Sunday, February 21, 2010

Ramah-tamah atau Basa-basi?

Saya heran, kenapa masyarakat kita sering dijuluki dengan masyarakat yang paling ramah. Karena, di kehidupan sehari-haripun, saya jarang melihat keramah-tamahan itu. Kita terbiasa basa-basi, bukan beramah-tamah. Basa-basi itu tidak punya tujuan, sementara ramah-tamah itu bertujuan untuk menyenangkan dan membantu orang lain.


Di luar negeri mungkin sapaan untuk orang lain yang tidak dikenal (misalnya, penjaga kasir di supermarket) berupa, “Hi, how are you?” kemudian ditutup dengan “Have a good day” adalah hal yang sangat biasa. Kalau tidak begitu, kita bisa dianggap tidak sopan. Tapi disini? Kita tidak terbiasa mengekspresikan kepedulian terhadap orang lain. Kita justru terbiasa berbasa-basi.


Pernah disapa oleh hostess di sebuah restoran dengan sapaan “Selamat siang, apa kabarnya hari ini?” ? Saya pernah. Kalimat itu terdengar 'template', bukan kalimat dari hatinya sendiri. Itu kalimat yang terlatih. Dia pasti telah melewati training untuk bisa sekadar mengucapkan kalimat itu. Saya hanya mendengarnya sebagai pertanyaan basa-basi. Saya langsung mempertanyakan ketulusannya. Kalau saja saya bilang kabar saya sedang tidak baik, (bukan berbohong dengan menjawab, "baik"), apa dia mau tahu kenapa? Apa dia benar-benar peduli dengan keadaan saya? Oleh karena itu saya hanya membalasnya dengan singkat, enggan dan bohong.


Setelah pengalaman itu saya lalu jadi skeptis. Tidak lagi percaya ada orang asing yang mampu benar-benar peduli untuk beramah-tamah, bukan sekadar basa-basi.


Sikap skeptikal itu kemudian secara beruntun dipatahkan oleh pengalaman-pengalaman saya selanjutnya.


Pengalaman pertama terjadi di kantor saya sendiri. Seorang satpam yang bertugas memeriksa barang bawaan mengucapkan “Hati-hati ya Mbak, di luar hujan. Lebih baik jaketnya dipakai.”


Saya melongok ke luar dan memang di luar sedang hujan. Saya tersenyum membalas kebaikannya, seraya mengenakan jaket lengkap dengan hoodie untuk melindungi kepala.


Pengalaman kedua terjadi di sebuah restoran waralaba siap saji. Saya membeli segelas es krim untuk dibawa pulang plus kentang goreng pesanan Papa.


Kala itu suasana hati saya sedang tidak baik, dan kalau suasana hati sedang tidak baik, pasti terlihat dengan mudah di wajah saya :P


Tanpa terkesan meledek atau ingin ikut campur, cashier crew itu berkata, "semoga (menyebut nama es krim) bisa bikin Mbak senang lagi..." lalu tersenyum tulus.


Tepat sasaran!


Kalau saja saat itu ada cermin di depan saya, pasti saya bisa melihat senyum saya mengembang tiba-tiba setelah berjam-jam hanya bersungut-sungut karena satu dan lain hal yang menyebalkan.



Mungkin kedua contoh diatas juga berasal dari hasil training selama berbulan-bulan. Tapi kemudian, saya kembali mengalami kejadian serupa. Hanya saja kali ini dilakukan oleh tukang parkir yang lebih mirip preman di depan mini market dekat rumah, dan kemungkinan besar tidak pernah mengikuti training apapun.


Malam itu malam Sabtu. Abang saya yang saat itu menyetir mobil, memberikan uang parkir kepadanya. Ia lalu membalas, “Have a nice weekend, boss!” Abang dengan cepat langsung membalas, “Okay. You too!” sementara aku hanya melongo.


Akhirnya saya jadi skeptis terhadap diri saya sendiri. Jangan-jangan, ini semua karena saya memang tidak pernah bisa memahami basa-basi selama ini. Karena saya lebih straightforward sehingga masih suka terkaget-kaget jika disapa dengan ramah oleh seseorang, hehehehe...

RIP, Ping

Jumat malam kemarin, tiba-tiba Ping lemas. Dia bahkan ga kuat berdiri. Suaranya hilang, nafasnya lambat-lambat.

Aku panik dan kalut.

Saat itu juga kami (aku, abang, ari) melarikannya ke Rumah Sakit Hewan Jakarta (Ragunan). Sepanjang jalanan yang macet aku tak melepaskan Ping dalam kardusnya diatas pangkuanku. Bolak balik aku mengecek nafasnya, takut dia mendadak 'hilang' tanpa sempat diberi pertolongan.

Perjalanan panjang menuju rumah sakit akhirnya usai. Ini memang bukan pertama kalinya aku mengunjungi RSHJ, tapi ini pertama kalinya aku kesana dengan perasaan sangat cemas.

