Friday, April 30, 2010

Closing Door and Keeping Faith

I happened to visit one of my favorite blogs. She wrote about dead-ends and closed doors.

So I guess..

I wasn't closing one of my doors.. I was clueless and You help me out by closing it.

You may close the door now and forever, or You may open it again someday.

But You know best and I know nothing.

So I will keep finding You and asking You.

Just please, God.. Please keep my faith in You.

Wednesday, April 28, 2010

Tentang UAN (Ujian Akhir Nasional)

Selama enam tahun terakhir ini, setiap mendekati masa-masa UAN, saya selalu teringat masa-masa UAN saya. Setiap tahun pula saya mencoba mensyukuri dan berusaha untuk sama sekali tidak menyesali apa yang telah terjadi waktu itu.

Saya tidak pernah punya keberanian untuk bicara dengan berani di depan publik soal ini. Meski begitu bukan berarti orang-orang di sekitar saya tidak tahu apa yang pernah terjadi. Mereka yang satu sekolah dengan saya tahu tentang ini, begitu juga dengan beberapa orang terdekat yang saya kenal di kemudian hari.

Saya pernah tidak lulus UAN.
Saya pernah.


Waktu itu standar nilai UAN adalah 4,01 dengan mata pelajaran yang diujikan adalah matematika, bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.

Saya gagal di matematika, dengan nilai 3,8.

Rasanya seperti apa ketika kabar buruk itu datang?

Seperti dapat vonis mati.

Iya. Memang begitu rasanya. Apalagi saya tahu berita itu lebih dahulu dibanding dengan teman-teman lain, yang notabene lulus semua. Bayangkan, sayalah satu-satunya siswa yang tidak lulus UAN tahun itu.

Tapi perasaan seperti ingin mati itu buru-buru dilawan oleh orang-orang terdekat saya. Ibu dan ayah, terutama. Mereka luar biasa memberi semangat dan menemani saya setiap saat. Mereka membangun kembali semangat saya yang telah runtuh. Saya 'dipaksa' berani datang ke sekolah, menemui guru dan teman-teman. Kalau ingat rasanya saat itu saya benar-benar kehilangan seluruh keberanian dan keyakinan.

Nyatanya, teman-teman dan para guru di sekolah sangat.. hebat. Mereka bersikap biasa, bukan mengasihani. Mereka menemani, bukan meninggalkan. Mereka mendoakan, bukan menggosipkan. Mereka membantu dengan tetap menjadi teman-teman saya.

Para guru juga luar biasa hebat. Saya merasa sangat disayang. Satu kejadian yang sangat mengharukan adalah ketika seorang guru agama menghampiri saya sambil menjabat erat tangan saya, begitu lama. Matanya menatap saya lekat-lekat dengan hangat tanpa berucap sepatah katapun. Entah kenapa, saya yakin saat itu ia sedang menyampaikan doa kepada Allah dihadapan saya di dalam hatinya. Karena saat itu juga hati saya terasa tenang.

Semangat saya kembali utuh. Saya benar-benar disiapkan untuk pertempuran berikutnya: ujian ulangan. Dengan bimbingan guru-guru sekolah dan guru bimbingan belajar, saya disiapkan secara teknis maupun mental.

Ketika hari ujian ulangan tiba, kepala sekolah dan wali kelas saya datang ke lokasi ujian. Mereka sholat dhuha untuk saya. Begitu yang diceritakan ibu saya yang juga ikut menemani selama ujian ulangan.

Menurut saya, ada keajaiban besar yang sepertinya mustahil terjadi ketika ujian ulangan tersebut. Saya merasa luar biasa tenang dan santai. Saya bahkan bisa bersenandung pelan ketika mengerjakan soal matematika yang selama ini menjadi momok besar dalam hidup saya (dan banyak orang lain di negara ini). Selain itu saya merasa seperti ada yang menunjukkan jawaban untuk beberapa soal sulit.

Akhirnya saya berhasil.

Kini saya juga berhasil menuliskan pengalaman pribadi saya ini untuk umum. Saya menulis ini tidak punya niat lain selain berbagi pengalaman. Saya ingin adik-adik yang sedang mengalami kesusahan hati akibat gagal UAN saat ini supaya bisa menerima kegagalan sebagai keberhasilan yang tertunda. Maaf, ini bukan frasa klise. Ini kenyataan. Maaf juga, saya bukan ingin sombong. Saya ingin memberi bukti bahwa saya bisa berhasil saat ini justru karena kegagalan di hari kemarin.

