Wednesday, October 29, 2008

Anomali Nominal

Beberapa kali gue sering terjebak dalam pembicaraan mengenai uang, oke, lebih spesifik lagi mengenai gaji.

Sesungguhnya gue bingung, apalagi kalo harus ikut berkomentar, atau harus menjawab sesuatu semacam, “Kira-kira, pantesnya gajinya berapa ya?”. Kenapa? Karena gue belum bekerja, hehe.

Tapi, mungkin karena gue belum bekerja itulah, gue jadi bisa berpikir ‘kemana-mana’, hihihi…

Ada seorang teman, lulusan Geografi. Sebelum kuliah, dia pernah bekerja di sebuah penerbitan. Setelah lulus, dia bekerja sebagai reporter di sebuah stasiun televisi. Waktu itu gue rada iri hati juga, lahan kami (orang komunikasi) kenapa bisa semudahnya diisi dengan mereka bukan dari bidang itu. Ini semacam ‘pelecehan’ bagi ilmu komunikasi, karena sepertinya dianggap sebagai ilmu yang bisa dikuasai semua orang, dari latar belakang pendidikan apapun, bahkan bisa dipelajari ditempat. Uh!

Ok, urusan ‘ilmu komunikasi’ ini lain kali aja gue bahas (baca: curhat) lagi ya, hehehe..

Nah, tak berapa bulan kemudian, temen gue itu mendeklarasikan dirinya sudah keluar dari stasiun tv tersebut. Alasannya: gaji yang ia dapat tak sesuai dengan segala kesusahannya dalam bekerja.

*ralat*

temen gue itu bukan berhenti dari stasiun tv tersebut karena gaji. sepertinya ada masalah lain yang tidak gue mengerti. Untuk itu, mohon maaf kepada yang bersangkutan karena telah memberikan informasi yang salah. juga karena telah menuliskan ceritanya disini, meski sesungguhnya ini tidak ada unsur pribadi sama sekali. Hanya untuk berbagi pandangan mengenai uang(gaji).

Segala sesuatunya tentang postingan ini telah kami selesaikan dengan baik2. Semoga ini bisa menjadi pelajaran bagi gue, dan para blogger lainnya untuk lebih santun lagi dalam menulis. Salam damai! ^^v

 

Kasus kedua, abang gue sendiri.

Dulu, waktu dia masih cari-cari pekerjaan, dia sering banget tanya, “enaknya abang bilang mau gaji berapa ya, Cha?”

Bah! Mana gue tau, kan?! Gue bahkan belum bekerja, jadi bayangan aja nggak ada.

Lalu, ketika dia kini udah bekerja, isu gaji itu kembali diutarakannya, lagi-lagi dalam perjalanan pulang dari kampus.

“Kenapa ya Cha, gaji si A beda dengan si B, padahal level sama, divisi juga sama.” Terus juga, ada pertanyaan, “Kenapa si Bapak X gajinya cuma sekian, padahal dia cukup senior dan penuh pengalaman?”

Gue makin bingung.

Lalu gue balik bertanya, “kenapa sih orang selalu menghargai pekerjaannya hanya dari sisi nominal gajinya? Apa orang-orang ga bisa melihat value yang tidak ada nominalnya?”

Abang yang bingung sekarang. “Maksudnya?”

“Yeah, pekerjaan itu kan bukan hanya menghasilkan penghasilan (uang) buat kita, tetapi juga pengalaman, ketrampilan, pendewasaan, dan kebahagiaan. Semua itu kan ga ada nilai nominalnya. Kenapa hal-hal macam itu sering ga diperhatikan ya? Kenapa orang selalu menuntut sesuatu yang jelas nominalnya? Apa sejumlah uang itu bisa menjamin kita mendapatkan keuntungan lain yang tidak ada nominalnya?”

Abang diam sebentar, lalu berkata, “iya sih…tapi ujung-ujungnya kan kita harus mikirin biaya kehidupan kita, Cha. Melahirkan aja bisa sampe 15 juta!” Hahahaha… lucu juga nih abang, tiba-tiba ngomongin melahirkan… :D

Tapi, kata-katanya itu malah bikin gue semakin berpikir. Kehidupan ini, kenapa kita terpaku pada hal-hal materi? Apa semuanya bisa diukur dengan uang?

Kata abang, hidup itu butuh perencanaan finansial. Oke. Gue paham. Tapi, kelihatannya, kita malah semakin dikendalikan oleh uang, padahal seharusnya kita yang mengendaliakan uang, ya bukan?

Menurut gue, perencanaan finansial itu perlu. Tetapi, prinsip “cukup” lebih perlu diterapkan. Apa yang menjadi rejeki kita, sebaiknya memang dicukupi, kan? Kalau cuma bisa lima ratus ribu, ya cukup… empat juta, cukup… lima puluh juta, cukup…

Kita yang mengendalikan apa yang menjadi rejeki kita…

Kita juga yang bisa menghargai pekerjaan kita diluar dari konteks materi…

Hi there!

How are you?

You look fine

How’s your day?

Is it as bright as the yellow sun shine upon your shirt or is it dark as the color of your deep eyes?

What are you up to? Life? Love?  Or something in between?

Hmm.. I wonder if you wanna know my day..

Hm… it’s a mixed-of-color day like a rainbow struck by lightning and covered in dark grey clouds.

But I am glad that I found a bright little falling star when you’re here.

