Aih, senangnya ketemu lagi sama Nana. Biarpun jarak dari rumah ke bandara cukup jauh, biarpun ongkos naek damri cukup mahal, dan biarpun kami hanya menghabiskan waktu satu jam aja buat melepas kangen, tapi semuanya ‘terbayarkan”!
Di Damri, seperti bernostalgila. Kami (gue, diba, jaja) memilih deretan kursi paling belakang supaya bisa duduk bareng dan ngobrol lebih enak. Obrolan kami (meski ini udah kedua kalinya ketemu sejak camp berakhir) masih tetap seputar camp menakjubkan itu. Dan, duduk ngobrol bersama Jaja itu sangat mengundang perhatian orang2 sekitar karena suaranya yang keras cukup bikin beberapa orang di Damri menoleh kebelakang, ke arah kami, hehehe.
Sampai di Soekarno Hatta, kami mencari terminal keberangkatan pesawat Korean Air. Agak kebingungan juga mencari seorang Nana di bandara yang rame itu. Sampe telpon temennya Nana di semarang dan koordinator kegiatannya selama di semarang bernama Pak Ketut untuk mastiin keberadaan Nana. Menurut mereka, Nana itu emang udah merencanakan ketemu dengan kami di terminal 2, jadi kami akhirnya memutuskan untuk duduk menunggu di terminal 2 tepat di depan pintu check-in.
Lagi ngobrol ga karuan, tiba2 ada seorang cewe lari2 ke arah kami sambil senyum. Kontan dia langsung memeluk kami semua. Nana, oh, Nana… berkali2 dia bilang, “I can’t believe I met you, guys!” hahaha…
Kami ngobrol2 seputar kegiatannya disini. Dia suka makan soto, dan dia bilang pisang indonesia enak, jadi dia makan pisang terus sampe temen2nya manggil dia NanaBanana, hehe. Terus dia juga bilang candi prambanan dan Borobudur kita keren banget. Menurutnya lebih keren daripada Bulguksa Temple yang ada di Korea. (Ya iyalaaaah… ahahaha..)
Tiba2 dia nanya apa kami laper. Trus kami menggeleng. Trus dia kabur ke konter Dunkin yang letaknya ga jauh dari tempat duduk kami. Abis itu dia balik lagi sambil menggandeng tangan kami untuk mengikutinya. Dia bilang “let’s drink, then..”
Di depan konter dunkin, dia langsung mengeluarkan uang sepuluh ribu rupiahnya sambil melihat ke daftar minuman. “what’s markisa?” tanyanya. Gue jelasin kalo markisa itu buah indonesia, yang rasanya asem dan manis. Dia tertarik untuk mencoba. “4 Markisa, please,” ujarnya pada mba2 yang melayani. Gue, Jaja, Diba, dan mba2 Dunkin liat2an. Satu cup kecil markisa harganya sepuluh ribu, sedangkan dia hanya mengeluarkan sepuluh ribu. Terharu tapi miris juga. Kasian nih bocah Korea, dia mungkin punya uang, tapi dia masih kebingungan dengan nilai kursnya. Mungkin dia pikir 10.000nya bernilai won, hehe. Aku bilang sama Nana, “Nana, let us buy you the markisa.” Tapi dia bersikeras sambil terus ngobok2 tas kecilnya mencari sisa2 rupiah (yang dia keluarin adalah lembaran seribuan yang udah kucel!) Akhirnya gue mengeluarkan kata2 korea yang menunjukkan nilai mata uang yang dia keluarin. Dan saat itu dia baru ‘ngeh sambil tertawa geli. Dia bener2 masih bingung meng-kurs-kan rupiah dan won. Lalu dia bilang “Oh, I have. I have” sambil mengeluarkan selembar sepuluh ribuannya. Mba2 dunkin menghitung uang yang dikeluarkan Nana. Masih belum cukup juga. Sampe akhirnya Jaja berinisiatif mengeluarkan sepuluh ribunya untuk nambahin tanpa sepengetahuan Nana. Akhirnya terkumpul sejumlah uang cukup untuk 4 cup kecil markisa. Nana senang, kami senang. Ehehehe..
Kembali ke kursi tadi, kami foto2 seru sambil cerita segala macem hal. Dia sedih ga bisa ketemu Arum, Hesty, dan Nia roommatenya slama camp. Gue merasa ini kesempatan bagi Nana sebelum dia balik ke Korea untuk, paling ngga, ngobrol sama mereka. Dengan hp gue sendiri, gue telp Hesty dan Nia supaya Nana bisa ngobrol sama mereka. Nana senang, semua senang. Ga lama Dedi (National Leader kami selama camp) datang menyusul. Nana tambah seneng. Kami? Ehehehe.. hanya bergumam, ”nyampe juga lo, Ded!”
Jam setengah sembilan, Nana dipanggil. Sudah waktunya dia boarding. Dia memeluk kami satu persatu lalu menambahkan satu kecup di pipi, manis banget bocah ini. Kami mengantar sampai di depan pintu check-in. dia bilang “when you go to Korea, you have to stay at my house, okay?” kami mengangguk. Tapi dia meraih kelingking kami satu persatu (aku tahu, ini cara mereka berjanji) “Yaksok,” kataku (artinya: janji) Dengan wajah sedih, dia masuk sambil terus melambai2 ke arah kami.
Reunian ini manis banget. Semanis markisa yang kami minum bersama.
sweet story...
ReplyDeleteaaaawwwwww......
ReplyDelete*terharu-biru*