Selama enam tahun terakhir ini, setiap mendekati masa-masa UAN, saya selalu teringat masa-masa UAN saya. Setiap tahun pula saya mencoba mensyukuri dan berusaha untuk sama sekali tidak menyesali apa yang telah terjadi waktu itu.
Saya tidak pernah punya keberanian untuk bicara dengan berani di depan publik soal ini. Meski begitu bukan berarti orang-orang di sekitar saya tidak tahu apa yang pernah terjadi. Mereka yang satu sekolah dengan saya tahu tentang ini, begitu juga dengan beberapa orang terdekat yang saya kenal di kemudian hari.
Saya pernah tidak lulus UAN.
Saya pernah.
Waktu itu standar nilai UAN adalah 4,01 dengan mata pelajaran yang diujikan adalah matematika, bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.
Saya gagal di matematika, dengan nilai 3,8.
Rasanya seperti apa ketika kabar buruk itu datang?
Seperti dapat vonis mati.
Iya. Memang begitu rasanya. Apalagi saya tahu berita itu lebih dahulu dibanding dengan teman-teman lain, yang notabene lulus semua. Bayangkan, sayalah satu-satunya siswa yang tidak lulus UAN tahun itu.
Tapi perasaan seperti ingin mati itu buru-buru dilawan oleh orang-orang terdekat saya. Ibu dan ayah, terutama. Mereka luar biasa memberi semangat dan menemani saya setiap saat. Mereka membangun kembali semangat saya yang telah runtuh. Saya 'dipaksa' berani datang ke sekolah, menemui guru dan teman-teman. Kalau ingat rasanya saat itu saya benar-benar kehilangan seluruh keberanian dan keyakinan.
Nyatanya, teman-teman dan para guru di sekolah sangat.. hebat. Mereka bersikap biasa, bukan mengasihani. Mereka menemani, bukan meninggalkan. Mereka mendoakan, bukan menggosipkan. Mereka membantu dengan tetap menjadi teman-teman saya.
Para guru juga luar biasa hebat. Saya merasa sangat disayang. Satu kejadian yang sangat mengharukan adalah ketika seorang guru agama menghampiri saya sambil menjabat erat tangan saya, begitu lama. Matanya menatap saya lekat-lekat dengan hangat tanpa berucap sepatah katapun. Entah kenapa, saya yakin saat itu ia sedang menyampaikan doa kepada Allah dihadapan saya di dalam hatinya. Karena saat itu juga hati saya terasa tenang.
Semangat saya kembali utuh. Saya benar-benar disiapkan untuk pertempuran berikutnya: ujian ulangan. Dengan bimbingan guru-guru sekolah dan guru bimbingan belajar, saya disiapkan secara teknis maupun mental.
Ketika hari ujian ulangan tiba, kepala sekolah dan wali kelas saya datang ke lokasi ujian. Mereka sholat dhuha untuk saya. Begitu yang diceritakan ibu saya yang juga ikut menemani selama ujian ulangan.
Menurut saya, ada keajaiban besar yang sepertinya mustahil terjadi ketika ujian ulangan tersebut. Saya merasa luar biasa tenang dan santai. Saya bahkan bisa bersenandung pelan ketika mengerjakan soal matematika yang selama ini menjadi momok besar dalam hidup saya (dan banyak orang lain di negara ini). Selain itu saya merasa seperti ada yang menunjukkan jawaban untuk beberapa soal sulit.
Akhirnya saya berhasil.
Kini saya juga berhasil menuliskan pengalaman pribadi saya ini untuk umum. Saya menulis ini tidak punya niat lain selain berbagi pengalaman. Saya ingin adik-adik yang sedang mengalami kesusahan hati akibat gagal UAN saat ini supaya bisa menerima kegagalan sebagai keberhasilan yang tertunda. Maaf, ini bukan frasa klise. Ini kenyataan. Maaf juga, saya bukan ingin sombong. Saya ingin memberi bukti bahwa saya bisa berhasil saat ini justru karena kegagalan di hari kemarin.
