Gue lagi ga mau jadi orang yang penuh semangat dan berjiwa positif malam ini, karena sepanjang hari, terlalu banyak kejadian buruk yang bikin mood jadi berantakan.
Diawali dari tumbler yang tertinggal di mobil, menyebabkan gue harus rela bikin kopi di kantor atau beli di kantin. Sampai kantor, air panas ga mateng-mateng, sampe jam setengah 10 pagi sementara rasanya mata (dan semangat) udah harus ditendang kafein. Akhirnya gue memutuskan untuk menyusul Ditha dan Uchil ke kantin. Hanya 3 menit, kemudian terjadilah insiden ketika Uchil, Ditha, dan Mas Ate sadar bahwa gue... ternyata pakai baju yang setipe dengan OB. Mau detilnya? Oke...
Wardrobe nnisa: polo shirt off white, cargo hijau tua (hijau army), sneakers putih andalan.
Wardrobe OB: kemeja off white, celana bahan ijo.
Hari ini adalah hari pertama para OB mengenakan seragam baru itu, jadi mana gue tau??? Lagian, mengutip pertanyaannya Mas Ate, "kok lo bisa-bisanya sih, Bo, pakenya samaan gitu?" dan gue hanya bisa menjawab dengan histeris, "MANA GUE TAUUUU?!?"
Habislah.
Sepanjang hari habis dicela anak-anak, seisi ruangan plus Mas Ate (yang notabene dari lantai satu).
Belum selesai. Kebetulan juga hari ini gue ga bawa bekal makan siang, jadi terpaksa harus makan siang di bawah... Panas menyengat, tapi gue rela pake jaket hitam supaya mereka berhenti meledek. Berhenti meledek? Nggak juga sih.
Setelah itu, seperti biasa, pekerjaan sepi-sepi aja. Gue dan Meiph udah bikin janji mau ketemu pulang kantor di Poins, jadi saat itu sangat berharap semoga ga dikasih kerjaan di penghujung jam pulang. Ternyata, datanglah pekerjaan yang tidak penting, plus... revisian buku yang tak kunjung usai.
Gue selesai mengerjakan semuanya (kecuali revisi buku yang ditunda sampai besok) pada pukul 17.30 dan sangat terkejut ketika ingat bahwa Trans Bintaro punya jadwal sendiri. 17.40 berangkat dari BTC. Langsung ngebut beres-beres dan berhasil keluar kantor pukul 17.35. Sempat dapat bus? Tidak. Terpaksa menunggu dengan dongkol sampai bus berikutnya pukul 18.10. Hebat.
Akhirnya, gue sampai di Poins pukul 18.35. Meiph sudah menunggu dengan manis di kursi A&W. Gue hanya sempat menumpahkan keluh kesah (masih soal seragam OB dan pekerjaan 'tukang ketik') selama lima menit, kemudian kami memutuskan untuk sholat maghrib. Setelah sholat, apa yang terjadi? Mama telepon dan bilang bahwa dia sudah sampai di Poins, untuk menjemputku.
GREAT.
GREAT.
GREAT.
Kenapa harus dijemput? Kan tadi udah bilang bakal pulang sendiri, entah naik apa... naik D15 juga gampang, kalo males jalan ke terminal bisa naik taksi. Kenapa?
Udah. Gue udah ga perlu lagi alasan yang dimulai dengan "tapi kan nyokap lo..." karena gue udah tau semua kalimat macam apa yang akan kalian ungkapkan. Ini bukan soal perhatian atau kekhawatiran atau segala macem. Ini soal betapa gue telah melewati segala halang rintangan untuk menuju satu hal yang bisa membuat hari gue lebih baik (ketemu seorang sahabat dan berbagi cerita) tapi ternyata digagalkan dengan cara yang *sigh* begini.
Game over. Jagoannya mati. Nyawanya abis dimakan anak-anak kantor, bus trans bintaro, serta mama dan papa.
Jagoan yang satunya mendadak dapet panggilan jadi kalong. Ga bisa nemenin jagoan yang ini. :P
ReplyDelete:'(
ReplyDelete*hugs* maaf ya, kita ngeldekin elo kemarin... *bungkuk minta maaf*
ReplyDeletebukan masalah besar kok dania, cuma emang bikin bete aja.. lagian gue juga nyesel sendiri, kenapa milih setelan itu, hahahaha... ga lagi deh.. :P
ReplyDeletehaha history repeat itself...dududu
ReplyDeletemaksud lo???
ReplyDeleteyou're not the only one wokwokwokw
ReplyDeletenengnong! kita ganti di hari lain yuk. aku pun masih rinduuu :*
ReplyDeleteminggu depan yaaa... abis urusan abang beres.. okeee? weekend tapi neng, biar punya banyak waktu..
ReplyDeletehiiii kalo gue yang menyumpah serapah, dimarahin.. diceramahin.. kalo pacarnya yang lagi ngambek, disayang-sayaaang... *ya iyalah ra!* #ngirimodeon
ReplyDeleteahuahuahauhauhauhauhauhaua...
ReplyDeleteno comment aaaah... :P