Saya heran, kenapa masyarakat kita sering dijuluki dengan masyarakat yang paling ramah. Karena, di kehidupan sehari-haripun, saya jarang melihat keramah-tamahan itu. Kita terbiasa basa-basi, bukan beramah-tamah. Basa-basi itu tidak punya tujuan, sementara ramah-tamah itu bertujuan untuk menyenangkan dan membantu orang lain.
Di luar negeri mungkin sapaan untuk orang lain yang tidak dikenal (misalnya, penjaga kasir di supermarket) berupa, “Hi, how are you?” kemudian ditutup dengan “Have a good day” adalah hal yang sangat biasa. Kalau tidak begitu, kita bisa dianggap tidak sopan. Tapi disini? Kita tidak terbiasa mengekspresikan kepedulian terhadap orang lain. Kita justru terbiasa berbasa-basi.
Pernah disapa oleh hostess di sebuah restoran dengan sapaan “Selamat siang, apa kabarnya hari ini?” ? Saya pernah. Kalimat itu terdengar 'template', bukan kalimat dari hatinya sendiri. Itu kalimat yang terlatih. Dia pasti telah melewati training untuk bisa sekadar mengucapkan kalimat itu. Saya hanya mendengarnya sebagai pertanyaan basa-basi. Saya langsung mempertanyakan ketulusannya. Kalau saja saya bilang kabar saya sedang tidak baik, (bukan berbohong dengan menjawab, "baik"), apa dia mau tahu kenapa? Apa dia benar-benar peduli dengan keadaan saya? Oleh karena itu saya hanya membalasnya dengan singkat, enggan dan bohong.
Setelah pengalaman itu saya lalu jadi skeptis. Tidak lagi percaya ada orang asing yang mampu benar-benar peduli untuk beramah-tamah, bukan sekadar basa-basi.
Sikap skeptikal itu kemudian secara beruntun dipatahkan oleh pengalaman-pengalaman saya selanjutnya.
Pengalaman pertama terjadi di kantor saya sendiri. Seorang satpam yang bertugas memeriksa barang bawaan mengucapkan “Hati-hati ya Mbak, di luar hujan. Lebih baik jaketnya dipakai.”
Saya melongok ke luar dan memang di luar sedang hujan. Saya tersenyum membalas kebaikannya, seraya mengenakan jaket lengkap dengan hoodie untuk melindungi kepala.
Pengalaman kedua terjadi di sebuah restoran waralaba siap saji. Saya membeli segelas es krim untuk dibawa pulang plus kentang goreng pesanan Papa.
Kala itu suasana hati saya sedang tidak baik, dan kalau suasana hati sedang tidak baik, pasti terlihat dengan mudah di wajah saya :P
Tanpa terkesan meledek atau ingin ikut campur, cashier crew itu berkata, "semoga (menyebut nama es krim) bisa bikin Mbak senang lagi..." lalu tersenyum tulus.
Tepat sasaran!
Kalau saja saat itu ada cermin di depan saya, pasti saya bisa melihat senyum saya mengembang tiba-tiba setelah berjam-jam hanya bersungut-sungut karena satu dan lain hal yang menyebalkan.
Mungkin kedua contoh diatas juga berasal dari hasil training selama berbulan-bulan. Tapi kemudian, saya kembali mengalami kejadian serupa. Hanya saja kali ini dilakukan oleh tukang parkir yang lebih mirip preman di depan mini market dekat rumah, dan kemungkinan besar tidak pernah mengikuti training apapun.
Malam itu malam Sabtu. Abang saya yang saat itu menyetir mobil, memberikan uang parkir kepadanya. Ia lalu membalas, “Have a nice weekend, boss!” Abang dengan cepat langsung membalas, “Okay. You too!” sementara aku hanya melongo.
Akhirnya saya jadi skeptis terhadap diri saya sendiri. Jangan-jangan, ini semua karena saya memang tidak pernah bisa memahami basa-basi selama ini. Karena saya lebih straightforward sehingga masih suka terkaget-kaget jika disapa dengan ramah oleh seseorang, hehehehe...
yang namanya basa-basi itu kalo bales SMS tiap hari kalimatnya sama, sampe ke titik komanya!!
ReplyDeleteyang namanya basa-basi itu kalo ada orang mengajukan pertanyaan bodoh seperti, "kamu syuting begitu dibayar gak?" (YA EMANGNYA SELAMA INI GUA KAGA DIBAYAARRR?? TU DUIT TIAP AKHIR BULAN MASUK REKENING NAMANYA APA-AAANN??!)
yang namanya basa-basi itu kalo lo gak jawab pertanyaannya, dia gak nanya lagi (karena artinya dia gak bener2 peduli sama jawaban lo)
-salam, dari anak yang pengalaman banget dibasa-basiin orang paling deketnya-
*jadi curcol*
wooow... hihihii... salam damai dari ranger pink cihuy! :P
ReplyDeletewuow! itu mbak2 kasir oke juga yaaa... hebat! :)
ReplyDeletembak2 kasir? ooh.. harusnya gue bilang dari awal yaa.. itu mas2 kasir, hehehehe...
ReplyDeletedan, yeah.. emang hebat! bisa baca raut wajah dengan tepat, hehehe...
nnisa, kalo di kantor elo, mas dan mbak nggak ada bedanya... sebelas-dua belas gitu cyiiiiiiiiiiiiiiiiinnnnnnnnnnnnnn.. =))
ReplyDeleteemang di kantor ada kasiirrr?? hahahahahah... *kok gue jadi bingung*
ReplyDeleteyang di kantor kan pak satpam.. yang di restoran fast food itu baru mas2 kasir..
tapi emang sih kalo di kantor agak sulit membedakan.. bahkan uchil pun diragukan, hahahahahhaa... *ALHAMDULILLAH UCHIL GA PUNYA MP!* huhauhuahauhuahua...