekalipun makan McD! (tapi sempet sih makan KFC sekali, hehe). Bahkan saat2 terakhir sebelum boarding, gue sempet makan siang di Lotteria Incheon Airport. Yang selalu terjadi setiap kali makan Lotteria adalah, kita pasti makan dengan terburu2.. bener2 makan di resto fast food karena jadwal yang padat.

Kalo ada yang mau ke korea (di jepang juga ada sih..), jangan sampe ga makan di Lotteria.. selain bulgogi burger, cobain juga shrimp burger dan chicken burgernya.. ga kalah nyummmy..... apalagi shrimp burger-nya yang ’mengejutkan’.. soalnya daging udangnya tuebbbellll banget! Gurih dan tepung rotinya crispy! Juga, cobain es kacang yang seger. Ini es tradisional Korea yang udah di improvisasi.. karena seharusnya esnya es serut aja, tapi kalo ala Lotteria, ditambah es krim vanilla. Campuran es, sirup, susu, kacang kecil yang mirip kacang merah, dan buah kecil2 (ga tau namanya apa) pas banget dimakan selama summer yang ganas..

Harganya, berkisar \3000-5000 (sekitar Rp 30.000-50.000) untuk sekali makan dengan menu lengkap (burger/ayam+fries+minum) relatif murah dibanding dengan makan di tempat lain yang rasanya juga belum tentu enak.

Untuk minum, chocolate milk shake-nya enak.. bagus buat yang ga sempet minum susu (cubung deeh..) tapi, gue saranin sih pesen coke atau ice tea aja.. soalnya bisa re-fill gratis berkali2.. hehehe.. lumayan kan?!


*sayang.. resto ini blum sampe indonesia.. hm.. ada pengusaha yang tertarik untuk beli waralabanya buat di sini?? Gue jadi pelanggan setianya deeeh *

Deception Point (Titik Muslihat)

Rating:★★★
Category:Books
Genre: Other
Author:Dan Brown
Ini adalah buku ke-empatnya Dan Brown yang udah gue baca. Kehebohan yang dibuat oleh The Da Vinci Code telah membuka mata gue untuk menyukai kepintaran sang pengarang. Lagi2 Dan Brown berhasil bikin gue tiga hari dua malem ga bisa lepas dari buku berjudul Deception Point.

Dibanding dengan Digital Fortress, plot cerita ini lebih kompleks. Banyak masalah yang diangkat dan dirangkai dengan sedemikian rupa sehingga memperkaya jalan ceritanya.
Tapi, ketegangan yang dibangun menurut gue ga terlalu kuat. Beda dengan Angels and Demons yang sanggup bikin gue bergidik ketakutan.

Di Deception Point ini, seperti biasa, kekuatan Dan Brown adalah dalam membangun alur cerita yang cepat dan dinamis. Jadi, kalo kelewatan baca satu halaman aja, lo akan dibuat bingung jadinya.

Deception Point ini ringkasnya menceritakan tentang penemuan sebuah bukti kehidupan dari luar angkasa yang sangat berhubungan dengan pertarungan politik antara seorang senator dan Gedung Putih yang sedang berkuasa. NASA dan beberapa organisasi lainnya ikut terbawa dalam kasus yang sarat akan muslihat ini.

Kotornya dunia politik, kecanggihan teknologi, kedigdayaan dan arogansi Amerika Serikat, serta kekuatan sebuah kebenaran jelas terasa dalam setiap bab buku ini.

Setting cerita ini beragam dari kantor-kantor penting di Washington DC, Gedung Putih yang perkasa itu, pesawat kepresidenan Air Force One, Milne Ice Shelf di Pulau Ellesmere di Arktika, sampai di kedalaman laut pantai New Jersey.

