Monday, March 22, 2010

Nama Belakang

Namaku Annisa Rahma. Begitu sejak dulu, sejak lahir. Begitu yang terdaftar di setiap dokumen penting: akte kelahiran, kartu keluarga, ijazah, kartu pelajar, KTP, paspor. Dulu, ayahku, yang saat itu sering mengantarku les piano, suka menulis namaku di buku piano dengan mencantumkan nama depannya. Jadi bunyinya begini: Annisa Rahma Firman. Tapi itu informal. Seumur hidupku, ya namaku tetap Annisa Rahma.

Aku mulai sering bertanya-tanya setelah itu. Kenapa aku tidak punya nama belakang alias nama keluarga alias nama ayahku? Kata ibuku, karena nantinya nama kami (semua anak-anaknya) pasti akan punya nama belakang dengan selipan "Bin" atau "Binti" sebelumnya. Secara islam, lebih singkatnya. Jadi, Annisa Rahma Binti Firman Haris.

Tapi aku mulai menyesali setelah makin dewasa, aku memerlukan dokumen penting yang mengharuskan aku mencantumkan nama belakangku. Paspor, sertifikat internasional, sampai formulir-formulir internasional. Karena tak punya nama belakang, jadilah seringkali "Rahma" menjadi nama belakangku alias nama keluarga. Meskipun bukan begitu kan seharusnya? Malahan, di salah satu sertifikat keikutsertaanku di summer camp kemarin, namaku tertulis terbalik: Rahma, Annisa. Mereka berasumsi "Rahma" adalah nama belakangku, dan karena mereka adalah orang Korea, yang biasa menuliskan nama keluarga di depan.

Di saat yang sama, di summer camp itu, seorang panitia pernah mengetuk kamar kami yang saat itu sedang rapat kontingen. "Hey, sorry.. I'm looking for Mr. Suratno. Is he here?" Kami semua terdiam dan saling pandang. Tak ada yang bernama Suratno, tapi sangat yakin nama "Suratno" adalah nama Indonesia. Kemudian, setelah beberapa detik saling bertanya-tanya, salah satu diantara kami terhenyak. "Gue! Gue! Itu nama bokap gue!" Begitulah. Saking tak terbiasanya menggunakan nama belakang alias nama ayah.

Aku tidak pernah bermasalah jika kami semua harus mengikuti tata cara nama islam seperti penggunaan "Bin" atau "Binti". Teman-teman Malaysia juga begitu kok, xxxx Bin xxx. Penamaan itu jelas dan tercantum di mana-mana, termasuk di dokumen penting. Tapi kita di sini kan nggak begitu. "Bin" dan "Binti" hanya disebutkan saat akad nikah dan meninggal. Ya kaaan?? Sementara sepanjang hidup, namaku tetap Annisa Rahma. Padahal banyak dokumen yang memerlukan nama belakang, nama ayahku.

Ibuku pernah bilang lagi, katanya ada masa ketika pemerintah tidak mengizinkan pencantuman nama belakang ayah pada nama anaknya. Termasuk pencantuman marga sekalipun. Itu baru berlaku beberapa tahun belakangan, katanya. Bagitukah? Kalau lihat dari contoh yang ada, memang begitu sih. Ini hanya contoh ya.. Megawati Soekarno Putri. Kenapa bukan Megawati Putri Soekarno? Aku membayangkan betapa lucu jadinya kalau Bu Mega mencantumkan nama belakangnya "Putri" di paspor, padahal yang seharusnya dicantumkan adalah nama ayahnya yang besar, "Soekarno".

Pencantuman marga menjadi nama belakang juga katanya tidak diizinkan. Beruntung ibuku tidak sempat mengalami itu, jadi ia masih bisa mencantumkan nama belakang dengan marga Sumatera Utaranya. Ada contoh juga yang terjadi, salah satu teman SMA ku mencantumkan marganya di tengah. Nama belakangnya jadi nama biasa, yang bukan khas daerah. Seperti ingin tetap melestarikan nama belakang/marga, tapi terpentok peraturan yang tak masuk akal.

