Tuesday, November 18, 2008

Suatu Sore

Aku duduk menunggu wajah-wajah yang kukenal untuk menemaniku disini. Butuh waktu bagiku untuk menyadari dan mengerti bahwa kesendirian adalah sesuatu yang paling kutakuti dan juga paling bisa kuatasi. Maka, disinilah aku bicara, eh, maksudnya menulis kata demi kata, frase-frase yang tidak begitu penting.

Hujan tiba-tiba turun dan aku bersyukur tidak meninggalkan jaket  di rumah. Jaket tua itu telah menjadi bagian penting dalam hidupku. Jaket itu memberikan terlalu banyak kenyamanan, tapi itulah yang menjadi hal penting yang belakangan kubutuhkan: kenyamanan.

Aku mencoba bicara, melantur, tapi biarlah. Paling tidak, aku sudah mencoba. Mencoba untuk membuat diriku sibuk ditengah-tengah kerumunan orang yang benar-benar sibuk. Supaya mereka tidak melihatku sendirian, menganggur, dan menyedihkan karena menunggu kehadiran teman-teman.

Sebenarnya, aku tidak benar-benar menantikan teman-teman. Aku sayang mereka, tetapi satu yang membuatku menunggu kali ini, kemarin, dan mungkin besok juga, adalah seseorang, bukan teman, belum. Dia orang asing, dan kalian tidak bisa menjadikan orang asing sebagai teman begitu saja bukan?

Saat ini, aku menikmati perasaan aneh yang muncul ketika dia ada. Jantung berdetak lebih cepat dan keras, dan entah sampai kapan bisa kutahan. Kira-kira, apa yang akan menjadi permulaan kami ya? Entahlah. Apakah akan ada permulaan? Atau, akan terus tak tergambarkan seperti ini?

Oh, kenapa aku menuliskannya disini?? Hahahahaha...

Ok, salah satu dari temanku datang, dan aku tidak ingin dia mengolok-olok melankolisme yang sedang merundung ini, hehe.

Kami berbincang sebentar, aku dan temanku itu. Kemudian hujan berhenti, dan tak lama ia juga pergi. Menghampiri bagian barunya yang sedang penuh warna warni.

Aku sendiri lagi. Sayang sekali, aku bahkan tak tahu apa lagi yang harus ditulis. Atau... haruskah aku merengek tentang bagaimana aku menyesal telah memangkas rambutku? Terlihat berantakan, padahal aku memang sudah berantakan, jadi sebetulnya aku tak lagi butuh sesuatu yang bisa membuatku tambah berantakan, hehehe.

Lalu... ditengah kebosanan yang semakin menjadi-jadi... meski masih ingin merengek soal rambut, tiba-tiba muncul hal yang lebih penting.

Kehadirannya. Dia datang, dan sensasi itu lagi-lagi begitu mengganggu.

Aku harus bagaimana?? Sementara teman-teman berdatangan dan mulai mengisi ruang dan waktu dengan celotehan dan gelak tawa. Aku ikut terlibat, dalam celotehan itu, dan dalam gelak tawa. Tetapi, aku sesungguhnya ingin sendiri, meski berjarak 4 meter darinya, aku ingin sendiri bersamanya.

Mungkin besok?

11 comments:

  1. ini post kok ya 'for everyone'... -_-'

    ReplyDelete
  2. hmm jadi nnisa ga seneng nih gw dateng?? cukup tau dehh :p

    ReplyDelete
  3. jaket itu ya?

    yang warnanya sama kaya jaket gw, dan gw suka banget warna itu...
    lo pake terus dari semester 1...
    biasanya nenteng tas adidas wana biru muda....
    cuma tasnya udah ga ada lagi....
    udah diganti sama tas mickey mouse...

    hufff..........
    makin sulit diterka

    ReplyDelete
  4. dania: apaan??

    rara: gue ga suka menutupi sesuatu yang harus ditutup2i... lagian, emang kenapa kalo buat everyone?? ga ada yang bener2 tau kecuali gue sendiri, hahahahahahahahaahahaha

    heidy: ngambeeeek?!?!?!

    rifki:ga ngerti gue!!

    ReplyDelete
  5. ralat, Sut! gue ngerti paragraf tengah...
    tapi, paragraf terakhir?? apaan??

    ReplyDelete
  6. maca ciiiiiihhhhhh ;;);;)
    kalo gitu cerita2 dooooooongngngng :P

    ReplyDelete
  7. wekekekekekekhhhh

    eh eh, itu pasti abang-abang yg jual teh botol sosro itu yak?
    yg bikin lo deg-degan...

    ReplyDelete
  8. rara: hush!!

    rifki: hush hush husssssh~~!!!

    ReplyDelete