Udah beberapa kali gue berpikir tentang hal ini: teman itu seperti sebuah brand. Setelah mature, harus tetep di-maintain supaya bisa bertahan lama.
Ini sekadar berbagi pemikiran aja.
Karena gue, udah sering diselamatkan oleh sebuah dering telepon, bunyi sms, sapaan di YM, surat di kotak pos (iya, amplop berisi selembar kertas), dan bunyi bell pintu.
Betapa gue benar-benar merasa terselamatkan, entah dari apapun kondisi gue saat itu. Keadaannya menjadi jauh lebih baik setelah mendengar suaranya, membaca kata-katanya (dan entah kenapa intonasi serta suaranya tetap menggema di kepala, hehe), melihat tulisan tangannya, sampai melihat wajahnya di depan mata.
Sederhana, bukan? Tapi efeknya, tidak sesederhana itu.
Mempunyai orang-orang yang terus berada secara fisik bersama kita adalah hal yang tidak mungkin. Jadi, ketika ada kesempatan untuk sekadar menyapanya, menanyakan kabarnya, dan mengenang masa-masa bersamanya, kenapa tidak sering dilakukan?
Seringkali ia tidak butuh apapun. Ia hanya butuh seorang yang datang menyapanya, dan siap menggunakan hatinya untuk mendengar dan melihat. Karena ia seorang teman, dan kita seharusnya bisa menjadi teman yang lebih baik.
Call a friend. Be a friend.
I love you, friends ^^
ah nnisaaaaaaaaaa aku terharuuuuuu
ReplyDeleteterima kasih sesi radio rimba dadakannya waktu itu yaaaa...
yuk kita bikin kampanye Call-A-Friend Day!!!!! :D:D:D
setuju ra....
ReplyDeletemakasih juga radio rimbanya ya sa
rara-rifki: SAMA-SAMAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA......
ReplyDeleteyuk, yuk, yuk...
call a friend, save a friend..!
:)
berasa udah punah aja gitu
ReplyDeletemakanya punya facebook, hahaha :p
ReplyDeleterifki: apaan sih???
ReplyDeletemas dartz: punya kok... weeeeee... :P hehehehehehehehee...
Oooh nengnong...
ReplyDeleteI LOVE U!:-D
Hyahahaha..
love u too... :)
ReplyDeleteNice writing! :-)
ReplyDeleteTerima kasih :)
ReplyDelete