Saturday, December 27, 2008

Sebelum menghilang selamanya

"Kau terlalu banyak membuang-buang waktu!" ujarnya dengan nada kecewa.

Aku menghela nafas. "Aku tahu," jawabku.

"Lantas, kenapa tidak segera menceritakan kisahku?" tanyanya.

Aku terdiam. Apakah dia tidak paham betapa aku ingin bercerita?!

"Jangan kau pikir aku tak mengerti jalan pikiranmu..." Ia melompat mendekat. Hidungnya bergerak-gerak, dan telinga mungilnya tegang. Aku tak berdaya, bungkam.

"Kalau kau paham, kenapa mendesakku terus? Itu sama sekali tak membantu, tahu?!" Aku protes.

Hidungnya berhenti bergerak, dan telinganya tak lagi tegang. "Aku tak mendesak. Aku hanya ingin kau paham tentang satu hal..." Kali ini dia terlihat lebih serius.

"Apa?" tanyaku.

"Bahwa kau tidak perlu menjadikannya sempurna."

Aku menyimak baik-baik.

"Kau hanya perlu melakukannya dengan baik. Kalau nanti hasilnya tidak sempurna, tidak masalah."

Aku terus menyimak.

"...yang penting aku tahu kalau kau telah berusaha sebaik-baiknya."

Aku terdiam memahami kata-katanya. "Begitukah?" tanyaku, penuh keraguan.

Dia malah menguap lebar.

Bersamaan dengan itu semburat cahaya matahari perlahan jatuh di ujung kepalanya.

"Sudah... Kembalilah ke imajinasimu.. Segera... Sebelum aku benar-benar menghilang untuk selamanya."

Aku bergumam, "..dan ketika itulah kau benar-benar akan menjadi sejarah yang tak terungkap..."

3 comments:

  1. jangan! jangan menghilang untuk selamanya! :)

    ReplyDelete
  2. imajinasiku sempat jadi kenyataan sebelum akhirnya kembali ke alam imajinasi.. terkadang imajinasi memang lebih indah karena dia imajinasi, nnisa.. have fun with imaginations.. reality hurts too much :P

    ReplyDelete
  3. dania: let's pray...

    rara: hohohoh.... seringkali gue kepengennya hidup di dalam imajinasi gue aja... boleh ga ya? boleh sih... cuma ga bisa, ahahahah...

    ReplyDelete