Tahu apa keberhasilan yang datang beberapa bulan setelah saya dinyatakan lulus dan setelah mengikuti SPMB? Saya diterima di salah satu perguruan tinggi negeri terbaik. Meski akhirnya saya mengambil program D3 di UI, saya cukup puas dengan apa yang saya raih beberapa bulan setelah kejatuhan saya karena UAN. Setelah itu, keberhasilan dan berkah Allah kepada saya datang bertubi-tubi. Luar biasa.

Kejadian itu telah mengubah hidup saya secara signifikan. Saya jadi lebih berani menghadapi masalah, lebih siap menghadapi kegagalan, dan lebih dewasa menghadapi orang-orang menyebalkan yang bisanya hanya menjatuhkan mental. Saya juga semakin mudah bersyukur, dan semakin yakin atas kuasa Allah. Saya belajar menghargai kesusahan sebagaimana menghargai kemudahan. Saya rasa saya jadi lebih dewasa di umur 18 tahun, hehehe.

Kalau ingin menunjuk siapa yang bertanggung jawab atas masalah UAN, tulisan saya bisa lebih panjang lagi. Sudahlah. Kita semua bertanggung jawab untuk bisa menjadi pendidik dan terdidik yang baik dan benar. Yang ingin saya tekankan adalah bahwa kegagalan UAN bukanlah akhir dari segalanya. Kita mungkin bisa merasa marah, malu, dan lain-lain. Kita mungkin terpancing untuk melakukan hal-hal bodoh yang justru akan merugikan diri sendiri dan orang-orang lain. Tapi bukan begitu cara menyelesaikannya.

Hadapi ujian susulan dengan berani. Persiapkan 'senjata' dan 'amunisi' yang lebih banyak, lebih lengkap dan lebih canggih dengan cara belajar dengan lebih giat. Pergunakan waktu yang ada untuk benar-benar belajar. Jangan buang-buang waktu dengan meratapi kegagalan karena itu sama sekali tidak ada gunanya.

Saya beruntung, sangat beruntung, memiliki keluarga, teman, dan guru yang begitu mendukung. Tapi saya tahu, di luar sana, mungkin banyak adik-adik yang tidak seberuntung saya. Dalam arti, mungkin orang-orang terdekat kalian justru lebih menghancurkan semangat kalian, alih-alih mendukung. Tinggalkan mereka, paling tidak untuk sementara. Konsentrasi pada diri sendiri dan ujian ulangan yang akan dihadapi. Percayalah bahwa mereka yang menghancurkan semangat bukanlah orang-orang yang harus bersama kalian.

Kegagalan adalah hal yang
SANGAT BIASA.


Kalian hanya belum tahu apa yang telah disiapkan Tuhan dibalik kegagalan itu. Nanti, beberapa tahun mendatang, ketika kalian telah mengetahui berkah dibalik kegagalan, yakinlah bahwa kalian akan sangat bersyukur atas kegagalan itu. Penyesalan tidak ada artinya. Bersyukur akan membuat hidup kalian lebih mudah.

Hubungi saya segera jika kalian perlu bicara mengenai hal ini, atau mungkin kalian punya adik, teman, atau kenalan yang butuh bicara dengan saya. Siapa tahu saya bisa sedikit membantu. Karena saya dulu dibantu dengan dukungan semangat dari orang-orang sekitar.

Semangat ya!

^^v

Thursday, April 22, 2010

...

Hey..

Aku baca sms-mu semalam tadi pagi, dan aku emang sengaja ga langsung bales.

Aku pengen ngomong deh, dan maaf.. jadinya malah ngomong di sini.. karena.. yeah, bukan cuma karena kita susah ketemu, tapi juga aku susah deh ngomong langsung.

Menurut kamu.. hummm.. do you think that this.. relationship.. is working in the right way? I mean.. we may love each other but.. I don't think that we have that courage to be in this relationship. Aku inget kamu pernah bilang, "because I dare, nnisa.." tapi terus.. aku yang malah ga ngerti dan pengen balik tanya, "do you really dare?" because I don't get it.. don't even feel it, like you really have the courage to fight for me. And I don't have that either.

We both too passive, we both holding things back too much. I'm not a trooper for this. This is the battle I'd love to lose just because I see you're not a trooper for this battle too. So why bother to battle?

