Tuesday, November 25, 2008

apa ini?

Teman-teman, ini namanya apa?

Stapler? Streples? Cekrekan? Jegrekan?

 

????

 

Menurut Kamus Inggris Indonesia yang disusun oleh John M. Echols dan Hassan Shadily…

 

stapler /’steiplar/ kb. (alat) pengokot, stépler, penjepret kawat.

 

Tuh kaaaan…

Benda ini punya nama sendiri dalam bahasa Indonesia (yang baik dan benar).

Silakan, mulai digunakan dan dipopulerkan kembali, hehehehe…

...pengen punya anak, hehehehe ^^v

Sejak bisa nonton Discovery Home and Health, gue langsung penonton setia salah satu program mereka, Jon and Kate Plus Eight.

Bagi yang belum pernah nonton, program ini semacam reality series yang menceritakan sepasang suami istri Jonathan Gosselin dan Kate Gosselin yang menjalani kehidupan mereka dengan delapan orang anak!

Mereka dikaruniai sepasang anak perempuan kembar, Cara dan Maddy (yang kini berusia 7 tahun), dan enam orang anak kembar-6: Alexis, Hannah, Joel, Aaden, Collin, dan Leah (yang kini berusia 3,5 tahun)

Kehebohan mengurus delapan orang anak, segala suka duka, menjadi inti dari cerita ini. Yang menjadi pusat perhatian tentu aja ya anak-anak mereka, terutama 6 orang anak kembar itu.

Sejak itu pulaaa…

Gue jadi makin pengen punya anaaaaaaakkkk…. Hahahahahahahahahaha…

Gemes banget liat bocah-bocah kecil, sipit-sipit, lari-lari kesana kemari, main, berantem, berceloteh, whuaaaa!!!

Gimana ya rasanya kalau suatu saat nanti gue punya satu? Hehehehe…

kami

Kami punya dunia sendiri.

Dunia dimana kami bisa melakukan segalanya dengan cara kami sendiri.

Dunia dimana ia bisa tertawa, bersedih, memaki, dan menangis.

Dunia dimana aku bisa dibuatnya tertawa, bersedih, kesal, dan menangis.

 

Kami punya dunia sendiri.

Dunia dimana kami bisa saling menyayangi, saling membenci, saling menertawai kebodohan satu sama lain.

Dunia dimana kami bisa menjadi diri kami sendiri, tak peduli bagaimana orang-orang memandang kami, dan kekejaman dunia yang membelenggu.

 

Kami punya dunia sendiri.

Dunia dimana kami akan selalu kembali bersama, ketika kebencian segera pudar, amarah segera mereda, dan perasaan sakit berangsur hilang.

Dunia dimana semua luka akan segera sembuh.

Kami: Aku dan dia. Aku dan mereka. Aku dan kalian. Kami.

 

*untuk teman-teman sungguhan, hehehehe*

I needed alcohol!!!! o_X

Gue pernah berpikir, kalau aja… KALAU… minuman beralkohol itu halal… Udah berapa botol / kaleng yang gue habiskan malam ini dan malam2 sebelumnya???

Bukannya gue berpikiran macem2… cuma agak ngiri aja, kalau mereka bisa menenggelamkan segala perasaan, kesusahan, kepenatan, dan kegilaan dunia dalam tiap tegukan, lantas gue harus meneguk apa???

Pelarian.

Orang2 suka bilang begitu.

Bagi gue, ini bukan pelarian. Tapi adakalanya lo memang butuh tenggelam sendirian, menghilang sejenak, sekadar untuk membuat lo tambah paham akan makna dari balik semua masalah.

Jadi,  malam itu…

Heidy dan Pak Amin menjadi saksi bagaimana gue berangan-angan atas minuman beralkohol yang (gue pikir, dan gue harap) bisa menenggelamkan gue, menghilangkan gue sejenak.

Heidy bilang, gapapa kalo emang mau coba. Masalahnya, ini bukan untuk ajang icip-icip, dy, hehehe. Lalu dia menyarankan beberapa hal lain, dari mulai makan, karaokean, sampai lari-lari.

Gue akan mencoba semuanya, dy…

Tapi, gue tetep membayangkan, what if… what if… hehehehe

Ternyata, gue masih disayang Allah.

Alih-alih ‘keluar’ dari jalanNya, gue mencari cara lain untuk tenggelam, yakni segelas coklat pekat panas.

 

Setelah seteguk…

Perasaan gue lebih baik. Gue memang membiarkan diri gue tenggelam dalam duka, amarah, dan segala perasaan yang berkecamuk.

Gue biarkan diri gue menyalahkan semuanya. Gue biarkan gue menyalahi diri gue sendiri, menyalahi dia, menyalahi mereka, dan menyalahi keadaan.

Gue biarkan kata-kata busuk keluar dari pikiran dan hati gue. Segala makian atas kebodohannya, kebodohan gue, semuanya.