Akhirnya kami bertemu dokter. Dokter hanya bilang, Ping terlalu kecil. Tanpa asupan susu dari induknya, dia akan mudah sakit. Dan ternyata, anak kucing tidak tahu cara buang air kecil/besar. Dia butuh induknya untuk urusan itu, dan aku sama sekali tidak tahu menahu. Jadi, selama satu minggu di rumah, Ping sama sekali tidak buang air kecil/besar!

Pulang dari rumah sakit, aku masih sempat beli susu formula bayi untuk Ping (karena selama ini Ping minum susu bubuk biasa).

Kondisinya memang sempat melemah lagi setelah kami sampai rumah, tapi suaranya kembali.

Paginya, abang membangunkanku dengan berita itu..

"Cha, Ping mati tuh!"

:((

Seharian itu mood-ku berantakan.
Aku sayang Ping... tapi dia terlalu cepat mati... :((




Rest in peace, Ping..
I love you :")

Thursday, February 11, 2010

Pekerjaan

Dulu, setiap ayah dan ibu saya ditanya, mereka ingin kami (anak-anaknya) jadi apa jika besar nanti, mereka selalu menjawab, "jadi apa saja yang penting baik." Lalu mereka mulai menjelaskan maksud dari jawaban mereka.

"Jika mereka mau jadi dokter, jadilah dokter yang baik. Jika mereka mau jadi guru, jadilah guru yang baik..." dan seterusnya, dan seterusnya...

"Baik" dalam kamus mereka mencakup begitu banyak makna. "Baik" itu jujur, bermanfaat, santun, pintar, rajin, pokoknya segala sesuatu yang positif.

Mereka tidak mengenal istilah "pekerjaan yang mulia" yang biasa dilabelkan pada beberapa jenis profesi. Bagi mereka, semua pekerjaan (yang halal, tentunya) adalah pekerjaan yang mulia, asal... dikerjakan dengan baik itu tadi.

Lalu, saya tumbuh dewasa. Melihat dunia yang begitu keras, melihat berbagai macam jenis orang dan pekerjaan.
Melihat mereka yang sering dilabelkan memiliki pekerjaan yang mulia ternyata tidak amanah terhadap pekerjaannya.

Pekerjaan memang begitu menyita waktu dan pikiran, sampai-sampai kita semua sering lupa menjadikannya sesuatu yang bermanfaat bagi orang-orang sekitar dan mulia di mata Tuhan.

Pekerjaan memberikan sesuatu yang membutakan mata hati. Membuat kita tidak sadar bahwa kelalaian dan ketidakpedulian kita akan merugikan banyak orang. Padahal, misalnya, pekerjaan kita dilabelkan dengan label pekerjaan yang mulia.

Dan, oh... pelajar / mahasiswa juga termasuk sebuah pekerjaan. Coba cek KTP kalian kalau tidak percaya.

Jadi, cuma buang-buang nyawa saja kita semua di dunia ini.


(Em)Ping

Ada suara kucing meong-meong semalam... Cuma mama, abang, dan mba Jen yang denger sekitar jam 12 malam.. Karena mereka terlalu mengantuk, akhirnya suara kucing kecil itu diabaikan.

Tadi pagi, kami semua terkejut melihat kucing kecil itu masih ada di teras rumah dan masih mengeong-ngeong histeris. Keciiiillll banget... Kakinya masih belum bisa jalan... Tapi bulunya bagus...

Akhirnya kami memutuskan untuk merawat kucing kecil malang itu... dan aku, terutama, sudah terlanjur jatuh cinta padanya... aaaaaaa... :))

Seharian ini aku mikirin nama yang pantas untuknya. Yang ada di kepalaku cuma satu kata itu...

Beberapa jam yang lalu, ketika sedang makan malam, aku bergumam, "Matanya sipit... dia oriental! Ayo Fin, kasih nama ala Korea-Jepang-China, hehehe"

Mba Jennis, yang saat itu sedang mengunyah emping langsung berceletuk, "Emping aja namanya..."

Memang jodoh! Aku memang seharian ini kepikiran kata "Ping" itu .Satu kata yang merupakan judul lagu terbaru dari Clazziquai yang belakangan ini sering kudengarkan.

Jadilah... namanya Ping, hahahaha.. Panggil Emping juga dia nyaut kok.. :P



Kalau kata Fina, supaya makin oriental, nama panjangnya jadi Kim Eum Ping, hihihihihi...

Tuesday, February 2, 2010

blah... blah...

So this is what I've learned as a copy writer so far. Please notice that I'm not an ordinary copy writer because here, the copy writer has a different job description. I don't pitch. I don't even brainstorm with my creative director. I re-write what's they've written on the job request. I just fix the lines or find the alternatives. Most of those words and lines are not mine. I just re-write, or translate. I'm a copy writer with zero idea. Ideas are prohibited. The only same task is proofreading, and yeah proofreading sucks.

I also don't get any credit for each word or line I write. Oh, why should I? I don't do anything. As I told you before, I just re-write, translate, and proofread. Nobody needs credit for that, nobody but me. And if I make mistake, whether it's only a missing letter or missing word or missing line, I get the hell of the punishment. Everyone will notice the infelicity and I am the only one to blame.

My job requires perfection. Mistakes are not allowed and excellence performance get no credit.

There's no such thing as creativity here.

Cool, huh?