Thank God I’m alive, but catching breath is still my current issue.

It’s silly, yet so real. Do you feel that?

By the way, my name is Questioning Heart, and you are?

Game

I quit every game I play, that’s true.

It doesn’t mean that I’m a quitter, because I’m better than that. I know how to quit.

But now, this time, I’m in trouble.

I don’t know how to quit.

This game, I don’t even know how to play!

It’s getting more intense, and I’m stuck.

My hands are shaking because they’re tired to hold the joy stick.

They tired controlling the game.

But my brain, it tells me to keep playing.

It tells me that winning is just a block away.

My heart shouts out loud, saying “Follow me!”

Oh..

What should I do???

Monday, October 27, 2008

Akhir Cerita Angga (?)

Pengumuman…

Mamanya Angga nggak kerja lagi dirumah gue… Itu berarti tiada Angga menemani hari-hari kami.

Alasannya, karena suaminya Mba Yanti (mamanya Angga), nggak mengizinkan dia kerja lagi. Entah kenapa, ga jelas juga. Mungkin ada masalah keluarga juga. Denger-denger si mba mau pulang kampung ke Jawa dulu. Dia juga ga yakin Angga ntarnya sekolah dimana, bisa disini, bisa di Cibentang, bisa juga di Jawa.

Yah..

Begitulah…

Waktu itu Mba Yanti dan Angga dateng kerumah, mengenalkan calon mba baru. Waktu mereka dateng, gue masih tidur.

Mama lalu menyuruh Angga bangunin gue (seperti ritual dulu kala) dengan cara memanggil gue dari teras belakang (yang berada tepat dibawah kamar gue).

“Kak Cacha…. Kak Cacha… Bangun! Sarapan!”

Gue yang masih terlelap mendengarnya setengah sadar. Antara mimpi, sama kenyataan, hehehe.

Terus si Angga manggil-manggil lagi, sampe gue yakin itu beneran suara Angga. Gue langsung lompat dari tempat tidur dan segera turun.

Hyahaahahah… ternyata beneran si Angga.

Begitulah pertemuan terakhir kami, huhuhu…

Kangen juga…

Biarpun dia nyebelin, ngeselin, tapi.. yah… gue kenal Angga bahkan waktu dia masih di dalem perut ibunya. Jadi, udah ada hubungan emosional diantara kami dan si Angga, hehehehehe…

Jadi, ga ada lagi yang nangis-nangis, merengek minta ini itu, teriak-teriak, nyanyi maupun mengoceh ga jelas.

Ga ada lagi yang berendem seharian, dan mengunyah sepanjang waktu.

Ga ada lagi yang gerecokin gue bikin kue, ga ada lagi yang nemenin gue beli kopi di warung, ga ada lagi yang minta gue main piano lagu Kelinci dan Cicak…

Ga ada lagi yang bangunin gue di pagi hari…

Ga ada lagi yang bisa gue ajak main kalo lagi nganggur siang-siang dirumah…

 

Ah, Angggaaaaaaaaa…..

Thursday, October 23, 2008

:D

A precious family…

A fond boyfriend…

A bunch of marvelous best friends…

It’s more than enough.

It’s superb.

My 22nd birthday..

I felt nothing but blessed.

Thank you…

I love each one of you, BERRY-CHERRY MUCH!!

..and I really mean it.

I love you, Ari...

Aduuh…

Lagi mengharu biru niiih…

 

Setelah cukup hore-hore di kampus, begitu sampe rumah…

Ari bukain pintu trus bilang “Slamat ulang tahun, Kak!”

Lalu dia menyodorkan sesuatu: gelang dari benang wol yang dianyam.

Gue pikir, itu salah satu hasil prakarya dia di sekolah..

Ternyata, dia sengaja  bikin di rumah selagi gue kuliah..

Dianyam sendiri, buat gue sebagai kado ulang taun!!!!

 

Ooooh…

Adik bungsu ku itu memang bukan bayi lagi…

Anak-anak aja bukan.

Dia udah menginjak remaja, umurnya 15

Tapi, masih sanggup bikin gue terharu.

 

Pengen nangis deh…

*untung Ari-nya udah bobo waktu gue mendadak mellow,hahaha*

 

 

Kak cacha sayang Ari!! Hahahahahahha…

Tuesday, October 21, 2008

Huffff~

I will blow out the candle

To strike a blow for my hopes and dreams, and blow away the doubts

I will do it at one blow

And the rest, will be done blow-by-blow 

Sunday, October 12, 2008

Life's Roller-coaster

We’re riding the scariest roller coaster, you know that. So stop shaking yourself like you’re going to throw up. Just sit there, grab the safety belt, and enjoy the ride.

The roller-coaster sucks, we all understand. But seeing you overreact about it, sucks more than anything. No one will sit next to you. No one will hold your hand when you get scared.

Now, do you have faith? Because I see that you’re losing your faith every time we’re rolling in too deep.

Then, what about me? Did you ever think that I might not feel like it, riding it, with you?

Think again, before it’s too late.

Monday, October 6, 2008

Let me be...

I am sugar, spice and everything nice.

Chemical X’s also added.

But unlike those Power Puff Girls, the Chemical X doesn’t make any super power.

Because it contains anger, hatred, and stupidity

And that have made me more sensitive than Bubble, smarter than Blossom and stronger than Buttercup.

I am more human

So let me be..