Wednesday, July 29, 2009
Tuesday, July 28, 2009
Mengajari Angga Sekolah (Hari ke-2)
Setelah dia siap, dia langsung bersemangat memanggil-manggil gue dan fina untuk ikut serta menemaninya ke musholla.
Jam dua seperempat kami berangkat. Angga, mamanya, gue, dan fina. Kali ini gue yang menekankan mamanya harus ikut. Gue kan ga mau juga kalau mamanya cemburu gara-gara anaknya lebih nurut sama gue. Gue juga ga mau sepenuhnya dilimpahkan kewajiban mendidik anaknya, hehehehehe. Gue dan fina kan hanya sebatas pendukung, cheer leader, dan mungkin role model bagi Angga.
Setengah perjalanan, entah kenapa, Angga mulai merajuk. Dia mulai bilang kalau dia nggak mau ngaji, maunya jajan. (TEEENGG!!!! KESALAHAN DIDIK NOMOR SEKIAN).
Dengan segala upaya, kami berhasil meneruskan perjalanan. Begitu sampai di pelataran mushola (tempat yang sama dimana banyak abang-abang jualan), Angga merajuk lagi. Yang dia inginkan hanya jajan mainan. Kalaupun dia (terpaksa) ngaji, dia harus beli mainan dulu baru ngaji.
Gue menyerah. Fina juga. Kenapa? Karena ibunya lembekkkkk banget. Anaknya dibiarkan mewek dengan menyebalkannya di tengah lapangan dan ditonton orang-orang. Seharusnya kan dia bisa lebih tegas. Gue dan Fina menyingkir. Kami masuk halaman mushola dan duduk disana dengan harapan Angga akan mengikuti kami.
Ternyata tidak.
Dia dan ibunya masih terus berdebat dan bahkan Angga mulai mengancam untuk kabur. Dari kejauhan kami hanya bisa mengamati tingkah polah Angga yang sangat menyebalkan itu.
Angga mulai melangkah (terlalu) jauh. "Ayo Kak, saatnya bertindak," kata Fina.
Gue kejar anak itu. Bodohnya dia malah tertawa, karena dia pikir gue sedang mengajaknya main kejar-kejaran. Dodol!
Ibunya tetap menunggu di ujung jalan tanpa mengetahui situasi saat itu.
Gue dan Fina bikin kesepakatan dengan Angga. Kesepakatan yang tidak gue suka tapi apa daya. Kesepakatannya gini: Angga boleh beli mainan dulu, tapi mainannnya gue yang pegang. Kalau Angga mau masuk musholla dan duduk mendengarkan ibu guru, mainannya akan gue kembalikan saat pulang nanti. Tapi kalau Angga nggak mau masuk, mainannya akan gue tahan selamanya! hahahahahaha.
Berhasil. Dengan bekal mainan power ranger plastik seribu perak, Angga berhasil dirayu untuk masuk, tapi dia belum mau duduk meski gue, Fina dan ibunya sudah mencontohkan duduk manis di dalam.
Angga mengamati suasana lagi. Jalan kesana kemari. Pada akhirnya sih dia mau duduk di sebelah gue, di dekat ibu gurunya. Tapi itu juga tak lama, dan dia sangaaaaaattt tidak sabar. Biarin aja, gue tahan sekuat mungkin supaya paling tidak dia bisa melihat bagaimana interaksi belajar mengajarnya.
Akhirnya tingkahnya semakin menjadi-jadi. Dia membentak-bentak ibunya supaya segera pulang. Ibu gurunya aja sampe berkomentar, "tuh, anak sekarang emang galak-galak karena terpengaruh televisi. Jangan sering-sering dikasih nonton televisi, Bu."
TENG TENG TEEEEEENG!!!! Soal tv mah udah lama kami mewanti-wanti ibunya.. Tapi tak terlalu digubris tuh. Sekarang, terbukti kan???
Intinya, hari ini gue rasa lebih sulit dari hari kemarin. Kenapa? Karena sosok ibunya justru malah jadi 'senjata' buat Angga untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Alih-alih sebagai orang yang harusnya berperan utama, ibunya malah tak bisa mengendalikan anaknya. Sementara gue bingung sendiri harus gimana. Marahin berlebihan juga ga bisa. Emangnya gue siapa? Hahahahaha... Tapi kalau dibiarin juga gue gemes sendiri.
Emang susah.
Besok gue masih bertahan apa nyerah aja ya??
