Friday, May 7, 2010

Friday Return The Favor

Kamis, 6 Mei 2010.

"Sa, kamu besok ikut ya volunteering ke rumah singgah Sahabat Anak. Sama Ditha." Kalimat mendadak itu diucapkan begitu ringan oleh Pak Bos.

"Lho, tapi saya kan hanya apply untuk ke Aceh, Mas.." Jawabku. Bukan mengelak dari tugas, hanya perlu kejelasan.

"Iya, nggak apa-apa. Besok kamu ikut juga. Berangkat dari kantor jam 8 pagi."

"Oh, okay," jawabku patuh.


Jumat, 7 Mei 2010.

"Teman-teman, nanti di sana dibagi menjadi tiga kelas: kelas bahasa Inggris, kelas ketrampilan, dan kelas memasak. Annisa, kamu yang pegang kelas bahasa Inggris ya.. ditemani Rani." Ketua rombongan memberi arahan singkat dan mendadak di dalam perjalanan kami ke rumah singgah Sahabat Anak.

Pertama kali kami sampai di sana, aku merasa bingung dan kikuk. Ada sekitar dua puluh anak di sana, dan semua tampak seperti apa yang sering kulihat di jalanan. Hanya saja mereka sangat sopan.

Aku menunggu di kelas bahasa Inggris. Empat orang anak masuk satu persatu dan duduk manis di kursi. Setelah perkenalan, mereka malah mengajakku naik ke ruangan atas.
"Enak, Kak.. Adem, ada AC-nya. Belajar di sana aja!"

Lalu aku digiring ke atas.

Bukan hanya keberadaan AC yang membuatku terkejut. Keberadaan tiga unit PC juga membuatku terperangah.

Tanpa persiapan, tanpa pengetahuan, aku mengajar Bahasa Inggris. Bingung dengan apa yang harus kuajarkan, aku bertanya kepada mereka.

"Kalian sudah belajar apa saja? Aku bingung nih.. Gimana kalau kalian aja yang tanya apapun sama aku, nanti aku jelaskan."

Mereka tertawa, terkejut dan hmm.. mungkin sedikit mengejekku. Guru dadakan yang tak siap, hahaha.

Kami belajar sebentar hanya 45 menit, karena sudah masuk waktu solat Jumat. Aku dan Rani hanya bersama dua anak laki-laki non muslim, satu anak perempuan, dan satu anak laki-laki muslim bernama Ilham yang belum baligh.

Ilham, yang dari awal tampak tak antusias, memilih untuk menggambar. Dia membuat cerita bergambar, lebih tepatnya.



Kami lalu berbincang. Soal keberadaan mereka di sana, soal guru-guru yang suka mengajar di sana, dan soal ketrampilan mereka.

Tanpa sadar, perbincangan terpaku di antara aku dan seorang anak bernama Ryan. Kami membicarakan soal musik yang sangat menarik perhatiannya. Dia bilang dia bisa main keyboard. Dia kesulitan menyanyi hanya karena liriknya yang sulit. Aku membuat catatan lirik lagu berbahasa Inggris untuknya. Kemudian dia menghilang. Tak lama Ryan kembali membawa keyboard. Dan, yeah.. bisa ditebak, kami malah jadi main keyboard bersama :D

Aku memainkan satu lagu klasik dan Ryan dengan cepat bisa mengikuti sepotong pertama.

"Aku pengen belajar klasik juga deh jadinya," ungkapnya.

Hatiku nelangsa. Anak ini berbakat, tapi keadaan tak memungkinkan baginya mendapatkan pendidikan musik yang layak. Jangankan pendidikan musik, pendidikan dasar saja sulit.

"Kakak punya bukunya? Bawain dong.."

Aku tersenyum. "Boleeh.. Dua minggu lagi aku bawain yaa tapi bukan aku yang bawa, temenku dari kantor yang bawa."

"Kakak nggak ke sini dua minggu lagi?"

Aku menggeleng. "Gilirannya lain."

"Yah.."

"Bukunya pasti aku titip kok!" jawabku dan dia tersenyum.

Pukul 13.30 kami makan siang bersama. Aku memilih untuk tidak makan. Biar jatahku dimakan anak-anak itu, pikirku. Toh ice cream cone yang tadi kubeli di jalan masih menyisakan energi untukku.

Setelah makan, seharusnya kami melanjutkan pelajaran. Tapi anak-anak itu terlihat tidak antusias. Hari itu panas sekali dan sebagian besar dari mereka memilih untuk tidur-tiduran di ruang atas. Ryan dan Amir, memilih untuk belajar akuntansi bersama Mba Mira, rekan kerjaku. Sementara aku diajak main oleh seorang anak paling kecil di sana.


