Beberapa kali gue sering terjebak dalam pembicaraan mengenai uang, oke, lebih spesifik lagi mengenai gaji.
Sesungguhnya gue bingung, apalagi kalo harus ikut berkomentar, atau harus menjawab sesuatu semacam, “Kira-kira, pantesnya gajinya berapa ya?”. Kenapa? Karena gue belum bekerja, hehe.
Tapi, mungkin karena gue belum bekerja itulah, gue jadi bisa berpikir ‘kemana-mana’, hihihi…
Ada seorang teman, lulusan Geografi. Sebelum kuliah, dia pernah bekerja di sebuah penerbitan. Setelah lulus, dia bekerja sebagai reporter di sebuah stasiun televisi. Waktu itu gue rada iri hati juga, lahan kami (orang komunikasi) kenapa bisa semudahnya diisi dengan mereka bukan dari bidang itu. Ini semacam ‘pelecehan’ bagi ilmu komunikasi, karena sepertinya dianggap sebagai ilmu yang bisa dikuasai semua orang, dari latar belakang pendidikan apapun, bahkan bisa dipelajari ditempat. Uh!
Ok, urusan ‘ilmu komunikasi’ ini lain kali aja gue bahas (baca: curhat) lagi ya, hehehe..
Nah, tak berapa bulan kemudian, temen gue itu mendeklarasikan dirinya sudah keluar dari stasiun tv tersebut. Alasannya: gaji yang ia dapat tak sesuai dengan segala kesusahannya dalam bekerja.
*ralat*
temen gue itu bukan berhenti dari stasiun tv tersebut karena gaji. sepertinya ada masalah lain yang tidak gue mengerti. Untuk itu, mohon maaf kepada yang bersangkutan karena telah memberikan informasi yang salah. juga karena telah menuliskan ceritanya disini, meski sesungguhnya ini tidak ada unsur pribadi sama sekali. Hanya untuk berbagi pandangan mengenai uang(gaji).
Segala sesuatunya tentang postingan ini telah kami selesaikan dengan baik2. Semoga ini bisa menjadi pelajaran bagi gue, dan para blogger lainnya untuk lebih santun lagi dalam menulis. Salam damai! ^^v
Kasus kedua, abang gue sendiri.
Dulu, waktu dia masih cari-cari pekerjaan, dia sering banget tanya, “enaknya abang bilang mau gaji berapa ya, Cha?”
Bah! Mana gue tau, kan?! Gue bahkan belum bekerja, jadi bayangan aja nggak ada.
Lalu, ketika dia kini udah bekerja, isu gaji itu kembali diutarakannya, lagi-lagi dalam perjalanan pulang dari kampus.
“Kenapa ya Cha, gaji si A beda dengan si B, padahal level sama, divisi juga sama.” Terus juga, ada pertanyaan, “Kenapa si Bapak X gajinya cuma sekian, padahal dia cukup senior dan penuh pengalaman?”
Gue makin bingung.
Lalu gue balik bertanya, “kenapa sih orang selalu menghargai pekerjaannya hanya dari sisi nominal gajinya? Apa orang-orang ga bisa melihat value yang tidak ada nominalnya?”
Abang yang bingung sekarang. “Maksudnya?”
“Yeah, pekerjaan itu kan bukan hanya menghasilkan penghasilan (uang) buat kita, tetapi juga pengalaman, ketrampilan, pendewasaan, dan kebahagiaan. Semua itu kan ga ada nilai nominalnya. Kenapa hal-hal macam itu sering ga diperhatikan ya? Kenapa orang selalu menuntut sesuatu yang jelas nominalnya? Apa sejumlah uang itu bisa menjamin kita mendapatkan keuntungan lain yang tidak ada nominalnya?”
Abang diam sebentar, lalu berkata, “iya sih…tapi ujung-ujungnya kan kita harus mikirin biaya kehidupan kita, Cha. Melahirkan aja bisa sampe 15 juta!” Hahahaha… lucu juga nih abang, tiba-tiba ngomongin melahirkan… :D
Tapi, kata-katanya itu malah bikin gue semakin berpikir. Kehidupan ini, kenapa kita terpaku pada hal-hal materi? Apa semuanya bisa diukur dengan uang?