Monday, July 27, 2009
Mengajari Angga Sekolah
"Saya lagi daftar di dalem, Angga ga mau masuk. Malah pulang sendiri dia," ujar Mba Yanti, mamanya Angga.
Waktu itu kami masih maklum dan langsung memberi dorongan semangat untuk Angga supaya besok kembali lagi ke musholla. Tapi rupanya ibunya kalah kuat dari anaknya.
"Angga-nya nggak mau." Begitu saja jawaban mamanya.
Setelah dua minggu benar-benar tidak mau les ngaji, gue bertindak. Memang harus ditindak, soalnya kalau dibiarkan terus-menerus, dia akan susah nanti kalau mau sekolah beneran. Ibunya juga harus belajar bagaimana bertahan dari rajukan anaknya dan tidak selalu mengalah.
Gue sih memang blum jadi ibu, tapi gue yakin bahwa anak kecil itu sebenernya cuma malu aja dan dia memang butuh dorongan dari orang terdekatnya supaya mau sekolah. Mana bisa dilepas begitu aja.
Jadi siang itu... Jam 14.15 gue turun menghampiri Angga yang rupanya sudah dalam keadaan dipaksa mandi sama mamanya sambil menangis berteriak-teriak. Kelakuannya mulai kurang ajar ketika dia mulai mengancam melempar handuk dan mengancam kabur kalau tetap dipaksa mandi dan pergi mengaji. Kalau aja gue ga peduli, ya gue biarin aja dia begitu. Bersikap kurang ajar dan seenaknya, terutama kepada ibunya sendiri. Tapi gue mengenalnya sejak dia belum lahir, jadi ada semacam 'tanggung jawab' yang sulit gue jelaskan, hehe.
Gue pun maju. Gue bilang, "oke Ngga, gak usah mandi. Pakai baju biasa aja (bukan seragam TPA). Kita main aja ke depan musholla, lihat-lihat..."
Angga mulai diam, meski tetap nggak mau pergi.
"Kita beli mainan deh disana..." Dengan berat hati gue terpaksa mengeluarkan kalimat bujukan macam itu (yang sebenarnya tidak gue suka, hahaha)
Berhasil. Gue dan Angga (berdua doang, mamanya dirumah) melangkah keluar rumah. Gue menggandeng tangannya cukup keras supaya dia ga berubah pikiran dan lari pulang, hehe.
Mengejutkan, Angga langsung curhat. "Angga tuh nggak suka Kak, disana banyak orang.."
Aku jawab, "lho, namanya juga sekolah... pasti banyak orang. Kan itu semua temen-temennya Angga. Mana ada sekolah sendirian? Nggak enak kan ga punya temen.. ga bisa main..."
Lalu Angga menjawab lagi.. "Tapi Angga diledekkin gendut..."
Yah!! Kejadian deh!! Putar otak secepat mungkin dan terus menggandeng tangannya, saking takut nih anak balik ke rumah.
"Biarin aja... Anak bandel tuh yang suka ngeledek. Maafin aja.. Ntar juga temenan lagi.." Wehh... jawaban macam apa itu?! Hahahahaha..
Lalu kami sampai di pelataran musholla.. (blum sampai masuk pagar lho ya..) Di sana memang banyak penjaja makanan dan mainan. Angga dan gue melangkah mendekati abang yang jual mainan. Kebetulan disana juga ada beberapa anak yang lagi jajan mainan.
Gue udah kayak nyokap dulu yang selalu mendekati gue kepada anak-anak baru dan memperkenalkan kami. Tanggapan dua anak pertama yang bertemu Angga cukup baik. Tak lama datang anak laki-laki yang lebih besar dengan sepedanya.
"Iih... gendut amat tuh anak! Lihat deh~"
Muka Angga berubah. Gue sempet bingung, tapi langsung menjawab.. "tapi baik lho dia... Namanya Angga... Kamu namanya siapa?"
"Bimo," jawabnya. "Mau ngaji juga ya?"
Well... perbincangan dengan Bimo berlanjut, dan terbukti ternyata Bimo anak yang baik, meskipun awalnya dia meledek Angga.
Setelah beli mainan, gue terus membujuk Angga supaya mau masuk, paling nggak sampai melewati pagar. Dia bener-bener nggak mau. Sekitar 20 menit gue membujuk Angga, menarik-narik tangannya dan menjadi pusat perhatian abang-abang jualan, dan ibu-ibu yang lagi nungguin anaknya ngaji.