Mungkin awalnya simpel.. Aku mencoba untuk nggak terlalu demanding.. tapi ternyata ga berhasil juga. Lebih sering kecewa karena gagal ini itu. Dan aku punya kehidupan yang lain. Instead of mikirin kegagalan segala rencana aku lebih milih untuk jalanin rutinitas biasa dengan sebaik-baiknya. Hence the blog "between here and there". My life is on weekdays only. There's no you on my weekdays, and sadly, you're not even on my weekends.

We started this thing too much on the internet. Pertamanya mungkin aku merasa bakal lebih praktis. Tapi ternyata malah muak sendiri. Aku kan masih di sini.. kita masih satu kota, dan berhubungan cuma lewat internet! Itu berlebihan menurutku.

Waktu terakhir kamu ke rumahku.. Aku terus-terusan nyerocos soal kantor.. karena itu yang ada di hari-hariku. Kita ga punya apa-apa untuk saling diceritain tentang kita berdua. Sedih tau! Aku ga tau kita bisa berbagi apa lagi kecuali obrolan tengah malem di YM.

Kayaknya aku ga cukup dewasa deh untuk bisa jalanin hubungan macam ini. Bener. Dan rupanya aku sangat demanding, hahahaha. Bagaimanapun berusaha supaya ga terlihat terlalu demanding, ternyata makan ati juga.

Kamu mau cuti kan katanya? Coba sambil dipikirin baik-baik. Aku juga mikirin baik-baik. Coba kita sama-sama mikir apa kita berdua memang udah siap ngejalanin hubungan kayak gini. I can't accept love that keeps inside. I can't. I'm not a magician. I need action more than you ever know. Don't let me think that you just love the chase but hate me for the runaround.

Whatever you decide, rossi.. I'll try to understand. Release me if you think you're not ready for what I demand and if you think that I don't deserve a single thing I demand. Future is just a matter of time.

Monday, April 19, 2010

Between Here and There

Now I know.

My life.
Is only between here and there.

Between home and forest.
Between family and friends.
Between nice people and badass people.

I have nothing more, at least for now.
This is all I have.
The happiness, the sorrow.
The excitement, the boredom.
And I'm embracing it, as well as learning from it.

Future is next stop.
I know I'll stop coming back and forth from here and there.
I know someday I will have another 'here and there'.

The only question in my head now is
"I don't really know what's going on"

So let me.
Let me live my life here and there.
While finding the answer for future.

Office Prank #2 (oh, not really number 2. It's actually number 121)

When I got to the office this morning, I was surprised.

Hey, what the~




My therapeutic stuffed donkey a.k.a my kinky donkey was hung.

I let it there until the suspect came.

Then the suspect came.

I glared.

He didn't get it.

I kept on glaring at him.

His face was asking "what's going on?"

I pointed out to the poor donkey.

He laugh. OUT LOUD.

I let him laugh, for about half a minute.

"What the hell were you doing?" Asked me.

He laughed again. LOUDER.

And stopped.

"Poor you donkey. It must have been very hard being played and bullied by Nnisa. Suicidal is not the only way out. You should've asked me for help, donkey."

I glared.

"Oh, okay. Here.." He finally released donkey and put it nicely beside my monitor.




Oh my morning~

Thursday, April 15, 2010

Your wish is my command! :D

17.45 - office

"Cak, I'm having a block. I can't think about anything.. I'll send you minimum 3 alternatives for headline by tomorrow morning." I confessed to my CD. Actually, I made three headlines but uhm.. (clearing throat) our client didn't like them.

He smiled like he really meant it. "Go home. Watch movie, have some decent dinner.. That's an order. Should I make it legal on Job Request sheet?"

"Yeay!" I screamed happily.

So, here I am right now, home at last, but still facing the monitor. As he asked me to, I'm going to take hot shower, decent dinner with the whole gang, uhm.. I mean, the whole family, and Grey's Anatomy to end the night. I guess it's not a crime to have my typical Friday Night After Work indulgence on Thursday night to get more energy for Friday before weekend sneaks in.

At least my boss insisted me to, hahahahahaha...

Wednesday, April 14, 2010

A little bit further and a lot more happier

Hey, I moved.

I'm no longer working beside that old man.
Uchil is on my left side, and the new designer named Adi on my right side.

It's better to be "bullied" by my best co-workers than to be annoyed by my lousy boss.

I laugh more, play more, learn more. And I feel a lot more happier.

It's just a stupid update from me. Just in case you're wondering :P You're not? Ah, shame on you! hahahahahahahah...

Do I really know what I want and what I need or do I misinterpret this whole thing?