Saturday, February 28, 2009

Dia harus menyesal!

Entah kenapa...

Ucapan yang dia lontarkan itu membuat saya sakit hati... dan saya tidak menyangka bahwa saya akan mengalami rasa sakit hati yang begitu dalam...

Padahal, orang-orang bisa aja menganggap gue 'bukan siapa-siapa'.

Memang.

Memang saya bukan siapa-siapa.

Saya hanya kebetulan menjadi bagian dari ini semua.

Tapi... ucapan itu saya rasa tidak pantas untuk diucapkan oleh seseorang yang bukan hanya bagian dari komunitas, tetapi juga merupakan penyambung ilmu dalam komunitas ini.

Ironis.

Seharusnya dia belum bisa menjadi bagian dari komunitas ini, karena ternyata dia tidak tahu apa-apa tentang kami.. tentang komunitas ini.

Alih-alih, dia melontarkan pendapat yang sangat subjektif, tak berdasar, tak beralasan, dan sangat tak sesuai dengan tempat.

Apa yang menyebabkannya begitu?

Ah, dasar manusia....

Kebanggaan atas kulit luarnya yang begitu bersinar merasuk sampai tulangnya, sehingga ia jadi begitu sombong menilai dunia luar. Ia tak lagi bisa mencari sesuatu yang benar... karena yang ia anggap benar hanya dirinya, dunianya, kulit luarnya, dan lembaga yang menaunginya.

Ucapan menyakitkan itu... saya anggap sebagai secangkir kopi hitam yang sangat pahit, tidak baik pula bagi kesehatan, tapi mampu membuka mata saya lebar-lebar, serta membuat saya bisa berpikir jernih untuk satu hal...

Saya memang bukan siapa-siapa... dan saya tidak akan menjadi bagian dari institusi ini hanya karena saya memiliki hubungan dalam bentuk apapun.

Tapi, sebagai seseorang yang mengetahui bagaimana sejarah dibalik ini semua, saya merasa suatu hari nanti saya HARUS meneruskan perjuangan ini... betapapun kondisinya.

Sakit hati ini saya sadari tidak seberapa besarnya dibanding dengan perjuangan mereka dalam membangun, mempertahankan, menyelamatkan, institusi kami.

Perjuangan yang tidak mudah, dan perjalanannya tidak singkat. Apa yang telah (dan sedang) mereka lakukan, kini menjadi panutanku..

Jadi, untuknya... untuk dia yang besar kepala, dan berhati sempit...

Sampai ketemu nanti...

Disaat saya berdiri tegak, memegang prinsip yang telah mereka ajari sejak saya lahir, dan yang paling penting, berdiri sejajar dengan dia...

Ketika itu... akan saya buat dia menyesal... akan ucapannya yang picisan. Akan saya buat dia menyesali pemikiran-pemikiran seadanya...

10 comments:

  1. bagus....
    gw suka bagian ini. udah cerita ke nyokap lo?

    ReplyDelete
  2. yang sabar nnis..
    joni aja tabah ko ngadepin dia waktu TKA..
    *sotoy

    ReplyDelete
  3. yaaa sepertinya gw tau betul yg lo bilang ini dari kk gw yg bener2 ogah nyemplung basah2 di komunitas yang di claim terbaik seindonesia :D

    oh ya lo bisa jadi penerusnya nis?

    ReplyDelete
  4. rifki: awalnya gue ga pengen cerita2 ki... tapi begitu sampe mobil, ga tahan juga... akhirnya cerita ke abang.. dan berniat ga cerita sama nyokap... Tapi, dasar ibu2... tau banget kalo gue lagi nyimpen sesuatu.. walhasil, cerita juga deh gue kemaren sore... *legaaaa*

    eben: hihihihihi.... siapa nih?

    adit: ahahaha... begitu nyemplung, takutnya bisa jadi gelap mata, hati dan pikiran ya? mendingan ga usah deh... masih banyak cara lain untuk bangun bangsa, hehehehe...
    jadi penerus? bisa, kalo gue mau... tapi gue harus berjuang dan bekerja keras, jadi ga asal masuk, ehehe... doakan yaa~

    ReplyDelete
  5. ihhh kemaren sabtu kok nggak cerita apa2 sih?? sebel dehhhh....

    ReplyDelete
  6. waduh... siapakah?

    ayo lawan nnisaaaaa! *oper bambu runcing ke nnisa*

    ReplyDelete
  7. rara: pengen ra.. sebenernya... cuma... kmaren tuh rasanya gue ga pengen mengulang kembali kebetean yang terjadi jumat malam.. jadi, gue telen aja.. hehe.. sama nyokap aja baru cerita sabtu sore, setelah dari kampus.. :0
    minggu depan deh dceritain, hehe...

    dania: dikampus yaa ceritanyaaa~

    ReplyDelete
  8. hehehe biar ga terulang kyk kasus PA :D

    ReplyDelete
  9. Teruskan perjuangan pilih no.38 !!!

    ReplyDelete