Setiap kali gue baca bukunya Dan Brown, gue slalu bertanya2.. penelitian macam apa yang dilakukan Dan Brown selama menggarap ceritanya?! Lagi-lagi Dan Brown menunjukkan kemampuannya meramu berbagai unsur politik, sejarah, teknologi, alam, dan psikologis manusia dengan baik. Salut…

Tapi, Deception Point ini cukup dapet tiga bintang aja deh ya.. karena gue merasa kurang bisa menyatu dengan ceritanya. Bagi gue, Angels and Demons paling okeee! Hahahaha…

Menghayati Fenomena Blogging

Waktu itu… Dania bilang.. ntar pas liburan, gue mau posting yang banyak !“ Trus Odie bilang “Asiiik… liburan bisa bacain postingan orang2!“ sementara gue tersenyum saja.

 

Sebelumnya, Rara pernah mengaku dosa (ah, ga segitunya juga deng sebenernya, hehe) karena postingnya yang tajam setajam silet itu efeknya tak terduga..

 

Dan baru aja gue selesai baca postingan teman2 tersayang di multiply milik kita bersama ini.. bagaimana seorang Dania bisa membuat seorang nnisa yang sedang ga karuan dirundung kebosanan ini tertawa geli.. bagaimana gue diingatkan lagi oleh tugas2 terkutuk itu, dan bagaimana gue jadi merindukan kalian hanya karena postingan kalian itu! Bodoh tapi nyata..

 

Bener2 sebuah fenomena..

 

Postingan mereka… postingan kami… menjadi potongan2 kejujuran atas apa yang sesungguhnya kami rasakan… menjadi ‘gambaran’ kehidupan kami yang sungguh2 ROCKANDROLL!!... dan, menjadi media komunikasi khusus kami…

 

Jadi teman2 ku tersayang… tetaplah mengepost… percaya atau nggak, postingan kalian adalah salah satu hiburan gue selama liburan ini…. Hehehe..

Sejuta rencana, bercermin pada kemarin hari, malah terkungkung disini..

Ga tau nih harus bilang apa.. seharusnya aku senang bukan main sampe jumpalitan karena ini adalah musim liburan... tapi ujung2nya, seperti tiap kali liburan semester... pasti malah basi bukan main di rumah.

 

Padahal baru tiga hari di rumah, tapi rasanya aku sampe udah hafal sama lagu ’Sunny’ yang sering dinyanyiin Fina dengan apa adanya.. (halaah..), sampe muak dengan infotainment yang begitu mencuci otak, dan sampe merasa idiot karena terpaksa nonton sinetron ga mutu..

 

Desperately seeking for holiday spot!!!!

 

Ada backpacker yang lagi cari temen? Gue mau niih… terserah deh mau kemana… (eh, ga segampang itu juga sih, ehehehe..)

 

Mas Tiyo yang waktu itu nawarin backpacking ke Thai tiba2 ga ada kabar lagi… Meiph yang udah berencana cuma ke Bandung aja juga ga pernah kesampean.. bahkan ke mangga 2 aja gue rela deeeeh… (Hayu, neng Heidy.. kita ke Mangga 2 !)

 

Kemaren, liat iklan Flower Festival di Malaysia… gue langsung ngebayangin gimana serunya event itu.. betapa iklan itu telah berhasil menghasut jiwa gue untuk sekedar membayangkan kalo gue bisa pergi kesana… apalagi.. Malaysia lagi promosi abis2an nih karna taun 2007 Malaysia ulang taun ke 50.. jadi deh mereka nawarin berbagai paket wisata murah meriah yang bikin gue jadi tergiur… (apalagi dlm keadaan ‘Ga-Tau-Mau-Ngapain’ ini..)

 

Jadi ??? siapa yang mau nnisa temenin liburan, hayuuu ????