Tahu apa keberhasilan yang datang beberapa bulan setelah saya dinyatakan lulus dan setelah mengikuti SPMB? Saya diterima di salah satu perguruan tinggi negeri terbaik. Meski akhirnya saya mengambil program D3 di UI, saya cukup puas dengan apa yang saya raih beberapa bulan setelah kejatuhan saya karena UAN. Setelah itu, keberhasilan dan berkah Allah kepada saya datang bertubi-tubi. Luar biasa.
Kejadian itu telah mengubah hidup saya secara signifikan. Saya jadi lebih berani menghadapi masalah, lebih siap menghadapi kegagalan, dan lebih dewasa menghadapi orang-orang menyebalkan yang bisanya hanya menjatuhkan mental. Saya juga semakin mudah bersyukur, dan semakin yakin atas kuasa Allah. Saya belajar menghargai kesusahan sebagaimana menghargai kemudahan. Saya rasa saya jadi lebih dewasa di umur 18 tahun, hehehe.
Kalau ingin menunjuk siapa yang bertanggung jawab atas masalah UAN, tulisan saya bisa lebih panjang lagi. Sudahlah. Kita semua bertanggung jawab untuk bisa menjadi pendidik dan terdidik yang baik dan benar. Yang ingin saya tekankan adalah bahwa kegagalan UAN bukanlah akhir dari segalanya. Kita mungkin bisa merasa marah, malu, dan lain-lain. Kita mungkin terpancing untuk melakukan hal-hal bodoh yang justru akan merugikan diri sendiri dan orang-orang lain. Tapi bukan begitu cara menyelesaikannya.
Hadapi ujian susulan dengan berani. Persiapkan 'senjata' dan 'amunisi' yang lebih banyak, lebih lengkap dan lebih canggih dengan cara belajar dengan lebih giat. Pergunakan waktu yang ada untuk benar-benar belajar. Jangan buang-buang waktu dengan meratapi kegagalan karena itu sama sekali tidak ada gunanya.
Saya beruntung, sangat beruntung, memiliki keluarga, teman, dan guru yang begitu mendukung. Tapi saya tahu, di luar sana, mungkin banyak adik-adik yang tidak seberuntung saya. Dalam arti, mungkin orang-orang terdekat kalian justru lebih menghancurkan semangat kalian, alih-alih mendukung. Tinggalkan mereka, paling tidak untuk sementara. Konsentrasi pada diri sendiri dan ujian ulangan yang akan dihadapi. Percayalah bahwa mereka yang menghancurkan semangat bukanlah orang-orang yang harus bersama kalian.
Kegagalan adalah hal yang
SANGAT BIASA.
Kalian hanya belum tahu apa yang telah disiapkan Tuhan dibalik kegagalan itu. Nanti, beberapa tahun mendatang, ketika kalian telah mengetahui berkah dibalik kegagalan, yakinlah bahwa kalian akan sangat bersyukur atas kegagalan itu. Penyesalan tidak ada artinya. Bersyukur akan membuat hidup kalian lebih mudah.
Hubungi saya segera jika kalian perlu bicara mengenai hal ini, atau mungkin kalian punya adik, teman, atau kenalan yang butuh bicara dengan saya. Siapa tahu saya bisa sedikit membantu. Karena saya dulu dibantu dengan dukungan semangat dari orang-orang sekitar.
Semangat ya!
^^v
Bener. Kadang-kadang yang ujian UN itu suka udah jatuh mental duluan sebelum perang. Takut-takut kalo ga lulus dicap orang gagal.
ReplyDeleteYang heran, kadang-kadang ada guru yang malah nakut-nakutin. "Hayo, ini nilainya 4,01 lho, berat, hati-hati kalo ga lulus." Ya, ini kejadian di SMA saya.
Terakhir sih, mungkin pemerintahnya juga kali, ya. Naikin batas kelulusan tiap tahun, belom tentu berarti kualitas kecerdasan/kepintaran naik, kan? Ya, lebih baik mereka ga pukul rata, kebisaan anak-anak kan ga mungkin semuanya sama.
