Entah kenapa...
Ucapan yang dia lontarkan itu membuat saya sakit hati... dan saya tidak menyangka bahwa saya akan mengalami rasa sakit hati yang begitu dalam...
Padahal, orang-orang bisa aja menganggap gue 'bukan siapa-siapa'.
Memang.
Memang saya bukan siapa-siapa.
Saya hanya kebetulan menjadi bagian dari ini semua.
Tapi... ucapan itu saya rasa tidak pantas untuk diucapkan oleh seseorang yang bukan hanya bagian dari komunitas, tetapi juga merupakan penyambung ilmu dalam komunitas ini.
Ironis.
Seharusnya dia belum bisa menjadi bagian dari komunitas ini, karena ternyata dia tidak tahu apa-apa tentang kami.. tentang komunitas ini.
Alih-alih, dia melontarkan pendapat yang sangat subjektif, tak berdasar, tak beralasan, dan sangat tak sesuai dengan tempat.
Apa yang menyebabkannya begitu?
Ah, dasar manusia....
Kebanggaan atas kulit luarnya yang begitu bersinar merasuk sampai tulangnya, sehingga ia jadi begitu sombong menilai dunia luar. Ia tak lagi bisa mencari sesuatu yang benar... karena yang ia anggap benar hanya dirinya, dunianya, kulit luarnya, dan lembaga yang menaunginya.
Ucapan menyakitkan itu... saya anggap sebagai secangkir kopi hitam yang sangat pahit, tidak baik pula bagi kesehatan, tapi mampu membuka mata saya lebar-lebar, serta membuat saya bisa berpikir jernih untuk satu hal...
Saya memang bukan siapa-siapa... dan saya tidak akan menjadi bagian dari institusi ini hanya karena saya memiliki hubungan dalam bentuk apapun.
Tapi, sebagai seseorang yang mengetahui bagaimana sejarah dibalik ini semua, saya merasa suatu hari nanti saya HARUS meneruskan perjuangan ini... betapapun kondisinya.
Sakit hati ini saya sadari tidak seberapa besarnya dibanding dengan perjuangan mereka dalam membangun, mempertahankan, menyelamatkan, institusi kami.
Perjuangan yang tidak mudah, dan perjalanannya tidak singkat. Apa yang telah (dan sedang) mereka lakukan, kini menjadi panutanku..
Jadi, untuknya... untuk dia yang besar kepala, dan berhati sempit...
Sampai ketemu nanti...
Disaat saya berdiri tegak, memegang prinsip yang telah mereka ajari sejak saya lahir, dan yang paling penting, berdiri sejajar dengan dia...
Ketika itu... akan saya buat dia menyesal... akan ucapannya yang picisan. Akan saya buat dia menyesali pemikiran-pemikiran seadanya...