Akhirnyaaaaaa…
Sepuluh hari yang melelahkan, menyakitkan, sekaligus menyenangkan, berakhir juga!
Banyaaaak sekali pengalaman yang didapat dari pekerjaan menjadi volunteer di Doraemon Dreamland. Tidak ada penyesalan.. meski banyak kekesalan, hohoho… Tapi pelajaran berharga tidak pernah bisa diukur dengan materi yang saya dapat (dan yang hilang: handphone hohoho)
Saya mendedikasikan diri saya sepenuhnya untuk sepuluh hari itu, jadi meski badan jadi sakit-sakit, mental dan kesabaran juga jadi sakit-sakit, dan pikiran logis kadang kala hilang entah kemana, tapi senyum harus tetap mengembang di depan anak-anak kecil itu, hehehe…
Sepuluh hari bertemu ribuan orang yang berbeda-beda tiap harinya, menghadapi kejelekan dan kebaikan orang yang berbeda-beda, membantu saya mengenali lebih banyak lagi jenis karakter manusia. Dicaci-maki, ditatap dengan sinis, dikasihani, dicemooh, dihargai, dihormati, dilecehkan, semua sudah saya rasakan.
Badan lebam-lebam, kulit kering jerawatan, bekas cakaran dimana-mana, mata pedih, hidung mimisan berkali-kali, kedinginan, demam, tapi yang penting kerja harus tetap professional, Hahahaha…
Pelajaran paling berharga yang saya dapat adalah:
1. Saya arus lebih menghormati orang lain (dan pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya)
2. Saya arus lebih disiplin (dan bertekad menerapkan disiplin dengan baik dan benar kepada anak-anak saya nantinya, sesederhana: mengantri)
3. Saya harus lebih bisa bersopan santun (dan juga akan mengajarkannya kepada anak-anak saya) Karena saya kini mengerti betul betapa ucapan ‘terimakasih’ itu benar-benar berharga.
4. Saya akan menjaga barang saya dengan sebaik-baiknya, tidak menyepelekan dan menganggap situasi aman terkendali dengan mudahnya.
5. Saya tidak mau memasukkan anak saya ke international school. Miris hati ini melihat banyak sekali anak-anak kecil itu tak bisa berbahasa Indonesia dengan baik dan benar. Alih-alih mereka bicara layaknya Cinta Laura. Lebih parah lagi, mereka bicara dengan aksen Singlish. Gila banget!! Helloooooo…. Mau jadi apa bangsa ini kalo generasi penerus nantinya tak bisa bahasa Indonesia?!
Jadi, apakah saya menyesal? Apakah saya kapok? Tidak.. hehehehe…
*foto-foto menyusul yaaah…*