Saturday, December 16, 2006

March of The Penguins

Rating:★★★★
Category:Movies
Genre: Documentary
Film Perancis ini dari awal kemunculan beritanya udah bikin gue penasaran.. film ini jadi salah satu pemenang di (kalo ga salah ya…) academy awards dan gue makin penasaran ketika ngeliat dvd (bajakannya) terpampang di salah satu toko dvd di itc fatmawati.
Dari covernya, beragam komentar tertulis seperti “Riveting!”, “Unbelievable”, “Astonishing”, “Amazing”, dan “A Delightful, Wholesome experience for the family”… bikin gue jadi makin penasaran.
Ternyata komentar diatas ga sepele.. film dokumenter ini, entah bgimana, bisa bikin gue merasakan berbagai perasaan sekaligus. Gemes karena ngeliat penguin2 lucu disana-sini, takjub sama kehidupan di dunia sana, kaget2 sama tingkah laku pinguin, sambil bertanya2 gimana cara sutradaranya ngambil angle yang oke punya!
March of The Penguins sederhananya bercerita gimana penguin2 berpindah secara berrombongan untuk menjalani berbagai kehidupannya. Dari mulai cari pasangan, cari makan, mengerami telur, membesarkan anak2nya, sampe kembali lagi ke kampung halamannya. Tapi Luc Jacquet brilian banget mengemas cerita perjalanan itu dengan unik, lucu, dan bisa bikin terharu! Ditambah lagi dengan narasi dari Morgan Freeman (untuk versi inggrisnya) yang kedengaran pas banget. Satu lagi yang gue kagumi dari March of The Penguins ini adalah aransmen musiknya yang bisa banget bangun suasana.
Buat yang suka nonton Discovery Chanel atau National Geographic Chanel, Animal Planet, atau sejenisnya… pasti seneng deh ngeliat film ini.
Buat yang ga suka, jangan anggep remeh film ini. Meski edukatif, tapi menghibur banget! Hahahahaha…
Setelah nonton ini, masa’ gue jadi pengen nonton Happy Feet… film penguin versi kartun yang kayaknya lucu!

Wednesday, December 13, 2006

when i saw him standing there

When i saw him standing there...
Our eyes met and his eyes sparkled

This never happened to me before

Suddenly my heart’s filled with strange warm feelings

I hid in his honest gaze but I smiled like an idiot

Tonight I will wish upon the stars just to be able to run into you tomorrow…

Z ada karena ada ABCDEFGHIJKLMNOPQRSTUVWXY sebelumnya…

Kenapa air menguap ? karena ada proses pendidihan..


Kenapa ada kupu2 ? karena dia sebelumnya adalah ulat…


 


Semua ada tahapnya… semua butuh proses…


Ga bisa tiba2 jadi… atoo.. ga bisa juga prosesnya terbalik..


 


Seperti halnya dengan sebuah iklan…


 


Dengan lantang, gue adalah penganut.. konsep dan strategi dulu, baru ide eksekusinya.


 


Jadi, maaf2 nih kalo ada yang menganut paham sebaliknya.


 


Mungkin kita ngga bisa sejalan... pasti akan bersebrangan... ujung2nya, pasti gue akan mengusung ’nnisa ga peduli lagi deh kalo udah begitu!’


 


Eh, coba deh bayangin... gimana kalo...


 


Seekor kupu2 bermetamorfosis jadi ulat????

mulut bungkam, hati tiga-perempat kosong, langkah berat...

biasanya… euphoria mendadak pasca uas ini terjadi ketika hari terakhir uas berakhir. Tapi euphoria mendadak ini terjadi ketika semuanya belum benar-benar berakhir.


Ketika pertama kali keluar kelas setelah selesai uas statistik yang sadistik itu, gue leugaaaaaaaa…. banget ! kayak abis muntahin batu segede gaban yang selama ini  udah ngeganjel tubuh, hati dan pikiran ..hehe


Sbenernya, kelegaan ini belum seharusnya muncul… mengingat tugas yang slama ini jadi biang keladi keparnoan massal belum selese.. alias masih harus digarap sampe tuntas. Tapi yang gue rasain adalah ketidakmampuan gue untuk punya kepedulian terhadap tugas itu. Aje gile, ga pernah gue merasa sebegini ga pedulinya sama satu hal.