Segelas coklat pekat panas itu membuat gue baik.

Pikiran gue mendadak jadi tenang. Gue bahkan dapat menghasilkan beberapa tulisan untuk blog ini. Produktif bukan?? Hehehehe…

I don’t need alcohol. Hot chocolate is my kind-of alcohol! Hahahahahaha…

Sunday, November 23, 2008

24 November 2004 - 24 November 2008

kangen...

cuma itu yang pengen gue bilang, Tho..

kangen elo...

baik kah di sana?

 

*mengenang 4 th kepergian seorang sahabat kecil, Ratna Synantya*

Wednesday, November 19, 2008

,,,^^,,,

It’s just a quick glance.

 

 

 

But, that’s just fine.

 

 

 

Thanks.

See ya!

Sekarang, baik2 aja....

Baiklah, gue akui, belakangan gue memang tersiksa.

Gue jadi tambah berantakan, gue merasa usang, gue merasa tak punya daya.

Gue ga suka mengakui semua itu, awalnya. Tapi, lama-lama gue jadi makin tersiksa dengan menyembunyikannya dibalik senyum, tawa, dan semua ‘gue santai, kok!’.

Lebih baik diakui, sepertinya.

Gue bahkan mulai merasa lega ketika baru mengetik tulisan ini.

Meskipun gue manusia yang sangat keras kepala, gue punya perasaan.

Waktu itu, gue tidak dalam keadaan baik-baik saja. Gue hanyut dalam duka. Intinya, gue sedikit berbohong pada mereka, dan pada diri gue sendiri

Kalo mereka merasa gue ‘terlalu bahagia’ atas hal tersebut, sampai-sampai tidak merasa sedikitpun kesedihan, itu salah. Salah besar.

Setelah itu, gue bener-bener ga tau apa yang harus gue lakukan. Harus jadi apakah gue? Harus kemana langkah gue setelah itu? Clueless.

Gue pikir penyangkalan adalah jalan terbaik bagi penyembuhan, ternyata nggak.

Gue lalu memusatkan konsentrasi kepada sesuatu bernama ‘harapan’. Harapan selalu jadi teman baik gue di segala situasi, karena gue percaya harapan itu selalu ada, hehe.

Sekarang?

Kayaknya gue udah mulai sembuh. Terima kasih kepada si ‘Harapan’, hehehehe...

Oleh karena itu, gue rasa gue harus mulai sesuatu yang baru dari sekarang. Ga perlu menunggu tahun baru datang, gue ingin segera memulai pembaruan. Jadi... gapapa dong kalau gue menemui harapan?? hehehehe.

hari yang aneeeeh~

Ah~ katakanlah gue emang bodoh, cukup bodoh untuk membuat keputusan ini. Tapi, gue kan punya beberapa alesan yang membuat gue kini berada disini.

Udah pernah gue bilang kan di blog sebelumnya, bahwa gue paling sebel dan takut dengan kesendirian, tapi anehnya, kesendirian adalah ketakutan yang paling mudah gue atasi.

Sebel.

Rasanya gue pengen bilang kalo gue merasa kali ini gue tidak beruntung. Parahnya, gue pengen bilang kalo dunia tidak adil pada gue... hari ini.

Gue terlanjur berada disini, tidak sendiri, tapi sangat merasa sendiri.

Ingin bisa mengatasi, tapi justru mengharapkan keajaiban.

Hari ini seharusnya gue membuktikan bahwa gue bisa, sendiri, mandiri, dan hidup dibawah kendali gue. Melakukan apa yang seharusnya gue lakukan, memenuhi kewajiban gue, membangun mimpi gue, dan berjuang untuk mencapai mimpi gue.

Tapi...

Gue malah merasa belum mampu.

Abnormal.

Hari ini, abnormal.

Tuesday, November 18, 2008

Suatu Sore

Aku duduk menunggu wajah-wajah yang kukenal untuk menemaniku disini. Butuh waktu bagiku untuk menyadari dan mengerti bahwa kesendirian adalah sesuatu yang paling kutakuti dan juga paling bisa kuatasi. Maka, disinilah aku bicara, eh, maksudnya menulis kata demi kata, frase-frase yang tidak begitu penting.

Hujan tiba-tiba turun dan aku bersyukur tidak meninggalkan jaket  di rumah. Jaket tua itu telah menjadi bagian penting dalam hidupku. Jaket itu memberikan terlalu banyak kenyamanan, tapi itulah yang menjadi hal penting yang belakangan kubutuhkan: kenyamanan.

Aku mencoba bicara, melantur, tapi biarlah. Paling tidak, aku sudah mencoba. Mencoba untuk membuat diriku sibuk ditengah-tengah kerumunan orang yang benar-benar sibuk. Supaya mereka tidak melihatku sendirian, menganggur, dan menyedihkan karena menunggu kehadiran teman-teman.