*PS: Sayang, pemerintah kita keseringan malas untuk berdetil-detil, malas capek, jadinya ya sistem pukul rata itu yang dipake...
ah nnisaaaaa... ini bikin terharu deh! *hugs* elo hebat bangeeeeet! *super hugs*
ReplyDeletebener nnis, kalau mau nyalahin siapa yang salah di UAN, itu bisa panjang. makanya gue heran ada yang ngeluarin statement "angka kelulusan UAN tahun ini menurun, karena siswa menjunjung tinggi kejujuran"
pertama, HELLOOOOO... lempar batu sembunyi tangan, deh! nggak mau disalahin banget, deh!
kedua, HELLOOOOOOO... YOU SEND THE WRONG MESSAGE TO THE KIDS! udahlah jangan bawa2 anak2nyaaaaa.... kalau mereka jujur, tandanya bagus, kan? nggak perlu pake disalah2in, kan? kalau gue jadi anak yang UAN, gue akan berpikir, oh kalau gitu lebih baik saya nggak usah jujur aja, ya. kan yang penting lulus.
entah apa yang ada di otak2 petinggi negara kita ya...
ini Loh KUNCI utama nya
ReplyDelete***
This is what I've been trying to tell the kids also.
ReplyDeletePleeeeeease jangan kelewat fokus sama sekolah. Secukupnya aja. Soalnya nilai-nilai itu pengaruhnya cuma sedikiiiiiit banget buat sisa hidup kalian nanti.
Ebtanas Bahasa Indonesia gue waktu SMP 5,0. Sekarang gue penulis. Penulis yang bisa bikin bos dan klien sama-sama hepi. Sukur-sukur kalo masyarakat hepi juga liat kerjaan gue.
Sekolah itu bukan jaminan.
Just go through the whole school thing as a little part of your life that you just have to go through. Bukan sesuatu yang jadi tolok ukur kualitas hidup lo ke depannya.
Thank you Nnisa for sharing :')
This comment (and this post) are specially dedicated to all the kids in the country. You've got MORE power than you think you do. Fuck the system. You're all great!!!!
kualitas sekolah, kurikulum, guru, murid dan departemen pendidikan yang harusnya dinaikkan.
ReplyDeletepelan-pelan generasinya hancur kalau salah kirim pesan mulu.. *sigh..
ReplyDeletemakanya aku nulis ini..
ReplyDeleteaku mau jadi pendukung mereka yang memang butuh dukungan :D
merdekaaaaaaaaaaaaaaa!!!
ReplyDeleteWow! Surprising and inspiring, Nnis. Kepsek, guru dan teman2mu baik, ya :) Terharu pas baca cerita tentang Kepsek dan guru yang sholat buat kamu. O well, school days. Pengalaman 15 tahun di sekolah, dari TK sampai SMA terasa jauh lebih miskin dibanding 5 tahun kuliah. Dan sekarang, ilmu yang didapat selama kuliah udah tergusur teknologi dan jaman. Dulu kita susah2 belajar iklan cetak, tv, radio. Sekarang? Yang rame malah iklan online dan website dan kita harus teteup belajar lagi kalau ga mau ketinggalan. Phew! Ayo berjuang :)
ReplyDeletehehehe.. iya.. makanya PR masih banyak banget niiih. .yang harus dibenahin makin banyak.. biar anak2 masa depan nanti bisa mengenyam pendidikan yang jauh lebih bermutu, biar bisa bikin Indonesia makin maju.
ReplyDeleteSEMANGAT SEMUANYA!!! :D
masih mending situ 'lanut beLajar'
ReplyDeleteLha,, ogut
maLah jd Pengangguran
:))
hehehe
lha.. pengangguran yang banyak orderannya kan? hehehe. jelas2 lo calon bos pengusaha fotografi, Pan. Iheeeyyy.
ReplyDelete