Segala bujuk rayu nggak mempan. Gue hanya ingin Angga melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa proses belajar di TPA itu menyenangkan, dan bahwa apa yang dia bayangkan itu salah. Gue ga berharap saat itu dia langsung duduk manis mendengarkan guru, bukan! Paling nggak dia observasi dulu.. Anggaplah ini masa orientasi gitu, hehehehe..
Akhirnya senjata pamungkas (yang tidak gue sukai) keluar lagi.
"Ngga.. Abis masuk, liat-liat sebentar terus kita pulang. Nah, sebelum pulang kita jajan lagi deh. Tuh, kan masih ada 1000, beli gorengan deh.. apa mainan lagi..."
Berhasil! Meskipun tetep harus gue dorong-dorong karena langkahnya berat. Oh iya, proses ini juga ditolong oleh Bimo loh.. ehehehehe...
Akhirnya Angga berhasil ngintip kegiatan yang berlangsung di dalam musholla. Dia lihat anak-anak ngaji, ada yang mewarnai, ada yang ketawa-tawa. Dia bahkan berhasil kenalan sama ibu guru yang baik.
Setelah itu selesai, wajahnya sumringah. Beda banget sama waktu masih dirumah dipaksa untuk mandi.
Setelah mau pulang, gue pikir Angga lupa sama janji gue untuk jajan lagi.. Ternyata dia inget! Wadoooh... Yowis, daripada gue berdosa, dan daripada dia belajar berbohong, jadilah gue membiarkan dia jajan lagi. Bukan jajan makanan (alhamdulillah.. hahaha) tapi jajan kelereng, hhahahaha..
Dalam perjalanan pulang, gue meyakinkan Angga bahwa sekolah itu menyenangkan. Dia mengangguk setuju karena dia sudah melihat sendiri tadi. Gue juga meyakinkan bahwa besok dan seterusnya dia harus pergi ke musholla tiap sore untuk belajar mengaji. Dia mengangguk juga.
Sampai rumah, wajah ibunya berseri-seri... Soalnya kami cukup lama berada di musholla. Senangnya, misi ini berhasil, dan semoga bukan cuma hari ini aja.. Tapi hari-hari berikutnya dan dia akan punya banyak teman dan makin pede meskipun kondisi fisiknya yang sangat mudah diledek.
Gue juga mau Angga berubah sikapnya. Selama ini dia sering banget bentak-bentak ibunya. Sering bertingkah tidak sopan kepada banyak orang. Semoga setelah belajar di TPA, dia bisa jadi anak yang baik dan santun.
Ayo Angga.. Semangat!
Limbah Skripsi
Karena akan ada pertemuan keluarga pada hari Minggu, jadi mama memaksa kami semua untuk berbenah rumah, terutama kamarku dan fina, hahahaha.
Dua jam habis untuk berbenah, dan inilah limbah skripsi yang berhasil kukumpulkan...
Oh, pohon...
Maafkan aku...
Monday, July 13, 2009
Mucho Punk
| Rating: | ★★★★★ |
| Category: | Music |
| Genre: | Dance & DJ |
| Artist: | Clazziquai Project |
“World of Oz” is the highlight. It’s magical, it’s fun, and it’s very Clazziquai.
I looooooveeeeeee “Lazy Sunday Morning”!!! I can’t say anything more than that. The song always made my day, just like their “Love Mode” and “Lover Boy” from their previous albums. Horan’s voice blended sooooo well with Alex’s.. They should forever be a duet!!
“Rapunzel” is less magical than I thought. I was hoping to listen to some kind like “Gentle Giant” from Love Child of The Century album, but it’s still nice and girly at the same time.
I also fancy “Tell Yourself” because it has the beat that brings out the positive vibe.
Alex’s voice is a real sweet treat in “Chocolate Truffles”. They sure do know how to lighten up every girls’ day with a box of chocolate truffles brought by such a hunky hunk like Alex!! Hhahahahahaha… *drooling*
And if I have to compare, I’d like to say that I love Mucho Punk more than Mucho Musica.
That's all.
You better listen to both of the versions, and it's your own right to fancy one, hahahaha...
PS: I'm not sure that this is the right cover album, but i like it better than the other one just because Alex, Horan, and DJ Clazzi looks gorgeous :D
Mucho Musica
| Rating: | ★★★ |
| Category: | Music |
| Genre: | Dance & DJ |
| Artist: | Clazziquai Project |
At first, I was confused between the two editions Mucho Musica and Mucho Punk, but now I know that Mucho Musica is Japanese edition, and Mucho Punk is Korean edition.
