Bukan karena baru saja melewati lebaran bersama kakek dan nenek lantas langsung terinspirasi untuk menulis tentang mereka. Sudah lama aku ingin menulis tentang peran kakek nenek, terutama kakek-nenekku, di blog ini. Tapi, momen yang tepat memang baru datang saat ini.
Di hidupku, aku beruntung memiliki bukan hanya dua pasang kakek dan nenek, tetapi tiga pasang kakek nenek yang, tentu saja, sangat kusayangi. Pasangan kakek-nenekku yang pertama adalah orang tua dari ibu. Mereka kupanggil Ompung hanya karena mereka berdarah batak, hehe. Aku memang paling dekat dengan kedua Ompung yang alhamdulillah masih ada dua-duanya. Ompung lak-laki kami panggil Ompung Raja. Beliau adalah sosok besar bagiku. Seingatku, saat kecil dulu, aku justru jarang berinteraksi dengannya. Justru setelah aku beranjak dewasa dan ketika beliau sembuh dari sakitnya, kami justru banyak berinteraksi.
Ompung Raja, melalui cerita-cerita yang sering dikisahkan oleh ibu, telah banyak memberikanku banyak inspirasi, motivasi, dan kekuatan dalam menjalani kehidupan. Beliau adalah panutanku. Beberapa minggu yang lalu, lewat ibu, beliau mengucapkan kata-kata yang sangat mengharukan bagiku ketika ibu mengabarkan kabar kami, para cucu-cucunya.
"Cacha? Oh, iya.. saya kenal dia. Dia teman saya." Begitu katanya :' )
Ompung perempuan kami panggil Ompung Mama. Beberapa adik-adik sepupu saya memanggilnya Ompung Mami, biar lebih manis katanya :) Ompung Mama adalah sosok ibu yang kuat dan pejuang bagi keluarganya. Beliau selalu bisa menemukan kebahagiaan dalam hidupnya. Bukan artinya beliau tidak pernah mendapat musibah, bukan. Justru beliau menunjukkan kekuatannya dalam menghadapi cobaan dalam hidup dengan cara tetap bahagia. Aku belajar untuk selalu berbahagia darinya.
Pasangan kakek nenek yang kedua adalah orang tua ayahku. Kakek yang kami panggil Opa sudah lama meninggalkan kami. Beliau punya caranya sendiri dalam mengekspresikan rasa sayang pada cucu-cucunya. Beliau sangat jail dan suka membuat cucu-cucunya menangis karena ledekannya. Aku ingat betul bagaimana beliau suka menggangguku. Aku tidak marah, meski menangis sejadi-jadinya. Aku sayang Opa, dan aku ingat pelajaran terakhir yang sempat beliau bagi tepat beberapa jam sebelum beliau pergi untuk selamanya. Opa bilang,
"tidak ada pelajaran di dunia ini yang tidak ada gunanya." Sederhana, tetapi benar adanya. Sehingga, setiap kali aku merasa putus asa dalam mempelajari sesuatu, ketika aku rasanya ingin sekali berhenti belajar, aku ingat kata-katanya.
Nenek dari ayah kami panggil dengan sebutan Oma. Oma sangat pintar masak. Rendang limpanya nomor satu, dan akan selalu kurindukan tiap lebaran datang. Oma pendiam, dan anggun. Terampil dan rapi dalam melakukan banyak hal, terutama yang berkaitan dengan urusan masak-memasak. Menurut ayah, Oma itu galak. Menurutku, Oma itu sangat anggun.
Pasangan kakek nenek yang ketiga adalah pasangan om dan tante dari pihak ayah. Kami sangat dekat karena saya dan abang saya menghabiskan masa kecil disekitar mereka. Rumah kami dulu berdekatan. Kami berdua sering dititipkan di sana. Kakek dan nenek kami ini kami panggil Opa dan Oma Tante Titin, karena anak mereka salah satunya bernama Titin. Kami memanggilnya Tante Titin :P Aku dan abang benar-benar menghabiskan masa kecil di sana, di rumah mereka yang selalu kami rindukan. Oma dan Opa ikut mengurus kami layaknya cucu sendiri. Bagi anak-anak mereka, Tante Titin dan Tante Ade, kami seperti mainan mereka. Jika saatnya kami pulang, kami pasti sudah rapi. Sudah makan dan mandi. Aku sudah didandani lengkap dengan jepit-jepit lucu hasil karya para Tante muda.
Beberapa tahun yang lalu, Oma Tante Titin meninggal dunia. Kami, terutama aku dan abang sedih luar biasa. Tapi hal tersebut tidak menjadikan kami berhenti mengunjungi mereka setiap idul fitri. Rumah mereka adalah salah satu destinasi wajib kunjung, dan semuanya masih terasa sama. Aroma rumahnya, hembusan kipas angin di ruang makan, dan suara burung kakak tua dari halaman belakang. Itu adalah rumah persinggahan, rumah tempat menghabiskan sebagian masa kecilku.
Aku mencintai para kakek dan nenek ini. Mereka, dengan caranya masing-masing, telah mendidik dan membentukku menjadi seperti ini. Mereka mencintai para cucu tanpa syarat sehingga kami mendapatkan kasih sayang yang utuh dan hangat. Sedikit berbeda dari apa yang kami dapat dari orang tua. Setiap ingat mereka, baik yang masih bersama kami di sini maupun yang sudah tiada, hati terasa hangat. Bagaimanapun aku selalu ingin mengingat dan menyayangi mereka. Semoga Allah selalu menjaga mereka.
:)