Thursday, May 13, 2010

Analogi Es Krim

Dulu, salah seorang teman baik pernah mengajak saya berdiskusi tentang sesuatu yang dia analogikan dengan "menggabung dua rasa es krim yang berbeda ke dalam satu cone". Untuk kasus itu, saya dengan tegas menolak penggabungan itu. Saya punya prinsip yang tidak bisa dia patahkan.

Sekarang, giliran saya ingin beranalogi lagi dengan penggabungan dua rasa es krim dalam satu cone. Tapi kali ini konteksnya berbeda.

Coba kita mulai dari menyetel sudut pandang. Mari lihat dari sudut pandang orang yang mengkonsumsi es krim.

Saya pribadi, entah kenapa, hanya terhadap es krim, tidak suka mencampur berbagai rasa dalam satu cone atau cup. Ketika dihadapkan kepada counter es krim dengan beragam pilihan rasa, saya hanya akan memilih satu rasa. Biasanya tidak jauh-jauh dari rasa standar, vanilla, cokelat, cookies and cream, atau coffee.

Saya punya alasan untuk tidak menggabungkannya dengan rasa lain. Saya ingin mendalami satu rasa itu dengan baik. Tidak mengintervensinya dengan 'kebahagiaan' yang bisa saya dapatkan dari es krim yang lain. Jika saya jenuh atau terbesit keinginan untuk mengintervensi kebahagiaan itu, biasanya saya hanya menambahkan topping. Itu pun harus yang menurut saya serasi, dan keserasian itu punya pakem-pakem tersendiri yang saya yakini. Misalnya, saya tidak akan menuangkan sirup strawberry di atas es krim cokelat.

Jika saya sudah terlalu lama dan sering menikmati es krim cokelat dan saya tidak bisa meninggalkannya, juga tidak bisa menggantinya dengan rasa lain, saya bisa saja menambahkan satu scoop es krim rasa lain ke dalam cone saya. Itupun kalau memang menurut saya cocok. Saya tidak akan menggabungkan es krim cokelat dengan es krim mint. Tetapi saya mungkin akan lebih bahagia menikmati es krim cokelat dan es krim vanilla secara bersamaan dibanding dengan hanya menikmati es krim cokelat.

Ini hanya masalah keyakinan dan kesiapan menghadapi perubahan dan intervensi kebahagiaan. Ketika saya merasa belum siap dan bahkan sama sekali tidak yakin, saya tidak akan pernah menggabungkan dua rasa es krim (atau tiga rasa mungkin) dalam satu cone. Cone saya tidak mampu menampung terlalu banyak kebahagiaan dalam satu waktu. Dia bisa cepat merembas dan es krim bisa cepat meleleh. Saya harus membagi kebahagiaan dalam kurung waktu yang lebih panjang, karena menurut saya, setiap rasa es krim punya tempat dan waktunya masing-masing.

6 comments:

  1. sayangnya hidup penuh rasa. dan kadang kita ga bisa milih mau eskrim yg mana saat ini...eh atau mungkin 2 rasa jadi satu rasa baru? ahahhaha sotoy berat

    ReplyDelete
  2. pake mangkok aje biar bisa nampung banyak ;)

    ReplyDelete
  3. hhhaha sometimes i feel like you have too many life principles in your life that you don't wanna break.

    i think having a strong personality is good, but sometimes trying something new and out of your plan can be exciting you know :)

    ReplyDelete