Tuesday, March 30, 2010

Nyampah Soal Pak Tua

Menindaklanjuti kekesalan gue tadi siang, gue akan memaparkannya di sini. Ga mau baca juga gapapa.. Ini perasaan yang membuncah saking udah menumpuk selama 6 bulan. Hati-hati, tulisan ini mengandung nilai-nilai kebencian, hahahahahaha...

Orang itu amat sangat ooh teramat mengganggu.

Dia suka:

1. Melempar tutup gelas (yang bunyinya sangat menyebalkan itu)
2. Menggebrak meja
3. Menutup laci dengan keras
4. Membanting apapun yang bisa dibanting (dan tidak pecah, biar ga ganti gitu, bah~)
5. Membuat keributan dari garpu dan sendok yang dipukul-pukul ke pinggir piring

Awalnya gue pikir dia emang cuma cari perhatian. Kayaknya karena emang ga ada yang sayang sama dia di sana, jadi dia cari perhatian dengan cara yang menyedihkan macam itu. Tapi lama-lama, gue punya analisis lain.

Dia MEMANG cari perhatian. Tapi hal terbesar yang jadi masalahnya adalah, dia tidak bisa mengendalikan emosinya. Alih-alih memperbaiki diri (ga mungkin bisa dilakukan, kecuali ada mukjizat), dia malah menyalurkan emosinya dengan cara yang sangat mengganggu, destruktif, dan mengancam keselamatan banyak orang.

Gue sering (dan masih sering sampe sekarang) berimajinasi, saking merasa terancamnya... Gue berimajinasi, suatu saat dia 'kambuh' dan melempar tutup gelas ke muka gue. Atau, tiba-tiba menonjok pipi gue. Ga ada yang tau, kan???

Awalnya gue pikir ketakutan gue itu berlebihan. Tapi kayaknya sangat wajar deh. Apalagi setelah dia melakukan HAL BODOH YANG MENGGANGGU dan hampir merusak barang pribadi gue. Setelah itu? Apa? Dia senyam-senyum dengan najongnya. Padahal, gue tadi udah mengeluarkan tatapan marah buatnya. Tapi dia ngeloyor pergi tanpa kata maaf sedikitpun. KONYOL LUAR BIASA!!!

Dia ga punya hati dan pikiran yang siap untuk menerima kesalahan orang, apa lagi kesalahan dirinya. Dia ga punya kebesaran jiwa untuk meminta maaf, mengakui kesalahan, atau bertanggung jawab. Dia ga punya kebanggaan atas kemajuan lingkungan sekitarnya, makanya dia stuck di sana, dan ga mampu mendorong penerusnya supaya lebih maju karena dia ga mau ada yang maju.

Dan dia adalah pemimpin yang salah. SALAH BESAR.

Sebentar lagi, kalau tidak ada yang berubah, dia akan ditinggalkan. Oleh orang-orang yang disepelekannya, oleh orang-orang yang selalu jadi tumbal kesalahannya, oleh orang-orang yang dia tidak ingin mereka maju, dan orang-orang yang selalu (terpaksa) menerima segala keganjilannya hanya karena tidak ada cara lain.

Dan ternyata, usia MEMANG tidak menentukan kedewasaan seseorang. Seumuran bokap gue kok tingkah kayak bocah ga diajarin sopan santun sama orang tuanya. HERAN!

To sum up, he is the most ignorant and annoying person who desperately needs to be the center of attention in a pathetic kind of way, loves to kill joy and poops at any party, and disturbed mentally, emotionally and spiritually.


Poor you, old man.

Change now, or end in smoke.

ANJRIT!!! EMANG GANGGUAN JIWA DIA!!! SEKALI LAGI DIA MELAKUKAN PERBUATAN TIDAK MENYENANGKAN, GUE PINDAH TEMPAT DUDUK! SUMPAH!!!!!!



Monday, March 22, 2010

Cut it off, uncle! ^^v

My uncle tried to forbid me when I was cutting off name tags.
He said, "let me.."
Still holding the cutter, I said back, "no, I can do it by myself."
He said again with a deeper tone, "let me."
I said back again, "I can do it, uncle. Just leave it to me, please. I have nothing else to do, though"
He instantly shout, "You did it wrong! Your fingers are too close to the edge. I'm afraid you might cut yourself!"
I laughed loudly, so did the rest of the people in the room
"I play with knife every day in the kitchen, uncle.. It's not a big deal, even if I accidentally cut my self." I tried to make him understand.
"No, let me." He insisted.
I gave up the cutter and the ruler.
He, then, mumbled about his old friend who cut his own finger. That poor guy had a visible scar about an inch long.
I stood beside him, giggling while watching that last name tag being cut. Realizing my existence, he asked me like asking his little daughter to go to her room. "Now go make some cool copy like that one for the job fair project! I like it a lot. Leave this to me."

He's the best, isn't he? :D

Perfectly Imperfect

We all hate each other.
We'd rather talk about each other flaws but avoid to face our own flaws.
We are failed to communicate.
We are not able to support each other.
We are not made to accept ourselves just because we are expected to be perfect.
Frankly saying...
We are ignoring the truth that we are all perfectly imperfect.

