Wednesday, July 30, 2008

carrot cake percobaan pertama

Akhirnya kesampean juga bikin carrot cake sendiri. Kali ini dibikin berdasarkan permintaan special dari Heidy. Berhubung baru ada kesempatan, jadi meskipun judulnya ‘kado ulang taun’, tapi baru dibikin sebulan setelah ulang taunnya, hehehehe…

Karena ini percobaan pertama, jadi gagal dulu. Mana sekali bikin langsung dua loyang, jadi rugi dua loyang! Hehehehe… untung neng meiph bersedia jadi kelinci percobaan kue yang gagal… hehe.

Besokkannya, dicoba bikin lagi. Kali ini bikin satu setengah loyang. Satu loyang buat heidy, setengahnya sengaja dibuat di beberapa cup jadi bisa bagi-bagi…

Yang kedua memang jauh lebih baik sih.. meskipun terjadi kebodohan saat meletakkan loyang di oven… (naronya di rak paling bawah deket api, jadi bagian bawahnya hitam gosong!! Huahahaha), tapi setelah diakalin jadinya oke2 aja.

Bagian paling sulit adalah menghias. Padahal ga pake hiasan macem2… cuma gue belum telaten dan terampil bermain-main dengan butter cream. Udah gitu keburu-buru karena Chiko udah dateng, dan hari sudah semakin sore… Walhasil, yeah.. rada berantakan… hehehe..

Ah, kalo bgini mah berarti emang harus les cake decorating nih!

lebih lucu (dikit) dan less-annoying!

Tau kan betapa keriting dan gondrong-nya rambut Angga. (Gondrong untuk ukuran balita yaa.. hehe). Gara-gara rambutnya itu Angga jadi keliatan tua dan menyebalkan. Ga ada lucu-lucunya.. hahahaha…

Udah gitu, belakangan kami baru tau bahwa rambut Angga dihinggapi kutu!! Wadoooh… kami jadi tambah semangat untuk nyuruh2 dia segera potong rambut. Tapi dasar Angga, dia itu paling penakut dan cengeng. Katanya sakit kalo potong rambut. Padahal itu mah alasan aja.. hahaha..

Suatu pagi, gue baru turun dari kamar dan menemukan sosok gendut itu dengan rambut yang jauuh lebih rapih. Ga ada lagi tuh keriting-keriting yang bikin cemas, hahaha.

Angga terlihat lebih lucu.. lebih kayak anak-anak, dan lebih tidak terlalu menyebalkan! Hehehe.

Mumpung lagi maen kamera, gue sekalian aja mengabadikan Angga dengan rambut barunya.

Sunday, July 20, 2008

Sunday, July 13, 2008

it

What is it?

Is it something I should feel?

Or something I do feel?

 

How is it?

Is it really sweet?

Is it really weird?

 

What should I do?

Should I ignore it?

Should I try harder so that I can feel it?

 

Why do I feel annoyed by it?

Is it because it needs a kind of statement?

Is it because I hate to make a statement?

 

Am I right?

 

Does it feel right?

 

Am I the one who’s lack of sensing something like this?

Or am I not sensing any of it?

 

Gosh…

 

Now I know why they told me that it’s really hard…

 

Should I learn something more?

Should I trust it?

 

What the hell am I supposed to do?

 

What is it, anywaaaaay???

 

 

 

 

Damn.

waiting room

Wait, and see…

You’ll see the differences.

Wait, and learn…

You’ll get the appreciation like you never had before

Wait, and stay…

You’ll be grateful for everything

Wait, so that you’ll have no regrets.

Wait, because you’ve waited for so long

Wait, and don’t make any mistake.

Wait, then you’ll understand.

Can you wait longer?

Let’s hope so…

won't you please stop?

Stop asking.

 

 

 

 

The more you ask,

The more I think.

 

 

The more you make questions,

The more I refuse to answer.

 

 

Just stop.

And let me believe what I believe.

 

But if you don’t believe,

I’ll have to ask you back.

 

 

 

You hate it, don’t you?

Saturday, July 12, 2008

Dedication

Rating:★★★★
Category:Movies
Genre: Romantic Comedy
Film Mandy Moore kali ini cukup berat. Meskipun genre-nya drama komedi romantis, tapi film yang ini beda.