Aku heran, kalau peraturan itu memang ada, kenapa begitu??? Kenapa malah mempersulit sesuatu yang justru mempermudah? Nama belakang kan justru mempermudah. Kita jadi bisa menklasifikasi, jadi tahu siapa ayahnya, siapa keluarganya. Secara internasional, segala dokumen kita juga pasti jadi akan lebih mudah dan rapih. Tanpa nama belakang ayahku, bagaimana mereka bisa begitu saja percaya bahwa aku adalah anak ayahku tapi kami tidak memiliki nama belakang yang sama? Lucu kan?

20 comments:

  1. sebenernya gue bingung sih sama aturan nama belakang itu...

    misalnya gini...

    nama gue Rara Ayu. anggep nama bokap gue... Joni Dep (jiaa...)
    Nah, gue mesti pake nama Rara Joni apa Rara Dep?

    Sementara nama kakek gue Dep Dop.
    Nah, gue mesti pake nama Rara Dep apa Rara Dop?

    Nama belakang itu sebenernya nama siapa sih?
    Nama ayah? Nama kakek? Nama buyut?

    Seperti silsilah yang tak ada habisnya..

    Jadi kalo gue bingung.. gue tinggal bilang sama orang yang nanya nama belakang gue:
    "Ah, what's in a name? Which we call a rose by any other name would smell as sweet.."

    uaheuaheuahuehau

    ReplyDelete
  2. wahaha menarik nih!

    yang pasti sih, nama belakang itu didapet dari keturunan laki2 (kecuali matriarchal), jadi kalo misalnya si kakek, punya anak cowok, trus punya cucu cowok lagi, nama belakang mereka bakal sama, dan kalo menurut gue ini (seharusnya) berlangsung dari generasi pertama/generasi yang memulai (dengan syarat keturunannya selalu ada laki2, kecuali tiba2 anaknya perempuan semua)

    btw nnisa, mungkin kalau suatu saat dirimu menikah, kamu akan punya nama belakang, heheheh.. *wink wink*

    ReplyDelete
  3. riri: iyaa.. tapi abang dan ade laki-laki gue juga ga pake nama belakang bokap.. padahal bokap gue pake nama belakang ayahnya. Nah, kalo urusan setelah menikah, justru gue malah ga mau pake nama belakang suami... biar anak2 gue aja yang pake, biar mereka ga merasa seperti ga punya jati diri seperti ibunya, hahahahha...

    ReplyDelete
  4. rara: nah, itu memang kembali ke kesepakatan sih ra. Tapi yang gue tau, umumnya yang dipake adalah nama belakang bokap. Kalo kasus Dep Dop lo itu, berarti kakek lo yang justru ga ngasih nama belakangnya. Harusnya kan bokap lo namanya Johnny Dop, kenapa jadi Johnny Dep? Jadinya, biar bagaimanapun, lo pake nama belakang bokap lo, bukan nama belakang kakek lo. Jadi Rara Dep. Gitu ga sih? hahahaha...

    ReplyDelete
  5. Hmm, benar. Saya memang sulit mengerti karena saya punya nama belakang. In fact, saya dan sepupu-sepupu di keluarga saya demikian, asal ayahnya yang memiliki nama "Noor", bukan ibunya.

    Well, jujur, rasanya emang kayak ada "belonging". Kayak bagian dari satu keluarga besar.

    Tapi, ga punya nama belakang bukan berarti ga punya jati diri, lho. "Annisa Rahma" itu sendiri juga udah sebuah jati diri...menurut saya :)

    ReplyDelete
  6. tapi nnis...

    gue tetep gak ngerti, siapa generasi pertama yang memakai sebuah nama itu. yang kemudian akan diturunkan.

    karena kalo gue pake nama bokap gue, bokap gue pake nama kakek gue, kakek gue pake nama buyut gue...