Namanya Gracia. Umurnya sekitar 4 tahun. Anaknya pintar dan banyak bicara. Aku suka matanya yang besar dan cokelat. Kami menggambar, bermain lempar bola, dan mewarnai kuku-kuku kami dengan spidol. 




Gracia bersamaku sampai waktunya kami berpisah. Wajahnya berubah ketika aku bilang aku harus pulang. Dia memeluk kakiku erat-erat dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya menggenggam ujung kemejaku. Aku tidak dibiarkan pulang dengan mudah oleh anak manis itu!


Aku mendekap Gracia. Mengusap-usap rambut cokelatnya. Aku berbisik supaya dia jadi anak yang pintar dan baik.

"Aku pulang ya, Grace... Kamu jadi anak baik yaa.."

"Iya," jawabnya dengan lesu.

"Baik-baik sama kakak-kakak yang lain yaa.."

"Iya," jawabnya lagi.

Tercekat, tapi harus berpisah. Aku menyerahkan Gracia ke Ryan. Ryan menggendongnya dan menenangkan hati adiknya.

Dan perpisahan itu terjadi. T T

Aku hanya menghabiskan 4 jam di sana dan memang belum bisa berbaur dengan mereka. Tapi beberapa anak di sana telah menyentuh hatiku. Mereka punya kehidupan yang luar biasa keras dan berat, tapi mereka juga punya semangat untuk mendapatkan kembali hak-hak mereka sebagai anak. Mereka punya semangat yang tak terbendung untuk belajar.

Ini telah menjadi pengalaman yang luar biasa dalam hidupku, dan akan menjadi pengalaman untuk tugas yang akan menanti selanjutnya di Aceh.

Sesampainya kami kembali ke kantor, rasa lelah luar biasa dan lapar baru terasa. Teman-teman kantor antusias mendengar ceritaku. Tari membagi chocolate pops untuk dimakan bersama, lumayan untuk mengisi perut kosongku. Tetapi yang benar-benar menyelamatkanku dari lapar dan sakit magh adalah ini...


Bekal makan siang Arief! Hehehehehe

"Gue tadi makan siang habis solat Jumat di kantin Giant, Nnis. Ini masih utuh, lo makan aja," ujarnya sambil menyerahkan kotak makannya yang masih terbungkus kantong plastik.

Mataku berbinar-binar. Caesar menyebutnya dengan 'melotot', hahaha.

"Beneran, Rief? Bukannya lo mau makan buat makan sore?"

"Nggak. Udah makan aja."

Heran juga aku. Bekalnya masih hangat, atau perasaanku saja?

Aku menatap bekal itu. "Nasinya banyak banget, Rief!"

"Habisin, Nnis. Nanti nasinya nangis!" kelakarnya sambil berlalu begitu saja.

Sore itu, aku lelah luar biasa tapi bahagia. Sambil menyantap bekal dari kebaikan Arief, aku meneruskan cerita pengalaman hari itu kepada Uchil, Caesar, Arief dan Tari.

Di akhir semuanya, aku berpikir.

Ini adalah hari yang baik. Kebaikan dibalas dengan kebaikan, dan begitu seterusnya. Aku mau terus membalas kebaikan dengan kebaikan, seperti yang telah terjadi hari ini.

7 comments:

  1. kadang-kadang mengagumkan bagaimana kepolosan anak-anak mampu mengubah tekad hidup seseorang dan jadi jauh lebih bermakna daripada nasehat orang yg paling bijak. Ya, kebaikan akan dibalas dengan kebaikan... Tuhan maha adil kan? bicara soal perhatian dan kasih sayang sama sesama, kalau kata temen gw Niss "manusia bisa pilih kasih, tapi Tuhan tidak". hehe mungkin saatnya kita lebih peduli sama sesama yaa.

    ReplyDelete
  2. insya Allah... doakan yaaa... masih tahap seleksi di lt.4.. ^^

    ReplyDelete
  3. Dalam rangka apa sih? Seru banget kayaknya.. Merinding bacanyaa x)

    ReplyDelete
  4. masa sampe merinding sih, raa? hahahahaha..
    emang event tahunan kantor, kirim staff-nya buat jadi sukarelawan. Untuk yang ke Aceh insya Allah awal Juni ini. Doakan yaaa.. aku butuh pencerahan banget nih! haha..

    ReplyDelete