Nama Belakang

Namaku Annisa Rahma. Begitu sejak dulu, sejak lahir. Begitu yang terdaftar di setiap dokumen penting: akte kelahiran, kartu keluarga, ijazah, kartu pelajar, KTP, paspor. Dulu, ayahku, yang saat itu sering mengantarku les piano, suka menulis namaku di buku piano dengan mencantumkan nama depannya. Jadi bunyinya begini: Annisa Rahma Firman. Tapi itu informal. Seumur hidupku, ya namaku tetap Annisa Rahma.

Aku mulai sering bertanya-tanya setelah itu. Kenapa aku tidak punya nama belakang alias nama keluarga alias nama ayahku? Kata ibuku, karena nantinya nama kami (semua anak-anaknya) pasti akan punya nama belakang dengan selipan "Bin" atau "Binti" sebelumnya. Secara islam, lebih singkatnya. Jadi, Annisa Rahma Binti Firman Haris.

Tapi aku mulai menyesali setelah makin dewasa, aku memerlukan dokumen penting yang mengharuskan aku mencantumkan nama belakangku. Paspor, sertifikat internasional, sampai formulir-formulir internasional. Karena tak punya nama belakang, jadilah seringkali "Rahma" menjadi nama belakangku alias nama keluarga. Meskipun bukan begitu kan seharusnya? Malahan, di salah satu sertifikat keikutsertaanku di summer camp kemarin, namaku tertulis terbalik: Rahma, Annisa. Mereka berasumsi "Rahma" adalah nama belakangku, dan karena mereka adalah orang Korea, yang biasa menuliskan nama keluarga di depan.

Di saat yang sama, di summer camp itu, seorang panitia pernah mengetuk kamar kami yang saat itu sedang rapat kontingen. "Hey, sorry.. I'm looking for Mr. Suratno. Is he here?" Kami semua terdiam dan saling pandang. Tak ada yang bernama Suratno, tapi sangat yakin nama "Suratno" adalah nama Indonesia. Kemudian, setelah beberapa detik saling bertanya-tanya, salah satu diantara kami terhenyak. "Gue! Gue! Itu nama bokap gue!" Begitulah. Saking tak terbiasanya menggunakan nama belakang alias nama ayah.

Aku tidak pernah bermasalah jika kami semua harus mengikuti tata cara nama islam seperti penggunaan "Bin" atau "Binti". Teman-teman Malaysia juga begitu kok, xxxx Bin xxx. Penamaan itu jelas dan tercantum di mana-mana, termasuk di dokumen penting. Tapi kita di sini kan nggak begitu. "Bin" dan "Binti" hanya disebutkan saat akad nikah dan meninggal. Ya kaaan?? Sementara sepanjang hidup, namaku tetap Annisa Rahma. Padahal banyak dokumen yang memerlukan nama belakang, nama ayahku.

Ibuku pernah bilang lagi, katanya ada masa ketika pemerintah tidak mengizinkan pencantuman nama belakang ayah pada nama anaknya. Termasuk pencantuman marga sekalipun. Itu baru berlaku beberapa tahun belakangan, katanya. Bagitukah? Kalau lihat dari contoh yang ada, memang begitu sih. Ini hanya contoh ya.. Megawati Soekarno Putri. Kenapa bukan Megawati Putri Soekarno? Aku membayangkan betapa lucu jadinya kalau Bu Mega mencantumkan nama belakangnya "Putri" di paspor, padahal yang seharusnya dicantumkan adalah nama ayahnya yang besar, "Soekarno".

Pencantuman marga menjadi nama belakang juga katanya tidak diizinkan. Beruntung ibuku tidak sempat mengalami itu, jadi ia masih bisa mencantumkan nama belakang dengan marga Sumatera Utaranya. Ada contoh juga yang terjadi, salah satu teman SMA ku mencantumkan marganya di tengah. Nama belakangnya jadi nama biasa, yang bukan khas daerah. Seperti ingin tetap melestarikan nama belakang/marga, tapi terpentok peraturan yang tak masuk akal.

Aku heran, kalau peraturan itu memang ada, kenapa begitu??? Kenapa malah mempersulit sesuatu yang justru mempermudah? Nama belakang kan justru mempermudah. Kita jadi bisa menklasifikasi, jadi tahu siapa ayahnya, siapa keluarganya. Secara internasional, segala dokumen kita juga pasti jadi akan lebih mudah dan rapih. Tanpa nama belakang ayahku, bagaimana mereka bisa begitu saja percaya bahwa aku adalah anak ayahku tapi kami tidak memiliki nama belakang yang sama? Lucu kan?

Wednesday, March 3, 2010

Mengetik Ulang Kesalahan

Di sini banyak copy writer. Gue bukan salah satunya. Gue cuma messenger/re-typist. Jabatan "Copy Writer" hanya ada di kontrak kerja. Jadi, kalau ada pekerjaan yang mengharuskan gue mengetik ulang, termasuk mengetik ulang sesuatu yang salah sekalipun, adalah resiko gue, bukan mereka. Karena, orang-orang di luar sana hanya tahu gue-lah sang copy writer, padahal bukan begitu keadaannya. Asiknya lagi, gue sama sekali ga punya bargaining position. Pasrah tapi makan ati.

Jadi, detik ini juga, gue sedang mengumpulkan kekuatan untuk mempertahankan apa yang menurut gue benar. Resikonya jelas: dicap pembangkang. Keren kan?

Lebih baik mana? Berdiri tegak memegang teguh kebenaran tapi dicemooh atau bersembunyi di balik sesuatu yang salah tapi selamat?





Sedang memutuskan...