    ...nah, berakhirnya itu di siapa?

    siapa yang PERTAMA KALI pake nama "Dep" itu?

    aeuhauehau.. pusiiing...

    ReplyDelete
  7. kalo misalnya kawin nanti lebih bingung lagi..

    kan suka ada tuh yang pake nama suami, misalnya annisa finza noor.. gimana tiuh? :P

    ReplyDelete
  8. sebelum komen, gue pengen bilang dulu, NAYYYAAAAAAAA HUAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAH... BANDEL!!

    nah, sekarang baru komen...

    ini masalah yang sama yang gue dan alma hadapin waktu ikutan children of abraham. nggak ada satupun yang percaya kalau gue dan alma itu sodaraan, karna nama belakang kita nggak sama. tapi kita sih ketawa2 aja, malah seneng karna nggak ada yang nyangka kita seibu-sebapak. terus kita jelasin ke anak2 bule itu, kalau di indonesia, pakai nama keluarga sebagai nama belakang itu bukan sesuatu yang umum. jadi wajar aja kalau ada 2 orang dengan nama belakang nggak sama, tapi sodaraan. ini masalah budaya kali, ya. budaya orang barat, nama belakang itu ya nama keluarga. sama kayak orang malaysia. tapi kalau kita, kita nggak pakai nama belakang untuk keluarga. nggak masalah sih...

    satu2nya masalah cuma pada suatu hari, direkturnya children of abraham telpon ke rumah untuk ngomong sama bokap gue dan dia bilang, "HELLO, MISTER PRATIWI!". bwahahahahahah...

    kata nyokap gue, sebenernya dalam islam kalau kita nanti nikah, nama kita tetep pake nama bokap, bukan nama suami. karena... ada kemungkinan untuk cerai. inget kan waktu kita mau ngumpulin TKA dan bingung nulis nama salah satu dosen karna mungkin namanya bukan itu lagi soalnya dia... hmmmm... gitu lah.

    tapi anak2 kita nantinya akan pakai nama suami kita di belakangnya. jadi misalnya, gue nikah sama gregory house (YEAH!). kalau gue pribadi, nama gue bakal tetep dania pratiwi, nggak jadi dania house. kalau mau, anak2 baru namanya ikut bapaknya, gitu.

    ReplyDelete
  9. MUAAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA *ngakak guling2*

    ReplyDelete
  10. iya ah gue mau mencantumkan nama suami gue di nama anak gue ntar.




    ...ntar kapaaaannn????

    buakakakakakakakaa.....

    ReplyDelete
  11. 6 bulan lagi ya?? ikikikikikiikikikikikkk

    ReplyDelete
  12. aaaaaaaaaaaaarrrgghhhh..... jangan sampeeeeeee....

    ReplyDelete
  13. weheheh jadi inget kalo liburan ke lombok setiap kali registrasi check in di guest house bareng kk gw pasti disangkanya bangsawan dari buleleng :D
    ntah kenapa kok nama wardhana / wardhani bisa dicomot begitu saja sama bokap gw
    tapi setelah membaca postingan lo gw jadi berpikir akan mendirikan klan
    wardhana ke semua orang yang namanya tercantum dalam kartu keluarga nanti :D mengingat perlakuan istimewa yang diberikan saat liburan ke timur pulau jawa :D

    ReplyDelete
  14. hahahahahahaha... ide bagus, dit!

    ReplyDelete
  15. revisi!

    aaaaaaaaaaaaarrrgghhhh..... jangan sampeeeeeee nggak....

    ^^v

    ReplyDelete
  16. Ya, benar. Nyokap gue juga bilang gitu.

    ReplyDelete
  17. Dudududududu. Udah, Nay. Apalin aja dulu Al-Baqarah...:D

    ReplyDelete