Kata abang, hidup itu butuh perencanaan finansial. Oke. Gue paham. Tapi, kelihatannya, kita malah semakin dikendalikan oleh uang, padahal seharusnya kita yang mengendaliakan uang, ya bukan?
Menurut gue, perencanaan finansial itu perlu. Tetapi, prinsip “cukup” lebih perlu diterapkan. Apa yang menjadi rejeki kita, sebaiknya memang dicukupi, kan? Kalau cuma bisa lima ratus ribu, ya cukup… empat juta, cukup… lima puluh juta, cukup…
Kita yang mengendalikan apa yang menjadi rejeki kita…
Kita juga yang bisa menghargai pekerjaan kita diluar dari konteks materi…
Welcome to the real world..
ReplyDeleteEverything its all about money^^
we hate it also love it..
hmm peningkatan standar hidup kali..
ReplyDeletesedangkan yg buat di tabung udah nggak ada lagi
waah bener tuh! kalau kata nyokap gue... dapet gaji berapa aja, pasti tetep rasanya kurang. jadi... syukuri gaji (atau uang jajan) yang sekarang kita dapet, berapapun juga nominalnya :)
ReplyDeletekarena yang memberikan value pada "uang" bukan kita semata,
ReplyDeletedan kita gak hidup sendirian... :(
perencanaan finansial ya?
ReplyDeleteisinya income, expenditure.....
selanjutnya plann dan actual....
hufff.....
mm... gue yang pernah terseok-seok masalah uang, bisa ngomong panjang lebar di sini.. males nulisnya.. kapan2 aja lah kita curhat-mencurhat nnis.. hihihihiii...
ReplyDeletehmm.. berhubung gw tipe yang 'hidup untuk hari ini',
ReplyDeleteselama pikiran dan tenaga yang gw keluarin di bayar seimbang...
dan meskipun gw habisin 3/4 hidup gw di kerjaan tapi gw masih bisa senang-senang baik sambil maupun diluarnya...
money's not a big deal anymore...
nikmatin hidup yang cuma sekali ini :) hihihi..
PS: jeleknya, prinsip itu bikin boros & ga bisa nabung.. mwahhaha, oh well, yang penting hepi!
chantniez: yeah... it's aaaallll about moneeeey! it's all about the dum dum dudududum...
ReplyDeleteadit: bisa jadi...
dania: yup! satu kata: bersyukur! hahaha
mas dartz: ah~ bener juga... kita emang ga hidup sendiri... jadi value itu harus dinilai juga untuk kepentingan orang2 lain.. bgitu kah??
rifki: hahaha... curhat kerjaan ya loooo???
rara: oke darling!
mel: live life to the fullest??? hahahahahah... ayo dikit2 belajar menabung, lumayan lhooo.. :)
pegang value kalian soal duit, dan hormati value orang lain juga soal itu.
ReplyDeletemobil tanpa bensin juga gak bisa jalan,
tapi hidup itu gak sekedar cari duit buat bensin kaaann :) hihihi
waah~ bijak sekali mas dartoooo... hahahhaa
ReplyDeleteklo saya pribadi, yg penting bisa berkarya..
ReplyDeleteitu saja sudah senang saya..
bagus ben... pertahankan yaaa... tapi jangan sampe lupa makan... apalagi lupa minum abis makan... hehehe
ReplyDeletebagus ben... pertahankan yaaa... tapi jangan sampe lupa makan... apalagi lupa minum abis makan... hehehe
ReplyDeleteIt's all about dumdumdududu dum.. CokLat gw doNg?! Hahaha..
ReplyDeleteUang emang bukan sgalanya, nenk.gw setuju ttg CUKUP yg lo tulis. KL ttg rejeki mah,nykp gw slalu ngajarin untuk BERSYUKUR aja.hehe