Sebenarnya, aku tidak benar-benar menantikan teman-teman. Aku sayang mereka, tetapi satu yang membuatku menunggu kali ini, kemarin, dan mungkin besok juga, adalah seseorang, bukan teman, belum. Dia orang asing, dan kalian tidak bisa menjadikan orang asing sebagai teman begitu saja bukan?

Saat ini, aku menikmati perasaan aneh yang muncul ketika dia ada. Jantung berdetak lebih cepat dan keras, dan entah sampai kapan bisa kutahan. Kira-kira, apa yang akan menjadi permulaan kami ya? Entahlah. Apakah akan ada permulaan? Atau, akan terus tak tergambarkan seperti ini?

Oh, kenapa aku menuliskannya disini?? Hahahahaha...

Ok, salah satu dari temanku datang, dan aku tidak ingin dia mengolok-olok melankolisme yang sedang merundung ini, hehe.

Kami berbincang sebentar, aku dan temanku itu. Kemudian hujan berhenti, dan tak lama ia juga pergi. Menghampiri bagian barunya yang sedang penuh warna warni.

Aku sendiri lagi. Sayang sekali, aku bahkan tak tahu apa lagi yang harus ditulis. Atau... haruskah aku merengek tentang bagaimana aku menyesal telah memangkas rambutku? Terlihat berantakan, padahal aku memang sudah berantakan, jadi sebetulnya aku tak lagi butuh sesuatu yang bisa membuatku tambah berantakan, hehehe.

Lalu... ditengah kebosanan yang semakin menjadi-jadi... meski masih ingin merengek soal rambut, tiba-tiba muncul hal yang lebih penting.

Kehadirannya. Dia datang, dan sensasi itu lagi-lagi begitu mengganggu.

Aku harus bagaimana?? Sementara teman-teman berdatangan dan mulai mengisi ruang dan waktu dengan celotehan dan gelak tawa. Aku ikut terlibat, dalam celotehan itu, dan dalam gelak tawa. Tetapi, aku sesungguhnya ingin sendiri, meski berjarak 4 meter darinya, aku ingin sendiri bersamanya.

Mungkin besok?

Monday, November 17, 2008

We HAVE to LIVE!!

Waktu itu gue nonton “One in a Million” di Discovery Channel. Program itu isinya tentang probabilitas yang terjadi di dunia. Contoh yang dipakai macem2, dan kebanyakan merupakan kasus yang biasa terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Program yang inspiring, dan sangat bermanfaat. Tapi, dibalik semua keterkejutan gue atas beberapa probabilitas yang dapat terjadi dalam beberapa kasus di dunia ini, adalah salah satu kalimat terakhir, yang merupakan kesimpulan terakhir pada episode itu.

Probabilitas mengenai keberadaan kita di dunia ini, di bumi, lebih tepatnya.

Katanya, “kemungkinan kita tidak bisa berada di dunia ini adalah 100 : 100. Lebih jelasnya, ada 100% kemungkinan kita tidak bisa berada di dunia”.

Teori itu dibuat berdasarkan perhitungan dari mulai terbentuknya bumi dan ekosistem, sampe proses produksi manusia dari manusia. Banyak sekali kemungkinan yang bisa membuat kita ga ada di dunia ini. Lantas, kenapa kita bisa berhasil berada di sini? Kata mereka, itu karena keberuntungan. Tapi, menurut gue, itu karena kuasa Tuhan.

Wah...

Kemungkinan gue, elo, mereka, kalian, kami, kita semua tidak bisa hadir di dunia itu 100%. Jadi, ketika kita diberi secuil kesempatan untuk menikmati hidup... kenapa disia-siakan???

Let’s live life to the fullest, friends!

Tuesday, November 11, 2008

Mainan baruuuuuu!!!

Angga boleh saja pergi, hehehe…

Tapi kini, rangers punya mainan baru!

Nih~

Namanya Rio, umurnya 5 bulan.

Lucu yaaaaa?!?

Ada bayi!! Hihihi…

Meskipun Rio cuma sesekali aja dibawa ke markas rangers, tapi cukup buat kami terhibur.

Haahaha…

Gemessss…

Soalnya Rio anteng banget… di gendong siapa aja mau… meski agak mellow, tapi dia nyenengin kok. Suka senyum-senyum… Hihi..

Tuesday, November 4, 2008

keracunan

Gue kemarin makan cokelat, enaaaak banget…

Agak aneh sih, soalnya tiap gigit ada rasa-rasa yang aneh.

Gue pengen berhenti makan, tapi…

Sayang…

Pada kemasannya tertulis “Cokelat kualitas nomor satu”. Belum lagi dengan embel-embel “Limited Edition”.

Lama-lama gue mulai sakit perut.

Akhirnya, sebelum cokelat itu bener2 habis, gue berhenti makan.

Lalu, gue bersyukur, karena ternyata cokelat itu beracun.

Wah, meski awalnya gue bodoh, tapi gue cukup pintar bukan untuk berhenti makan (racun)??

Salam damai! ^^v