Mucho Punk contains Korean version of Chocolate Truffles and several new tracks like 사랑끝에 (Love Ends), Lazy Sunday Morning, and Rapunzel. While Mucho Musica features Affection, Back To Mind, and their old single Flea.
As a huge fan of them, I am proudly saying that I have both of them! :))
Let me review one at a time for you...
Mucho Musica’s special features (Affection, Back to Mind, and Flea) are not that special for me.
World of Oz (English version) was surprising because I used to listen to the Korean version. It’s nice.. Especially the the first lines (which is the last lines in Korean version) : “Boy in love looking for a girl in a wonderland. Girl is lost in her dancing shoes on a yellow road…” Nice, cute, and still sounds magical!
From my own perspetive, I feel like Mucho Musica is a mixed of Metrotronics and Love Child of The Century with slightly different soul. Still, I miss lounge music feeling which was so rich in their previous albums.
After Hours Thoughts
Hari ini hari yang bersejarah, hahaha... Setelah berbulan-bulan menyusun skripsi, akhirnya ia menjadi skripsi yang sebenar-benarnya.
Betapa bangganya gue melihat "anak-anak" gue ini, huahahahaha... Tapi cukup sedih ketika harus memisahkan mereka ke sekretariat, perpustakaan, pembimbing, dan biro iklan yang bersangkutan.
Setelah urusan beres semua, seharusnya gue bisa langsung pulang dan leyeh-leyeh tanpa harus mikirin skripsi lagi. Tapi entah kenapa dan bagaimana gue bisa memilih untuk menghabiskan satu jam bengong di JCo... Oke, mungkin awalnya hanya untuk nungguin Fina rapat reuni sama temen-temen SMA-nya. Tapi yang terjadi adalah gue terjebak dalam pikiran tentang masa depan.
Ide JCo untuk menyediakan tissue dengan desain semacam ini memang pintar. Apalagi bagi gue yang kebetulan bawa pulpen, tapi ga bawa kertas!!
Awalnya cuma satu kalimat...
Lama-lama tumpah semua kegalauan yang menumpuk sejak semester akhir benar-benar berakhir.
Lantas??
Entahlaaaaaah~
Semoga setelah liburan habis-habisan, gue bisa dapet pencerahan, hehehe...
NB: ini bukan subliminal ad yaaa... ga berniat juga kok gue... kebetulan aja toko donat-nya bener-bener bisa memenuhi kebutuhan gue akan kertas saat itu, hehe
Semester Terakhir
Berakhir juga masa kuliah S1 gue (dan beberapa teman.. yang lain, ditunggu berita bahagianya semester depan, atau tahun depan ya.. hehe)
Tidak seperti anak-anak ekstensi lain, gue mungkin ga merasakan bagaimana ribetnya kuliah sambil kerja. Tapi, gue juga merasakan kok betapa kuliah ketika matahari sudah terbenam itu terasa janggal, hahahahaha... Dan, yang paling menyiksa adalah kuliah di hari Sabtu, hihihi...
Dan hal-hal inilah yang gue rasakan selama menjadi mahasiswa ekstensi...
1. Datang "kepagian" jadi bisa lihat matahari terbenam di kampus
2. Pulang "kemaleman" jadi harus nebeng, hahahaha... (TERIMA KASIH NAYA DAN HEIDY YANG TELAH RELA MEMBERI TUMPANGAN BUAT GUE DAN MENJADI NYAMUK KALIAN SETIAP MALAM, HAHAHAHAHAHAHA)
3. Sabtu kuliah, tapi ada sahabat yang selalu dinanti (curhatannya) hehe :)
4. Kejanggalan sering terjadi di hari Sabtu.. (jangan tanya apa aja kejanggalan itu, percaya aja deh kalo kejanggalan itu memang ada, hahaha)
5. Tugas menumpuk... tapi kami belajar banyak hal-hal lain kok dari kegiatan "Bikin Tugas Kelompok" (di rumah Heidy) hahahahaha...
6. Skripsi melatih kesabaran, menguji kepintaran, memaksa sistem imunitas tubuh untuk bekerja berkali-kali lipat, dan menggerogoti kesadaran mental, hahaha
7. ...dan ketika semuanya berakhir... dengan segala rasa syukur, gue bisa mengakhirinya bersama kalian :)
*note: piring-piring kosong diatas mewakili: Rara, Rifki, Rossi, Adri, Santi, Danan (yang waktu itu belum datang, hahahahaha)
Cheers, ^^