Ketika gue masih punya rasa kepedulian itu, gue masih bisa angkat bicara, masih ingin berpartisipasi, masih ingin mengkritik…


Gue ini bukan pembangkang selagi apa yang diarahkan kepada gue adalah sesuatu yang baik dan benar, serta masuk akal sehat gue dan ga mengganggu prinsip gue.


Ketika ada yang mengusik, gue akan bicara. Ketika gue diberi tugas, gue akan jalani.


Tapi, ketika gue udah bungkam, memberi kritikpun enggan, dan hati ini ¾ kosong, sementara langkah mulai berat, berarti sesuatu kesalahan besar sudah terlanjur terjadi dan gue berarti sudah ngga ada gunanya lagi untuk ambil andil.


Dinamika kelompok itu seharusnya terjadi… tapi rasanya roda penggerak dinamo itu udah ga lagi berfungsi. Jadi rasanya percuma aja untuk berkoar2 memberi kritik dan saran, kalo toh smuanya serba tak pasti.


Mungkin smuanya diawali oleh perasaan gue yang ga ‘profesional’ itu.. tapi setelah gue berusaha menatanya sendirian dan merasa sudah cukup kuat untuk bertempur habis2an, kepincangan terjadi di kubu sebelah sana.


Di satu sisi, saat ini gue lagi seneng-senengnya merasakan kelegaan tak terduga setelah uas. Tapi disisi lain, gue masih punya rasa bersalah karena sensor kepedulian gue udah mati rasa.


Aku merasa bersalah, kawan…

Friday, December 8, 2006

after hiphiphore!

Selamat berjumpa kembali dengan kami semua!!!

Perkenalkan... kami adalah koci, dudung, dan mickey yang jadi extras-nya hiphiphore... hehehehehehe....

Sebenernya sih, cerita yang lebih lengkapnya udah ditulis sama kak rara dan bisa di baca di blog multiply-nya..

Cuma kak rara kan ga punya foto kita2 kan? Ya kan? Ya dong??? Hehehehe...

Jangan kira kita cuma bisa ngemeng doang di depan om jaja... kita juga pandai bergaya di depan kamera.. aih..

Ahahahahahaha....

Eh, eh... Cuma mau kasih tau, kami emang extras.. Cuma kami males di jadiin extras buat kelompok lain, buat hiphiphore aja, mwahahahahaha...

 

Oh iya..

Kak heidy, ato kak eben.. tolong bilangin om jaja ya, dapet salam dari mickey... ”from mickey with love..”

 

*anjrit! Mickey salah gaul nih…*

suddenly ham jeong han

Ya ampuuun... kesambet apaan ya gue kali ini??? Gue kangen mr.ham nih.. abis2an! Huahahahahaaahahaha......


Terakhir ketemu, dua hari sebelum berangkat ke korea... dan dia bilang sebelumnya kalo dia di pindahtugaskan ke china.. dia bilang, ntar kalo gue udah balik lagi ke indonesia (setelah pulang dari korea), gue ga bisa ketemu dia lagi.. (hix...) dan meski begitu, dia minta gue ceritain pengalaman disana lewat email...


Email udah di kirim langsung setelah gue menginjakkan kakl gue lagi di rumah.. tapi sampe skarang tak berbalas.. oh, sangat maklum, sangat mengerti… beliau yang superr sibukkk itu mungkin hanya sempet baca email gue tapi ga sempet untuk membalasnya.. jadi gapapa lah…. Toh gue udah mengucapkan beratus2 trimakasih buat ‘hadiah tak terlupakannya’ itu..


Sekarang, gue kangen mr.ham beneran nih…


Sungguh aneh.. hubungan gue sama dia memang lucu.. secara posisi, gua adalah gurunya, tapi secara umur, hehehehehe.... dia lebih pantes jadi om gue kali ya??? Huahahahahaha...


Aih.. kangen nih..


Mr.Ham...nomu bogoshipoyo...


Hehehe..