Mandy Moore bukan tokoh utamanya. Tokoh utamanya adalah Billy Crudup yang berperan sebagai Henry Roth. Hidup Henry agak berantakan. Pekerjaanya sebagai penulis buku anak-anak tidak betul-betul ia jalani dengan sepenuh hati. Dia bahkan mengatakan kepada anak-anak bahwa santa Klaus tidak benar-benar ada. (ini penulis buku anak-anak yang tidak satu frekuensi dengan pikiran anak-anak, hoho)

Henry memiliki seorang sahabat bernama Rudy yang juga merupakan illustrator bagi bukunya. Mereka mencari inspirasi dengan cara yang tidak biasa, menonton film porno murahan! Hahahahaha… dari situ lahirlah sebuah tokoh Marty The Beaver yang menjadi buku mereka yang paling laris.

Sayang, Rudy meninggal karena sakit dan Henry sangat depresi. Sementara itu pihak penerbit tidak akan membiarkan Marty The Beaver berhenti begitu saja karena ilustratornya telah meninggal. Henry terpaksa bekerja dengan illustrator baru, seorang perempuan cantik bernama Lucy (Mandy Moore)

Henry dihadapkan kepada dua masalah besar, anxiety-nya yang semakin parah, dan perasaannya terhadap Lucy.

Film romantis yang tidak biasa. Tidak mengumbar rasa manis disana sini, apa adanya, orisinil, dan cukup pintar.

Setelah nonton ini, gue bak dicambuk keras. “Terus, kapan buku lo kelar?!?!?!” hahahahahahaha…

Wednesday, July 2, 2008

Bangun dari Mimpi Bersama Doraemon

Akhirnyaaaaaa…

Sepuluh hari yang melelahkan, menyakitkan, sekaligus menyenangkan, berakhir juga!

Banyaaaak sekali pengalaman yang didapat dari pekerjaan menjadi volunteer di Doraemon Dreamland. Tidak ada penyesalan.. meski banyak kekesalan, hohoho… Tapi pelajaran berharga tidak pernah bisa diukur dengan materi yang saya dapat (dan yang hilang: handphone hohoho)

Saya mendedikasikan diri saya sepenuhnya untuk sepuluh hari itu, jadi meski badan jadi sakit-sakit, mental dan kesabaran juga jadi sakit-sakit, dan pikiran logis kadang kala hilang entah kemana, tapi senyum harus tetap mengembang di depan anak-anak kecil itu, hehehe…

Sepuluh hari bertemu ribuan orang yang berbeda-beda tiap harinya, menghadapi kejelekan dan kebaikan orang yang berbeda-beda, membantu saya mengenali lebih banyak lagi jenis karakter manusia. Dicaci-maki, ditatap dengan sinis, dikasihani, dicemooh, dihargai, dihormati, dilecehkan, semua sudah saya rasakan.

Badan lebam-lebam, kulit kering jerawatan, bekas cakaran dimana-mana, mata pedih, hidung mimisan berkali-kali, kedinginan, demam, tapi yang penting kerja harus tetap professional,  Hahahaha…

Pelajaran paling berharga yang saya dapat adalah:

1.    Saya arus lebih menghormati orang lain (dan pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya)

2.    Saya arus lebih disiplin (dan bertekad menerapkan disiplin dengan baik dan benar kepada anak-anak saya nantinya, sesederhana: mengantri)

3.    Saya harus lebih bisa bersopan santun (dan juga akan mengajarkannya kepada anak-anak saya) Karena saya kini mengerti betul betapa ucapan ‘terimakasih’ itu benar-benar berharga.

4.    Saya akan menjaga barang saya dengan sebaik-baiknya, tidak menyepelekan dan menganggap situasi aman terkendali dengan mudahnya.

5.    Saya tidak mau memasukkan anak saya ke international school. Miris hati ini melihat banyak sekali anak-anak kecil itu tak bisa berbahasa Indonesia dengan baik dan benar. Alih-alih mereka bicara layaknya Cinta Laura. Lebih parah lagi, mereka bicara dengan aksen Singlish. Gila banget!! Helloooooo…. Mau jadi apa bangsa ini kalo generasi penerus nantinya tak bisa bahasa Indonesia?!

Jadi, apakah saya menyesal? Apakah saya kapok? Tidak.. hehehehe…

*foto-foto menyusul yaaah…*